Selasa, 01 Januari 2019

2018. Tahun yang berbekas.

Menjelang pergantian tahun ini, alhamdulillah Saya berteman baik dengannya. 2018, tahun dimana begitu banyak kenangan dan tantangan yang berhasil kulewati. Rasa-rasanya ada banyak canda tawa, kesedihan, pilu, marah, kecewa, hancur, bahagia. Beberapa diantaranya masih berbekas dalam ingatan, dan yang lainnya pun telah hilang entah kemana. Kenangan-kenangan itu, kutuangkan dalam bentuk tulisan, sehingga kiranya Saya rindu untuk kembali berpetualang dalam cerita itu, Saya bisa membacanya dan mencoba masuk lagi dalam kenangan. Semoga teman-teman yang membaca ini bisa termotivasi atau setidaknya terhibur sedikit dengan kisah Saya di 2018 ini. Apa saja hal yang berkesan? yukk..



1. Sebulan menjaga Toko Grosiran

Di awal 2018 lalu, Saya mencoba merasakan sesuatu yang beda. Tepat pada tanggal 30 Desember 2017, Rencana awal hanya berdiam selama 3 hari disini. Dengan bermodalkan 3 pasang baju rumahan dan 2 pasang baju jalan-jalan saya pun berangkat menuju Bulukumba, yap kampung halaman. Namun, kali ini liburanku beda. Tak seperti diliburan sebelumnya. Bukan ke pantai, ke gunung, berpetualang dialam bebas, atau sekedar menghabiskan waktu di mall. Liburan ku kali ini yah, membantu tanteku untuk mencari uang dengan cara menjaga toko grosiran di sekitar Bulukumba Kota. Awalnya Saya menolak. Saya tidak ingin liburan Saya dihabiskan untuk hal-hal yang tidak membuatku senang. Tapi, orangtua ku berpesan, 

"ini kesempatan. Begitu banyak orang yang ingin bekerja namun belum bertemu dengan pekerjaannya. Lagipula, dari sini kau bisa belajar banyak hal. Kau bisa belajar merasakan susahnya mencari uang sendiri, belajar bagaimana teknik berdagang yang baik, dan tak lupa juga disini kau belajar bagaimana bersosialisasi yang baik dengan orang yang baru kau kenal" Kata mereka.



Selama di Bulukumba saya diberikan amanah untuk menjaga toko namanya "Fajar Utama" yang berlokasi di Jl. Sam Ratulangi Bulukumba (didepan kompleks Bontokamase). Yang saya ingin ceritakan dari moment kali ini adalah saya memaknai beberapa point penting tentang kehidupan. Disini saya belajar tentang bagaimana sulitnya sebuah perjuangan untuk terus melanjutkan hidup. Tentang bagaimana belajar keikhlasan. Tentang bagaimana memaknai sabar dari segala aspek. Tentang bagaimana belajar menahan dari segala kesempatan yang menggoda. Tentang bagaimana bisa terlibat langsung dalam kehidupan yang selama ini berbanding terbalik dengan kehidupanmu biasanya. Tentang bagaimana keluar dari zona nyaman. Dan tentang bagaimana mendapatkan rindu dari orang-orang yang tak kau duga sebelumnya.


2. KKN di Lokasi yang luar biasa

Jangan ditanyakan lagi. Ini salah satu hal yang paling bersejarah di dalam hidupku. Dengan melewati kenangan ini, pertemanan dan kekeluargaan Saya semakin meluas.

Tepat pada tanggal 28 juni 2018, Saya melangkahkan kaki. Menuju ke titik yang belum pernah kupijaki dan dari sinilah, sebuah perjalanan manis Saya mulai. Dengan ucapan Bismillahirrohmanirrohim dan restu orangtua beserta semua wejangannya, Saya berangkat.

Ada banyak kisah yang menurutku belum tentu bisa kujumpai lagi. Sangkara’Na dengan anak-anak  gadis yang cantik dan Bahoturungang dengan Pemudanya yang luar biasa jiwa petualangannya serta Desa Mamampang dengan warga dan anak-anak kecil yang membuatku tidak bisa lupa dengan Desa ini. Desa yang dilangitnya bertabur milyaran bintang. Cantik, indah dan mempesona. Langit yang menjadi latarku melewati malam-malam yang luar biasa.

Menjadi mahasiswa KKN memang tidak mudah. Harus menyesuaikan diri dengan cepat dan tepat. Membuang ego dan menempatkan diri sesuai harapan masyarakat sekitar. Tak hanya itu, kita membawa nama almamater kampus, membawa nama keluarga, agama dan terutama membawa nama sendiri. Tinggalkan kesan baik selama di sana dan teruslah menjaga komunikasi dengan warga sekitar bahkan sampai kau sudah tidak terikat oleh kuliah kerja nyata. Sebenarnya cukup mudah, berusahalah menjadi pribadi yang rendah hati dan santun. Insyaa Allah, mereka akan merindukan kehadiranmu lagi.

