Rabu, 02 Mei 2018

Masih dengan Hadiah yang Sama

Tangan ini, setia menggengam tangan suaminya. Tangannya, lembut, aktif membelai keempat anaknya. Dan tangan inilah yang terbiasa menadah disetiap sepertiga malamnya.

Kali ini, kau mengajarkanku lagi beberapa hal. Tentang bagaimana menjadi wanita yang tetap kuat meski cobaan begitu dahsyat.

Mama, hari ini banyak yang menyakiti perasaanku diluar sana. Saya terlalu lemah. Tapi? selalu saja ada petuah yang membantuku bangkit kembali. Selalu saja ada alasan untuk tetap berjuang saat mulai kudapati wajahmu atau hanya suaramu. Begitu lemahnya saya, jika ada masalah saya tak berdaya. Tertatih-tatih menyelesaikannya sendiri. Namun, sejauh apapun usaha yang kubuktikan, padamulah segala keluh selalu kubebankan. Mungkin saja kau juga punya beban yang ingin dibagikan, tapi hanya disimpan rapat agar kita tak saling mengeluh, agar kita bisa saling menguatkan bahkan jika engkau dalam keadaan lemah.

Mama, semaksimal mungkin baktiku kepadamu tetap prioritas. Meski ada sedikit batasan, kupercayai bahwa Ridhomu, Ridho Allah, dan pasti berkah. Mungkin masa mudaku berjalan tak seperti mahasiswa umumnya, seringkali juga mama sering meminta maaf karena katanya telah merepotkanku dengan menyuruhku mengambil alih sedikit tugasnya mengurus rumah. Tapi lambat laun, Mama telah menanamkan sedikit demi sedikit ilmu yang sampai kapanpun tidak akan pernah kudapatkan dibangku kuliah, yaitu ilmu berbakti kepada orangtua dan keluarga. 

Dampak negatifnya mungkin saya mulai mengasingkan diri dari lingkungan luar. Bukan berarti saya tidak sejalan dengan konsep Ibu Kartini, yang menyukai wanita yang mampu keluar dari zona nyaman ataupun menyamankan zonanya. Saya hanya ingin memaksimalkan bakti dan saya tidak merasa terbebani. Itu saja.

Yang paling kuingat darimu adalah "Nak, mendidik anak itu kita berlomba dengan setan. Tentang bagaimana kita bisa memenangkan pertandingan dengan bantuan Allah, libatkan terus Allah. Mama, detik ini aku kembali tersadar. seperti terngiang tentang sikap hangatmu saat kau menjaga kami dulu. Saat tak hentinya permintaan tak rasional yang kami inginkan, berusaha kau penuhi. Tentang bagaimana kau menuntun kami berjalan dengan baik. Tentang caramu mengajarkan kebaikan.

Mama, tak perlu menunggu harimu. Doa kami tetap ada, menyimpan namamu terus didalamnya. Doa kami tak sebatas saat hari bahagiamu tiba. Sehatlah selalu. Kami masih butuh dukungan dan doa. Tak ada pemandangan yang indah selain melihat senyum itu kembali. Tak ada kelembutan selain belaianmu dan tak ada kebahagian selain melihatmu tetap sehat saat kami kembali ke rumah. 
Maaf belum mampu membanggakan.

Barakallah, Mamasayang..

#29April2018
Gowa, 11.42 WITA


Selasa, 13 Maret 2018

Bagian Ketiga: Saat kau kacau.

Setelah beberapa saat kita tak bertatap muka, kemarin kulampiaskan rinduku. Hari ini ada kesempatan untuk bisa melihat wujudmu. Aku memaksimalkannya. Mempersiapkan diri sebaik mungkin. Mencoba untuk menyempurnakannya. Tak ingin terlambat memanfaatkan waktu, sayapun bergegas ke titikmu.

Diperjalanan, kuperhatikan terus arlojiku. Ah sepertinya aku terlewat. Jangan,jangan sampai. Kataku. Setibanya disana. Aku tak kuasa. Tapi takut juga. Kubuka pintu itu, dan terfokus pandanganku kepadamu. Yah kau yang saat itu tengah berjuang. Senang rasanya melihat mu lagi. Tapi aku sempat berfikir, masuk jangan? Tapi kemudian aku lebih memilih masuk, mungkin rindu yang mendorongku. Lalu aku menuju kesana, tepat beberapa meter darimu. Kuliat raut wajah yang pucat dan raga yang kurang siap. Aku bilang kau sedang tidak baik.