Ahh.. Tak cukup ruang untuk menceritakan kenangan ini. Jika masih penasaran dengan kisahku yang satu ini, Silahkan dibeli bukunya "Story of Mamampang

3. Menjadi Koordinator Asisten Praktikum DDA

Alhamdulillah segala rangkaian praktikum DDA telah kulalui. Satu pengalaman luar biasa yang telah kujalani. Meski mungkin jauh dari kata sempurna, setidaknya kita sudah berikan yang terbaik. Terima kasih banyak untuk semua asisten yang sudah relakan waktu, tenaga dan pikirannya untuk mendampingi praktikan masing-masing semaksimal mungkin. Maaf kalau saya jauh dari kata sempurna dalam mengambil keputusan atau apapun itu. Sejujurnya belum pantas saya memimpin tapi yah berkat bantuannya kalian Saya bisa tetap melangkah.


Minta maaf yang sebesar besarnya dari saya yang sering kali timbul tenggelam emosinya, semoga dimaklumi. Satuji pesanku, semoga tetap saling menyapa jika bertemu dimanapun kapanpun dan juga saranku, harus tetap jdi asisten dda. Karena jujur dda ini keren skali, beda betul dengan praktikum lain terutama asisten nyaa. Rasanya masih ingin lebih lama, tapi apalah daya toami ramang hehe. Inilah kami, 21 org dengan segala karakter yang berbeda. Pokoknyaaa senang bekerja sama dengan kaliann. Sekali lagi maaf atas ketidaksempurnaan saya dalam memimpin dan terima kasih banyak atas bantuannyaa.


Teruntuk adik adik praktikan DDA 2018 (Tekper17 dan Agribisnis18)

Selamat adik adik, telah melewati satu praktikum yaitu Dasar-dasar Agronomi. Saya mewakili teman teman asisten yang lain juga meminta maaf karena mungkin terlalu banyak menyusahkan, mengecewakan, mengundang kesal atau apapun itu dan juga terima kasih kepada adik adik yang masih tetap setia dari awal praktikum sampai berjuang menuju ujian lab. Meskipun tdk bisa dipungkiri setiap manusia pasti punya kesalahan, mohon dilapangkan dan dimaafkan dek. Semoga ilmu yang kami berikan bisa berdampak positif kepada kalian, semoga tetap ada yang bisa kalian ambil dari kami.
Saran saya, tetap hargai org lain, siapapun itu. Tetap jujur meskipun kesalahannya fatal. Bukan bermaksud mengeksiskan diri tapi Jika bertemu dijalan atau dimanapun itu tetap sapa kami, agar tetap baik komunikasinya. Meskipun tdk bisa dipungkiri mungkin asisten atau dari kalian masing-masing akan terlupa. Selamat sekali lagi bagi kalian yang berhasil melewati masa-masa sulit ber-DDA dan mohon maaf bagi yang belum berhasil, karena hanya yang berusaha lah yang akan berjaya. Tetap semangat dan jangan berputus asa, masih ada kesempatan dek. Silakan tiru hal-hal baik dari kami dan jangan ambil hal buruknya. Semoga kedepannya kalian bisa lebih menghargai asisten praktikum lain, krna belum tentu asisten yang kalian temui setelahnya bisa diajak kompromi ataupun sebaliknya. Senang bisa menjadi asisten kalian. Sekali lagi, Mohon maaf, Terima Kasih dan Selamat, diks!

Itulah 3 hal besar,3 pengalaman luar biasa yang sampai saat ini masih berbekas dalam ingatan. Terima kasih banyak untuk Allah atas kekuatan untuk menjalani semuanya. Untuk semua orang, semesta dan lingkungan yang sangat bersahabat selama ditahun 2018 ini. Untuk semua orangpun yang pernah tersakiti karena perlakuan dan ucapan, mohon dilapangkan. Semoga Saya bisa bersahabat dengan 2019 dan  mampu menciptakan kenangan lebih banyak lagi. Aamiin...

#Alifah Nurkhairina
#2019Gantistatus

Rabu, 31 Oktober 2018

Story of Mamampang

Kurang lebih 5 tahun terakhir ini Saya sangat menyukai dunia kepenulisan. Entah itu menulis di buku catatan, di media sosial atau di blog pribadi Saya ini. Berbagai hal Saya tulis. Dari hal yang menurutku menarik hingga hal yang tidak begitu berfaedah. Yah, terkadang hal yang kita anggap sepele ternyata punya kekuatan yang jauh diluar dugaan.


Kurang lebih 3 tahun terakhir, Saya sangat berambisi untuk membukukan sebuah karya. Namun karena keterbatasan ide dan hal-hal yang bisa kuceritakan, maka mimpi itu Saya biarkan dulu tersimpan rapi didalam angan. Hingga di tahun 2018 tepatnya pasca KKN, Saya menemukan sesuatu yang menarik dan ingin kuberitahukan ke orang banyak tentang sesuatu yang Saya temukan setelahnya.

Bahwa setelah melepas masa KKN, rupanya sebagai manusia biasa kenangan itu masih terbayang-bayang. Sehingga Saya memberanikan diri untuk menulis semua kenangan yang masih berbekas. Mumpung masih belum hilang dalam ingatan hehe. Singkat cerita, cukup waktu 2 minggu untuk merampungkan tulisan Saya. Memang betul, seperti ide itu mengalir lancar lalu kutuangkan dalam bentuk tulisan. Maka, pada bulan Oktober ini Saya yang dibantu oleh Jariah Publishing mencoba membangun mimpi yang selama ini kusimpan rapi dalam angan. Alhamdulillah..