Lama kuperhatikan, aku semakin yakin. Kau memang sedang menyimpan beban. Ada rasa kesal didadaku. Kenapa kau? Siapa yang berani menyulitkan harimu? Aku semakin kesal karena aku tidak berdaya untuk menyuarakan cemasku.

Kemarin sore, kuliat kau untuk kesekian kalinya. Kali ini kau jauh berbeda. Tak biasanya. Nampaknya kau ada masalah. Aku ikut murung. Hari itu hilang auramu. Hari itu aku mulai mencari senyum mu.

Aku bercerita kepada teman dekatku, tentang kau yang begitu tak bersemangat. Kuceritakan padanya bahwa aku ingin sekali menanyakan ada apa gerangan. Mustahil. Kita tak saling kenal, berpapasan dijalanpun kita tak saling menyapa. Saya selalu bertanya, kira-kira kapan waktu yang pas. Namun, rasa-rasanya waktu kita selalu salah. Dia belum mengizinkan.

Kau jangan terlalu lama kacau. Karena Saya sudah bosan dengan risau. Cepat-cepatlah kau membaik, supaya aku tidak lagi tidur terbalik. Selamat malam..

Gowa, Sabtu, 10 Februari 2018.
Al-Khairina.

Minggu, 25 Februari 2018

21: Hadiah Dariku~

Menuju 21. Seperti tahun lalu, tahun ini Saya akan mengapresiasi diriku sendiri. Mungkin bisa dikatakan sebagai kado dari Saya untuk diriku. Hanya sebuah review tentang saya yang lalu, saya jaman now dan saya kedepannya. Tentang beberapa perilaku dan kebiasaan yang belakangan ini kuperhatikan. Ada beberapa poin penting yang Saya sorot untuk menjadi lebih baik kedepannya.

Dimulai dari perubahan penampilan
Yah keputusan yang Saya ambil ini memang sangat berisiko. Saya juga bingung ini keputusan yang terlalu cepat atau malah sebaliknya. Aku tahu diriku. Seseorang yang dilema luar biasa dan bisa terubah prinsipnya kapan saja. Perlahan kuubah penampilanku. Sekarang memilih untuk memakai rok. Awalnya sangat sulit ku jalani, tapi Saya sangat ingin membuktikan apakah pepatah "Alah bisa karena biasa" itu benar adanya. Setelah terbiasa menanggalkan celana, saya mulai mengenakan jilbab yang cukup syar'i. Yah setidaknya lumayan panjang dan menutupi dada. Banyak teman yang sepertinya tidak terima, karena sebelumnya saya memang dikenal sebagai perempuan yang tomboi (tapi ini menurut pendapat saya lebih tepatnya hehe) Seolah-olah tidak percaya, dan ketahuilah saya juga. Namun, ini sudah konsekuensi sebagai Hamba Allah. Tak ada yang perlu disesalkan. Dan inilah Saya yang terbaru, yang mencoba untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Mohon do'anya :)

Menjadi pribadi yang sedikit calm
Aduh untuk yang satu ini Saya belum mampu menjamin seutuhnya. Berangkat dari kepribadian yang sesungguhnya memang sangat aktif, mungkin untuk perubahan ini saya perlu waktu yang cukup lama. Namun, Saya pernah membaca bahwa jika kita berniat dan berusaha untuk memperbaiki diri, maka Allah pun akan membantu kita. Ya sudah, perlahan namun pasti hehe. Tapi kalau kalian mendapati saya masih dengan sikap lama saya, mohon dimaklumi, Saya mah gitu. suka khilaf hehe

Membatasi pergaulan terhadap lawan jenis.
Sama halnya seperti diatas, mungkin ini juga salah satu hal yang harus diperbaiki. Yah Saya pun termasuk perempuan yang lebih menyenangi bergaul dengan kaum Adam, karena ada beberapa alasan yang sudah saya jelaskan pada postingan saya sebelumnya Mengapa saya lebih senang bergaul dengan kaum Adam Hal yang ingin kuubah dari point ini adalah membatasi berkomunikasi yang berlebihan dengan mereka baik secara langsung maupun tidak langsung dan juga membatasi jam bermain dengan mereka. Ada pula yang selama ini ingin sekali kuterapkan yaitu tidak bersentuhan kulit dengan mereka contohnya bersalaman. Maaf, Saya pernah membaca bahwa jika Lelaki menyentuh seseorang yang belum halal baginya, maka ditusuk jarum yang panas lebih baik daripada itu. Wahai lelaki, mari kita saling bantu dalam mencari Ridha-Nya :)