Desain Cover 



Buku pertamaku. Mungkin jauh dari kata sempurna dan layak, tapi Saya punya niat yang lain. Selain menjadi batu loncatan Saya untuk mencoba menjadi penulis pemula, Saya juga ingin agar Desa Mamampang ini lebih dikenal oleh banyak orang. Desa yang sudah kujelaskan dalam buku "Story of Mamampang" ini sudah berhasil membantuku melihat sisi Indonesia dari sudut pandang lain. Terima kasih, Mamampang kalian telah berhasil mewujudkan salah satu mimpiku.




Untuk yang penasaran atau sekedar ingin tau kenapa Saya memilih menerbitkan buku pertama Saya dengan judul ini, Yukk... Diorder bukunyaa hihihi. Yang berminat bisa chat pribadi atau koment dibawah ini untuk tanya harga juga, silahkan koment.. Semoga kita semua diberikan rezki yang baik dari Allah SWT. Aamiin..

Yukk diorder... ^^


Contact person: 089624405810 (Ina)

Sabtu, 20 Oktober 2018

Kisah 25 Tahun




Tanggal 20 Oktober 1993. Tepat, 25 tahun yang lalu. Dua insan telah saling berjanji untuk menua bersama. Hari ini, mereka memasuki tahun Perkawinan Perak. Dua insan telah berani untuk memulai kehidupan baru. Dibawah tenda biru, mereka pun terlihat haru.

Memasuki tahun ke-25. Sebuah pencapaian yang tidak mudah. Segala macam lika-liku hidup sudah menerpa dan alhamdulillah ikrar itu masih tetap kokoh dan ada. Tangis dan bahagia, mereka tetap bersama. Saling menguatkan, saling mengingatkan. Cinta yang hadir dari awal mereka jumpa tak berkurang melainkan bertambah. Disetiap harinya, cinta dan sayang itu semakin besar. Ditambah lagi dengan kehadiran 4 buah hati (sebenarnya 6, tapi 2 saudara Saya meninggal dalam kandungan). Mereka bilang, kebahagiaan kami nyaris sempurna.

Selama ini, Ayah dan Mama selalu menegaskan bahwa mereka tidak hanya akan mewariskan harta benda. Tapi mereka lebih memilih untuk mewariskan ilmu. Karena ilmu adalah sebaik-baiknya warisan. Ilmu tak akan habis, ilmu berguna kapan saja dan dimanasaja.

Berbicara tentang ilmu, kami diharuskan untuk terus melanjutkan sekolah. Akademik memang perlu. Ayah dan Mama berprinsip "Selama kalian masih ingin sekolah, kami akan dukung sepenuhnya". Namun, dijaman sekarang rupanya belajar dibangku sekolah/kuliah tidak menjamin kita bisa memperoleh ilmu sepenuhnya. Ada beberapa ilmu memang yang tidak kita dapat dalam bangku sekolah contohnya saja ilmu penerapannya. Selama ini kita hanya belajar tentang teori saja tanpa pernah merasakan bagaimana terjun langsung kelapangan. Maka dari itu, Orang tua kami tidak luput begitu saja. Mereka tetap ada untuk membimbing kami, menjadi manusia yang mampu bersosialisasi dengan baik.

Ilmu yang paling nampak yang diwariskan dari Ayah dan Mama adalah ilmu berbisnis. Ayah, seorang anak desa yang besar bersama alam. Beliau tumbuh dengan segala kesederhanaan. Menjalani hidup alakadarnya. Dengan segala keterbatasan, hal tersebut tidak begitu saja menjadi alasan senyumnya hilang. Sejak kecil beliau sudah berkenalan dengan dunia bisnis. Ibunya, bekerja sebagai tukang jahit dan Bapaknya bekerja sebagai guru. Melihat hal ini, jiwa bisnis Ayah semakin menggila. Segala macam usaha pernah beliau coba. Mulai dari bisnis percetakan undangan, bisnis jual beli motor bekas, ekspedisi barang-barang sembako dan masih banyak yang lainnya. Demi melanjutkan hidup, kerjaan apapun akan Ayah lakukan selama itu halal dan bisa menyenangkan keluarga.

Mama, terlahir sebagai orang yang "berada" pada jamannya. Di era tahun 80-an punya rumah bertingkat, punya mobil, punya bisnis keluarga cukup menjelaskan bahwa keluarga mereka memang sejahtera. Lantas, tidak begitu saja Mama dimanjakan dengan harta. Meski berkecukupan, Mama dan saudara-saudaranya dituntut untuk tetap mandiri dan berusaha untuk belajar bagaimana mencari rupiah demi rupiah. Mereka diperkenalkan dengan arti penting sebuah perjuangan.

Mereka lalu bertemu. Perjuangan Ayah demi mendapatkan wanita idamannya tidak semulus kelihatannya. Berkat doa dan usaha yang tak henti, akhirnya Allah menjawab doa mereka. Dua orang pengusaha ulung, disatukan. Lalu, untuk mempermanis perjalanan cinta, mereka berpontang panting berbisnis untuk melanjutkan hidup. Mulai dari bisnis kecil, Menjual kue. Mama membuat kue, Ayah yang mempromosikannya. Meski sederhana, hal ini yang membuat mereka semakin dekat satu sama lain. Berdua dalam segala keterbatasan, kurasa inilah salah satu bentuk realisasi dari ungkapan cinta.

Setelah itu, mereka melahirkan 4 orang anak yang sangat disayangi. Memang benar kata pribahasa "buah jatuh tak jauh dari pohonnya". Berangkat dari orangtua yang menggilai dunia bisnis, anak-anaknya pun tak kalah antusiasnya. Saya dan ketiga saudara Saya (Kak Tomy, Fachry, Anul), sudah mencoba berbagai macam bisnis/usaha. Melihat orang tua kami yang begitu bersemangat dalam berbisnis, kamipun merasa terpanggil. Masing-masing dari kami sudah pernah merasakan bagaimana mendapatkan uang dari hasil keringat sendiri. Setelah itu, pendapatan pertama kami dari hasil bisnis kami, kemudian diberikan kepada Mama untuk disimpan, berapapun, sekecil apapun. Mama menyimpan dengan baik uang pertama kami sampai sekarang.


Kak Tomy, Ina, Fachry dan Anul


Setelah itu masing-masing dari kami dibiarkan berkembang. Terserah. Kami diberi kebebasan untuk mencoba apa saja dan dimana saja peruntungan kami. Dari kecil memang sudah terlihat jiwa bisnis kami. Menawarkan barang dan jasa, apapun pernah kami lalui. Kami tak pernah malu untuk berbisnis, meskipun bisnis tersebut terkadang diremehkan oleh sebagian orang. Mungkin karena sudah tertanam dalam jiwa, bahwa uang hasil jerih payah sendiri lebih terasa nikmatnya meski hanya untung sedikit. Ayah dan Mama juga selalu berpesan, bahwa seorang pengusaha itu pasti pernah mengalami kerugian, tinggal kita menyikapinya bagaimana, entah melanjutkan atau tetap jatuh dan meninggalkan.

Bahwa berbisnis itu tentang kesabaran, ketekunan dan kejujuran. Tentang bagaimana sikap dan perlakuan menjadi seorang pengusaha kepada orang lainpun, kami tidak luput dari bimbingan mereka. Dan tak lupa juga, Ayah dan Mama selalu mengingatkan agar selalu melibatkan Allah dalam setiap aktivitas kita. Harus selalu bersyukur dan jangan lupa membelanjakan sebagian harta benda kepada orang yang lebih membutuhkan, Insyaa Allah berkah.

Bahwa tidak ada lagi hal yang lebih baik diwariskan katanya, selain ilmu. Ilmu yang luar biasa, memang benar ilmu ini tak pernah kudapat di bangku kuliah. Terima kasih kepada Allah karenanya kami dikaruniai orang tua yang begitu hebat. Usaha dan keringatnya, mengajarkan kami bahwa tidak pernah sekalipun kami sanggup membalas semua jerih payahnya. Mereka mengajarkan kepada kami, bahwa hidup itu tentang berjuang. Berjuang menjemput sukses, menuju hari tua yang menjanjikan.


Celengan sederhana kami.



Untuk Ayah, terima kasih telah menjadi panutan. Terima kasih karena tidak terpengaruh dengan pergaulan bebas saat masa mudamu meskipun kau berkawan dengan banyak perokok tapi kau tetap memilih tidak mengkonsumsinya. Terima kasih telah memilih seorang Ibu yang penyayang untuk kami. Terima kasih telah setia mendampingi Ibu kami. Semoga Saya juga masih bisa menemui lelaki seperti Ayah. Semoga Saya seberuntung Mama.

Untuk Mama, terima kasih atas segala doa disepanjang nafasmu. Beliau sering sekali berpesan kepada anak gadis satu-satunya ini bahwa, sebagai seorang wanita kita harus punya prinsip. Bahwa kita harus pandai bersosialisasi, membuat orang disekitar kita bahagia dengan cara yang elegan. Terutama lagi dalam memilih pasangan. Carilah yang sifatnya seperti Ayah. Yang mudah bergaul, tapi tetap tau batasan. Terima kasih karena sudah menjadi wanita panutanku. Terima kasih atas belaian lembut dari tangan halusmu. Terima kasih telah setia bersama Ayah dan menjadikan Ayah orang yang beruntung karena telah memilihmu.

Ayah dan Mama, teruslah menua bersama. Terima kasih telah mengajarkan pelajaran yang luar biasa. Kisah inspiratif dari kalian, akan kami bingkai untuk kado masa depan. Kuharap masih ada tahun-tahun kedepan yang lebih bermakna. Selamat mengulang hari bahagia. Semoga bahagia selalu menyertai keluarga kita.


Gowa, 19 Oktober 2018
Jumat, 20.18 WITA
#Alifah Nurkhairina









Kamis, 20 September 2018

Perlukah sendiri?

Malam ini, kacau pikiranku. entah karena apa juga aku belum paham.
Berkali-kali kegiatan yang kusenangi kumainkan, tapi nyatanya aku masih kacau.
Alternatif lain, kuhubungi temanku. Siapapun yang sedang aktif di sosmednya. Ternyata tidak seorangpun yang merespon baik. Mereka hanya merespon seadanya. Oh, iya, kasian, sabar. Hanya itu yang terlontar dari mereka.