Lebih selektif memilih kegiatan kampus/non kampus.
Mungkin ada yang bilang bahwa saya ini mahasiswa apatis? Mahasiswa "kupu-kupu"? Mungkin ada yang berprasangka bahwa saya ini tak cinta dengan sesuatu yang berbau keorganisasian. Jika Anda yang sedang membaca tulisan ini adalah salah satu orangnya, kurasa kita harus bertemu dan merayakannya karena kita memang sepaham tentang hal ini. Entah mengapa, memasuki dunia perkuliahan membuat saya semakin acuh terhadap sentuhan organisasi. Padahal waktu SMA saya termasuk siswa yang aktif berorganisasi (Paskib, MPK Sekolah dan Remaja Mesjid). Tapi, jangan pernah kau memaki mahasiswa macam saya ini. Kau tidak pernah tau apa yang ada dipikiran mereka. Bisa jadi ternyata mereka pulang lebih awal karena mereka milih untuk menemami orang tuanya, memilih untuk berkegiatan diluar, memilih untuk mencari penghasilan agar tetap bisa bersekolah, ataupun memilih untuk mencari kegiatan yang bisa menambah amal. Sepertinya halnya kalian yang nyaman bernyanyi-nyanyi di depan lembaga atau hanya sekedar bercakap-cakap didepan segelas kopi? Mereka juga punya nyaman sendiri yang mungkin saja tidak mereka dapatkan di kampus. Maka sekali lagi jangan pernah maki mereka, Jangan pernah!

Memaksimalkan masa muda untuk hal yang bernilai ibadah dan positif
Setelah mencoba lebih mendalami Agama Islam, ternyata masih banyak hal sia-sia yang masih kusenangi. Contohnya saja menghabiskan masa muda dengan hal yang tak bernilai ibadah. Terlebih lagi Saya masih sering tergoda untuk bisa main bulutangkis. Yah, hobby bahkan cita-citaku dari kecil. Sampai-sampai Saya nekat untuk bergabung di salah satu club badminton yang menurutku cukup terkenal (ICLI Gowata) pada saat kelas 6 SD, dan sendiri :') Dan sekarang saya kembali lagi akrab dengan kegiatan ini, Ya Allah ingin rasanya main kembali, apalagi ada kesempatan. Tapi selalu saja ada bisikan, TAHAN! Jangan sampai Tuhanmu marah dan tidak meridhoi langkahmu. Satu kata penyemangat jika Saya mulai terlena dengan dunia ini, yaitu "Tahan Ina, pilih mana? Main badminton didunia atau Surga? Memang belum ada jaminan Surga bisa ku raih, tapi dengan meninggalkan sedikit kegiatan yang tak berguna mungkin ada hadiah yang lebih baik. Kejar Ridho-Nya semoga Allah memang telah membuatkanmu sesuatu yang telah dijanjikan untuk Hamba-Nya yang mampu istiqomah. Kata Ridho ini selalu saja kusebut pada postingan ini, karena Ridho Allah adalah tujuan dari semua amal perbuatan yang telah diusahakan. Jadi untuk teman-teman maupun kakak-kakak yang sering bertanya kenapa jarang main badminton lagi? Inimi jawabannya, semoga kalian mengerti :') Karena katanya dihari akhir kelak kita akan ditanyai tentang bagaimana kita memanfaatkan waktu muda. Sayang, Saya baru menyadarinya sekarang, bahkan mungkin masih belum maksimal dalam memanfaatkannya, Ya Allah kuharap engkau tidak berhenti me-Ridhai setiap langkahku.

Lebih sering menghabiskan panjang waktu dengan keluarga. 
Ini mungkin perubahan yang paling jelas yang saya perhatikan. Entah mengapa Saya lebih sering mengusahakan selama tidak ada sesuatu yang harus kukerjakan diluar rumah, Saya harus pulang. Dirumah, Saya mungkin tidak bisa berproduktif. Saya tidak bisa bersenang dengan kalian yang berada di lembaga-lembaga yang 'katanya' siap mengabdi untuk masyarakat. Namun, mereka terkadang lupa bahwa dirumah ada keluarga yang memanggil untuk 'dijamah'. Aduh atau mungkin Saya yang terlalu bermasa bodoh dengan kebersamaan bersama teman. Tapi, sebagai makhluk sosial Saya pun memiliki beberapa teman yang masih terjalin baik denganku. Yang mungkin apresiasi buat teman-temanku ini karena mereka sangat memaklumi ketika Saya mengatakan tidak untuk saat ini setiap ajakan yang mereka ajukan kepada Saya. Dan Saya pula sangat menghargai mereka.