Mungkin ada yang pernah merasa seperti ini? Seperti seolah-olah sedang ada beban tapi saking banyaknya sampai bingung sendiri harus bagaimana. Memang betul. Meskipun kita terlahir sebagai makhluk sosial, tapi rasanya kita memang perlu waktu untuk sendiri. Sendiri disini maksudnya, memberikan ruang untuk diri tanpa adanya orang lain atau yang biasa kita sebut "Me Time". Biasanya hal ini kita jumpai saat kita sedang ada pikiran atau sebaliknya, kita sedang malas untuk mengurusi sesuatu. Seperti sedang ingin keluar dari rutinitas yang membosankan.

Saya sering mendapati momen seperti ini. Meskipun sedang berada dalam keramaian terkadang jika merasa bosan, Saya memilih untuk menjauh dari lokasi dan mencari kesunyian. Mungkin oleh sebagian temanku menganggap Saya tak suka dengan pesta ataupun segala hal yang menyangkut tentang kebisingan. Saya tidak ingin memaksa diri. Jika memang ingin sendiri, Saya akan bergegas pergi. Lalu menempatkan diri di bagian tersepi.

KENAPA INGIN SENDIRI?

Menurut Saya pribadi, Ada beberapa alasan kenapa kita terkadang lagi ingin sendiri:

1. Mungkin kita sedang lelah untuk berinteraksi dengan yang lain.
Memang betul kita juga butuh istirahat tanpa adanya gangguan dari apapun dan dari siapapun. Kita terlalu lelah bertemu dengan berjuta sifat yang mungkin saja berpotensi untuk menyakiti diri kita. Jadi, kita diizinkan untuk menjauh dari mereka dengan menyendiri dulu.

2. Alasan selanjutnya, sendiri membuat kita memiliki lebih banyak waktu untuk mencari atau mendapatkan inspirasi.
Karena dengan sendiri kita mampu untuk lebih fokus terhadap suatu hal. Dengan sendiri, kita memberikan kesempatan mengasah kepercayaan diri kita, tanpa bantuan orang lain.

3. Kita hanya ingin memberikan kesempatan untuk diri kita melakukan hal-hal yang tidak bisa kita kerjakan jika berada ditengah-tengah keramaian.
Well, alasan ini terkadang membuat kita lebih bebas mengekspresikan diri. Apapun yang ingin kau kerjakan, Kau bebas.

4. Situasi "Me Time" ini memberikan kita waktu untuk memperbaiki diri kita menghadapi hari-hari selanjutnya.
Dengan memberikan waktu untuk diri sendiri, kita lebih bisa mengkoreksi diri. Tentang hal-hal apa saja yang tidak perlu dan apa saja yang dianggap perlu untuk dikerjakan.

5. Yang terakhir, Diri kita punya hak untuk bahagia.
Punya hak untuk mengerjakan apa yang dia suka. Jadi, maksimalkan waktu sendirimu untuk membahagiakan dirimu sendiri.

APA SAJA KEGIATANKU SAAT "ME TIME" ?

Hal-hal yang ingin kulakukan jika berada dalam situasi seperti ini adalah seseorang yang bersedia menjadi pendengar hebat untukku. Saya memang orang yang sangat senang bercurhat ria. Namun, realita dijaman sekarang ini, sangat sulit untuk menemukan orang yang memang bersedia meluangkan waktunya mendengar semua keluh kesah kita. Solusi terbaik dari masalah ini adalah Saya bercerita melalui tulisan. Yah, wadah yang bagus. Dengan menulis, kita bisa mengungkapkan segala hal. Menuangkan semuanya menjadi sebuah catatan kecil. Dengan menulis, tersalurkan sudah semua keluh kesah. Dan dengan menulis, terungkap semua hal yang tidak bisa tersampaikan secara lisan.

Diamku bukan bungkam. Hanya saja aku lebih memilih bersahabat dengan pena. 
Bukan karena tidak punya mulut untuk bercerita, karena kuyakin dengan tulisan Saya mampu bersuara lebih lantang.

-Alifah Nurkhairina-


Menurut Saya menulis adalah suatu ekspresi diri. Menulis meninggalkan kisah. Menulis membuat kita mampu tercatat oleh sejarah. Seseorang dengan tulisannya mampu dikenal. Dengan tulisan juga, kita tidak perlu lagi sia-sia menceritakan semuanya kepada orang yang memang tidak respect dengan cerita kita. Dengan menulis, kita tidak lagi memaksa siapapun untuk mengetahui kisah kita. Saya menulis untuk diri Saya dan untuk beberapa orang yang memang betul-betul peduli. Saya menulis, untuk menyimpan kenangan. Saya menulis untuk mengabarkan kepada mereka yang memang ingin tau kisahku. dan Saya bahagia bersahabat dengan tulisan.

Jadi, untuk teman-teman yang pernah mengalami hal yang sama. Cobalah untuk menulis. Tuangkan, ekspresikan dirimu menjadi sebuah catatan yang bisa kau baca berulang-ulang. Dengan tulisan kau mampu melihat dirimu dimasa lalu dan menilai dirimu seperti apa kau sekarang ini. Menulislah, ceritakanlah! Kabarkan kepada mereka yang sedang menunggu kisahmu!








Sudahkah kau membelai dirimu hari ini?
Setelah kau paksa untuk membahagiakan orang lain.

Sudahkah kamu memeluk dirimu hari ini?
Setelah seharian kau memaksanya menjadi orang lain.

Sudahlah, dirimu teramat sangat berharga. Kau berhak bahagia.

-Alifah Nurkhairina-

Selasa, 12 Juni 2018

Fenomena "Bukber"

Bukber atau buka bersama adalah agenda rutin setiap Bulan Ramadhan. Bukber ini oleh sebagian orang dijadikan ajang untuk reunian dengan teman lama atau teman baru sekalipun. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan sebelum bukber, diantaranya adalah mengadakan kegiatan bakti sosial yang dirangkaikan buka puasa bersama anak panti, membuat acara reuni teman sekolah dan masih banyak yang lainnya. Tujuan dari bukber itu sendiri adalah sebagai ajang untuk bersua lagi dengan kawan lama, membandingkan keadaan teman lama kita dengan keadaanya sekarang, mencuri waktu agar semakin dekat sama si doi, sekedar mengabadikan moment agar bisa dipamer dimedia sosial, ataupun untuk mencuri kesempatan melihat mantan apakah masih sendiri atau sudah ada yang mendampingi, hihi..

Namun, beberapa diantaranya juga menganggap bukber adalah suatu kegiatan yang kurang bermanfaat. Maksudnya disini ialah kegiatan ini menyita cukup banyak waktu kita yang seharusnya kita maksimalkan beribadah. Apalagi biasanya jika reuni ini dalam skala besar terkadang dilaksanakan pada akhir-akhir ramadhan. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan untuk menunggu anggotanya yang rantau pulang dari tanah rantau agar bisa bergabung memeriahkan kegiatan dan alasan lain juga mungkin persiapan yang masih kurang jadi mungkin diakhir Ramadhan lebih matang untuk dieksekusi. Biasanya karena adanya kegiatan ini perhatian kita teralihkan dari hal yang seharusnya dilaksanakan dibulan Ramadhan yaitu memaksimalkan ibadah kepada Allah.

Melihat fenomena ini biasanya muncul lah segelintir orang yang rela membuang waktu, tenaga, fikiran dan biaya untuk "mengadakan" kegiatan ini. Biasanya ciri-ciri orang ini adalah orang yang paling semangat mencari hari yang tepat untuk kegiatan bukber ini. Orang yang paling rajin mengingatkan di grup-grup media sosial perihal tanggal kegiatan. Biasanya ada beberapa yang merespon setuju dan adapula yang membatalkan karena beberapa alasan (alasan umumnya sih, karena sudah ada janji bukber yang lebih dulu diagendakan). Tapi orang ini tetap saja berupaya agar kegiatan bukber, harus jadi.

Setelah bersusah payah mengkoordinir kegiatan, orang ini tidak banyak kerja ataupun bicara saat hari kegiatan. Lebih tepatnya, dia risau kalau kegiatan yang selama ini dikoordinirnya tidak berjalan sesuai rencana ataupun tidak meninggalkan kesan positif kepada mereka-mereka penikmat kegiatan bukber. Meski begitu, satu hal yang harus ditekankan , bahwa orang ini berhasil "meng-ada-kan" cara buka puasa bersama, sesuai permintaan anggota grup.

Ditahun ini, Saya pribadi meminimalisir kegiatan bukber ini. Entah mengapa, kegiatan bukber yang tiap tahunnya Saya nanti, kini tidak lagi menarik. Yang dulunya jika sedang didiskusikan mengenai bukber Sayalah orang yang paling bersemangat, dan jika batal Sayalah yang paling kecewa. Ditahun ini, entah mengapa Saya merasa tidak lagi bergembira jika ada "wacana" mengenai bukber ini. Saya lebih senang jika teman-teman digrup satu persatu mengutarakan alasannya tentang kapan dan dimana diadakan dan tiba-tiba segelintir orang digrup datang untuk mengecilkan peluang teradakannya kegiatan bukber ini. Saya bersyukur. Mengapa demikian? Ibu saya pernah berkata mungkin menurutnya hanya pesan yang lewat dikepala Saya, Namun, setiap kata yang diucapkannya Saya selalu memasukkannya, mengingatnya sebaik mungkin. Ibu Saya bilang "Bahagianya kurasa, Nak. Kalau sama-samaki bukapuasa dirumah" Itu kalimat sederhana mungkin, Namun dalam maknanya. Semenjak kata-kata itu terlontar, Saya sebisa mungkin, dan harus bisa, membatalkan undangan buka puasa yang tidak terlalu wajib Saya hadiri dan Saya tidak terganggu akan hal ini.