Mungkin 4 point diatas adalah bagian besar yang ingin saya ubah dan tentunya masih banyak lagi yang tidak bisa Saya sebutkan semuanya. Saya selalu berdoa agar terupgrade menjadi insan yang Hablumminallah dan Hablumminannas nya berjalan dengan baik. Semoga lingkunganku bisa membantuku mewujudkannya.

Selamat, diri. Hari ini kau sudah bernafas selama 21 tahun. Itu maksudnya jatah hidup telah berkurang. Langkah selanjutnya hanya niat, usaha dan Ridho dari Rabbmu. Teruslah berjalan lebih dekat dengan Allah. Jangan pernah lelah untuk menggapai Ridho-Nya. Ya Allah semoga tulisan ini bermanfaat untuk mereka yang membacanya, Aamiin. Ayok bersemangat untuk menjadi pribadi lebih baik, Karena duniaji ini, Akhirat selamanya. Mari saling mengingatkan. Bismillahirrahmanirrahim, Selamat melangkah lagi..

Rumahku, 25 Februari 2018
Gowa, 24.00+1 WITA
Alifah Nurkhairina

Minggu, 04 Februari 2018

Serpihan Surga.

Tak habis rasanya kuucapkan syukur, tiap kali aku berada ditanahnya. Bulukumba. Berhasil menenangkan ragaku. Pelarian yang tepat dan selalu mengejutkan. Bukan disana asliku, tapi jiwaku selalu terpanggil untuk bermain didalamnya. Sejak dulu, dia selalu berhasil menciptakan senyum ditiap penggalan cerita hidupku. Selalu berhasil mencipta lembaran kenangan yang setelah itu kujadikan buah tangan agar nanti lebih mudah saya rindukan.

Bulukumba, dengan slogannya "berlayar". Telah mampu mengarungi berbagai macam problematika kehidupan. Setelah 58 tahun yang lalu telah ditetapkan hari jadinya. Ditahun ke 58 ini kau masih tetap kokoh. Dia masih terlihat indah. Bahkan mulai dirindukan. Pesona alam yang sering menjadi primadona bagi mereka yang mengaku mencintai alam. Ah. Tiba-tiba saja mulai bermunculan, mekar, menjelma menjadi tempat wisata yang pemandangannya hampir sempurna. Masyaa Allah ciptaanmu, Tuhan,

Ditahun ini, diawal tahun 2018ku, Dia kupilih sebagai latar tempatku memulainya. Berkali lipat sudah syukur ku kirimkan kepada Rabbku. Atas kekuasaanNya memilih tempat ini sebagai serpihan surgaNya. Saya tidak tumbuh dilingkungan ini, tapi saya dibesarkan oleh orang yang masa kecilnya habis disana. Moment terbaik, saat beliau menceritakan kenangannya. Secara langsung, senyumku bertambah. Mencoba merasakan juga kejadian yang telah ada. Betapa beruntungnya bisa menghabiskan waktu di masa itu. Bisakah aku juga merasakannya? Kini atau kedepannya? Entah..

Bulukumba.
Tepat ditahun ini juga, cintaku bertambah.
Kuhadiahkan kau sebuah tulisan sederhana.
Tak mampu rasanya kuceritakan semua.
Biarlah, alammu yang menjawab bahwa ternyata ungkapanku benar.
Izinkan aku menyusurimu, lebih dalam. Lagi.
Dan izinkan pula, kubawa seseorang yang istimewa. Untuk membuktikannya.
Bahwa kau memang, tempat terbaik untuk terus bersyukur.

Terima kasih, kau telah menjamu dengan baik
Terima kasih, Allah. Kau tunjukkan lagi kekuasaanMu. Bantu kami menjaganya :) Selamat ulang tahun, Butta Panrita Lopi.
Kau berhasil juara di hati.