Pesan yang ingin Saya sampaikan dalam tulisan Saya kali ini, Jangan biarkan waktumu terlalu lama diluar rumah. Kalian seringkali berusaha terus untuk mencari kebahagiaan ataupun kebaikan diluar sana, tapi kalian lupa akan kebaikan yang utama di rumah, yaitu menyenangkan hati orang tua. Ridho Allah, Ridho orang tua. Bisa jadi beberapa acara bukber yang kalian koordinir tidak berjalan baik sebab, orang tuamu yang sedikit cemas saat kau diluar rumah sehingga Ridhonya sedikit samar. Jangan takut membatalkan agenda undangan buka puasa bersama, mulailah perlahan, mungkin sulit tapi akan bisa karena biasa. Cobalah gunakan waktumu untuk memaksimalkan ibadah kepada Allah. Dimana bulan Ramadhan ini bulan yang sangat mulia. Segala kebaikan dilipatgandakan. Bersyukurlah kepada Allah, gunakan untuk memohon ampun atas dosa yang telah lalu, jangan sebaliknya, malah menambah dosa. Yuk perbanyak istigfar. Saling mengingatkan kita.. Semoga Allah menjaga kita dari segala keburukan... Aamiin

#SELFREMINDER
#SemogaBermanfaat
#27Ramadhan1439H

Gowa, 00.25 WITA
Alifah Nurkhairina

-Jangan lupa tinggalkan jejak, agar Saya tau siapa orang baik yang sudah membaca tulisan Saya- 😊

Selasa, 29 Mei 2018

Yang katanya "sayang"

Mencintai adalah fitrah. Setiap anak cucu adam diberikan kesempatan untuk bisa merasakan cinta, bahkan bisa sampai jatuh. Namun, seringkali cinta disalah artikan. Contohnya saja cinta kepada lawan jenis. Mencintai lawan jenis memang tak salah, bahkan kita tergolong manusia normal jika pernah merasakannya, dan sulit memang menolak jika cinta itu sudah merayu-rayu. Sayapun termasuk orang yang sulit menolak kedatangan cinta jika ia sudah melambai menggoda.

Namun, cinta ini sedikit dibatasi dalam Islam. Islam sudah mengatur sedemikian rupa teknik mencintai yang disenangi Allah. Mencintai lawan jenis sah-sah saja asalkan pada waktu yang sudah diRidhoi. Belakangan ini Saya mulai tertarik membahas masalah ini. Dimana kebanyakan para remaja memilih jalan pacaran sebagai bukti cintanya kepada orang yang ia sukai. Memilih untuk menjalin suatu hubungan agar mereka saling terikat dan merasa memiliki satu sama lain. Katanya jika ada hubungan, maka keduanya telah saling berjanji untuk tidak berpaling sampai masa yang tidak bisa diprediksi atau yang lebih akrab disapa "putus".

Dari mereka Saya mulai belajar. tentang kesabaran, kenapa sabar? Disaat Saya melihat mereka tengah berdua, menjalani kegiatan bersama, mengabadikan kebersamaannya melalui sosial media, disitu saya miris. Sebagai manusia biasa Saya juga saat ingin. Bisa berkomunikasi dengan orang yang disukai, melaksanakan kegiatan berdua, membuat janji dan merancang temu, setiap hari bahkan setiap rindu. Mengabadikan momen, dan memamerkannya kepada orang banyak. Nah dari sinilah Saya belajar apa itu sabar.

Pelajaran kedua yang Saya jumpai pada fenomena ini adalah belajar mengikhlaskan dan belajar menerima garis kehidupan. Harusnya Saya bahagia, Allah menjauhkan Saya dari salah satu jalan zina. Membuat jarak dan kemudian perlahan hilang, begitu rencana Allah yang ditimpakan kepada Saya jika sudah mulai menyukai seseorang. Dan juga belajar berfikir positif kepada Allah.

Kelemahan pria adalah wanita, beberapa teman Saya yang lelaki tiba-tiba saja berubah kepribadian setelah berpacaran. Mereka seperti hilang aura tatkala harus menemani wanitanya hampir kesetiap sudut kota. Seperti hilang harga diri saat dimaki-maki oleh wanitanya saat tidak memberi kabar setiap waktu ataupun jika lupa mengabadikan foto bersama di media sosial miliknya. Terkadang saya miris. Ketahuilah, ditusuk besi yang panas jauh lebih baik daripada harus menyentuh yang bukan mahram. Takutlah!

Untuk para saudariku, Saya bukan manusia yang sempurna, tapi Allah menyuruh untuk saling menasehati. Barangkali Saya lebih hina dimata Allah, tapi Saya hanya berpesan untuk siapapun yang melihat ini berhentilah menjalin hubungan dengan lawan jenis. Sesungguhnya jika terjalin suatu hubungan yang dimurkai oleh Allah, maka yakinlah pihak wanitalah yang paling merugi. Astagfirullah.. Jangan sampai kita menodai diri-diri kita karena cinta yang kita berikan kepada orang yang belum jelas akankah akhirnya dialah takdirmu atau bukan. Yang kau ungkapkan sayang kepadanya nyatanya sama sekali salah. Kau membatasi ruangnya. Kau menjauhkan dia dari jodohnya. Itukah bukti sayangmu?

Bukankah kalian menginginkan lelaki baik? Apakah jika memang akhirnya kau dipertemukan dengan yang baik, bukankah kau harusnya menghadiahkannya sebuah kesucian, bahwa masa mudamu dihabiskan untuk hal positif, bahwa cinta yang mulai kau rasakan kau palingkan kearah yang diRidhoi Allah. Bahwa memang kau menyimpan sucinya cintamu untuk Imam yang memang pantas menerimanya,

Bukankah cinta pertama seorang gadis adalah Ayahnya? Tegakah kau bagi cintamu kepada orang asing? Padahal Ayahmu tidak meminta lebih, dia tidak pernah memaksamu untuk melebihi kemampuanmu, bahkan Ayahmu tidak berani untuk melukai raga dan batinmu, sedikitpun, Yang segala gerak-gerikmu menjadi kunci disurga atau neraka kah Ayahmu akan kembali? Bukankah seharusnya kau maksimalkan cintamu kepadanya sebelum tanggung jawabnya jatuh kepada pria yang terbaik? Benarkah?

Untuk kaum Adam, alihkan cintamu kepada yang baik. Jangan biarkan dia tumbuh mendominasi jiwamu. Jika memang kau mencintainya, jangan bawa dia ke jalan zina. Datangi secara baik dan utarakan yang kau mau, muliakan lah wanita yang kau cintai. Terlebih lagi jika kau masih memiliki seorang Ibu. Habiskan waktu dan cintamu untuk satu wanita saja, Ibumu, Ibumu, Ibumu. Bukankah wanita itu makhluk yang membingungkanmu? Bukankah kami ini sering mengecewakan? Sebagaimana Ali Bin Abi Thalib pernah berkata bahwa tidak ada kepahitan dunia yang beliau rasakan melainkan berharap kepada manusia yang paling pahit. Sudah jelas disini, bahwa Allah-lah tempat berharap yang sempurna. Yang selalu punya rencana yang indah diwaktu yang tak terduga. Yang tidak pernah mengecewakan hamba-Nya. Saudariku, jika cinta, mengadu kepada Allah. Minta kepada yang Maha membolak-balikan hati. Jika memang jodoh, dia pasti kembali. Jika tidak, kau akan mendapat lebih. Jangan kecewa, pilihan Allah pilihan terbaik. Teruslah berjalan menuju Allah, pemilik segalanya. Dekati penciptaNya, dan kau bahkan akan dipertemukan dengan orang yang jauh diluar dugaan.
Keputusan ditanganmu..

#sudahputuskansaja
#selfreminder

Alifah Nurkhairina
Gowa, 29 Mei 2018
23.47 WITA

Rabu, 02 Mei 2018

Masih dengan Hadiah yang Sama

Tangan ini, setia menggengam tangan suaminya. Tangannya, lembut, aktif membelai keempat anaknya. Dan tangan inilah yang terbiasa menadah disetiap sepertiga malamnya.

Kali ini, kau mengajarkanku lagi beberapa hal. Tentang bagaimana menjadi wanita yang tetap kuat meski cobaan begitu dahsyat.

Mama, hari ini banyak yang menyakiti perasaanku diluar sana. Saya terlalu lemah. Tapi? selalu saja ada petuah yang membantuku bangkit kembali. Selalu saja ada alasan untuk tetap berjuang saat mulai kudapati wajahmu atau hanya suaramu. Begitu lemahnya saya, jika ada masalah saya tak berdaya. Tertatih-tatih menyelesaikannya sendiri. Namun, sejauh apapun usaha yang kubuktikan, padamulah segala keluh selalu kubebankan. Mungkin saja kau juga punya beban yang ingin dibagikan, tapi hanya disimpan rapat agar kita tak saling mengeluh, agar kita bisa saling menguatkan bahkan jika engkau dalam keadaan lemah.

Mama, semaksimal mungkin baktiku kepadamu tetap prioritas. Meski ada sedikit batasan, kupercayai bahwa Ridhomu, Ridho Allah, dan pasti berkah. Mungkin masa mudaku berjalan tak seperti mahasiswa umumnya, seringkali juga mama sering meminta maaf karena katanya telah merepotkanku dengan menyuruhku mengambil alih sedikit tugasnya mengurus rumah. Tapi lambat laun, Mama telah menanamkan sedikit demi sedikit ilmu yang sampai kapanpun tidak akan pernah kudapatkan dibangku kuliah, yaitu ilmu berbakti kepada orangtua dan keluarga. 

Dampak negatifnya mungkin saya mulai mengasingkan diri dari lingkungan luar. Bukan berarti saya tidak sejalan dengan konsep Ibu Kartini, yang menyukai wanita yang mampu keluar dari zona nyaman ataupun menyamankan zonanya. Saya hanya ingin memaksimalkan bakti dan saya tidak merasa terbebani. Itu saja.

Yang paling kuingat darimu adalah "Nak, mendidik anak itu kita berlomba dengan setan. Tentang bagaimana kita bisa memenangkan pertandingan dengan bantuan Allah, libatkan terus Allah. Mama, detik ini aku kembali tersadar. seperti terngiang tentang sikap hangatmu saat kau menjaga kami dulu. Saat tak hentinya permintaan tak rasional yang kami inginkan, berusaha kau penuhi. Tentang bagaimana kau menuntun kami berjalan dengan baik. Tentang caramu mengajarkan kebaikan.

Mama, tak perlu menunggu harimu. Doa kami tetap ada, menyimpan namamu terus didalamnya. Doa kami tak sebatas saat hari bahagiamu tiba. Sehatlah selalu. Kami masih butuh dukungan dan doa. Tak ada pemandangan yang indah selain melihat senyum itu kembali. Tak ada kelembutan selain belaianmu dan tak ada kebahagian selain melihatmu tetap sehat saat kami kembali ke rumah. 
Maaf belum mampu membanggakan.

Barakallah, Mamasayang..

#29April2018
Gowa, 11.42 WITA