Gowa, 20.54 WITA
Edisi Milad.
4 Februari 1960 - 4 Februari 2018
Salam Cinta
Alifah Nurkhairina

Sabtu, 30 Desember 2017

Nak, Kamu dimana?

"Nak, kamu dimana?"

Begitu pertanyaan yang sering kudengar jika seorang Ibu/Ayah mencari anaknya. Kali ini saya akan menyinggung kepada anak rantau. Mereka yang rantau ke luar Indonesia, luar sulawesi, luar daerah, sampai mereka yang memang jarang ada dirumah meskipun tak sedang merantau. Anak rantau memang anak yang sedikit istimewa. Mereka kerap kali dirindukan. Hadirnya sangat dinanti. Namun,terkadang mereka tidak sadar diri. Ada beberapa point penting terkait jawaban pertanyaan diatas.

Yang pertama, Anaknya akan menjawab. Maaf Bu/Ayah, saya tidak pulang saat ini. Pernyataan ini cukup sederhana menurut kalian dan tak berarti apa-apa, namun taukah kalian? Ibu kita merasa sedih mendengarnya. Dalam hatinya berkata, padahal Ibu sudah sangat rindu denganmu. Firasat ini kuyakini karena Ibu saya sendiri yang mengatakannya dan juga saya seorang perempuan, pasti merasakan hal yang sama, jika orang yang kau nanti tak sempat hadir. Saya bertanya lagi, Ibu baik-baik saja? Yahh dia menjawab saya baik-baik saja dengan wajah yang ragu. Pernahkah kalian sadari, kalian ini jarang dirumah. Tidak rindukah kalian dengan Ibu, Ayah dan saudara-saudara kalian? Tidak mau kah kalian menghabiskan waktu bersama kami lagi? Bercerita sambil meminum teh panas. Haduh. Betapa teduhnya moment itu.

Yang kedua, Anaknya akan menjawab. Iya Bu, saya akan pulang beberapa menit lagi. Pernyataan sederhana juga namun seringkali kita hiraukan. Tidak berfikirkah kalian? Betapa khawatirnya orang tua kita saat menerima kabar tersebut. Mereka selalu berdoa agar perjalanan kalian lancar. Kalian dijauhkan dari bahaya dan sampai dengan selamat. Tidak sadarkah kalian? Saat itu kalian sedang menguji batinnya? Mereka beraktivitas dengan cemas. Sampai saat suara kendaraan kalian terdengar didepan pagar. Barulah mereka melepas lega. Saran saya, bergegaslah pulang setelah habis sibukmu dan sebelum mereka menghubungimu. Biasakan dirilah, hal-hal sederhana yang membuatnya nyaman? Kenapa tidak? Jangan membuat mereka resah. Lakukanlah.

Yang ketiga Anaknya akan menjawab, Iya Bu,saya sudah dijalan. Jawaban ini jawaban yang dapat menenangkan hatinya. Mereka lega karena sang buah hati sudah menyelesaikan aktivitasnya dan bergegas untuk kembali kerumah. Sesampainya didepan pagar, Ibu/Ayah kita menyambut dengan lembut kehadiran kalian. Namun, tiba-tiba telpon genggam mu berdering. Kalian lupa bahwa hari ini ada acara bersama kawan dan moment ini jarang terjadi.Jadi kalian bersemangat untuk hadir. Kalian pun meminta izin. jawaban orangtua pastilah tidak mengizinkan. Tapi demi membuat kalian bahagia, mereka rela melepas. Betul. Kalian gembira dan bersegera berkemas. Terlukis lagi raut wajah kesedihan yang dengan sengaja disembunyikan.

Terkadang saya kecewa tanpa harus tau karena apa dan kepada siapa. Saya terkadang cemburu. Ingin menjadi anak rantau yang dirindu. Tidak terbesitkah dibenak kalian tentang suara hati mereka? Mereka mengharap penuh, waktu yang kalian luangkan untuk mereka. Mereka memberikan kebebasan untuk mengejar cita-cita. Tapi ternyata mereka juga bercita-cita untuk menghabiskan waktu lebih lama bersama kita, anak-anaknya. Mengapa kalian tidak mau mewujudkan harapannya? Tinggallah dirumah. Bercengkramalah dengan mereka. Batalkan agenda yang menurut kalian tak terlalu penting. Kalian sudah dewasa. Sudah bisa mengatur skala prioritas masing-masing. Jadikan mereka utama. "Tapikan aku sudah mengatur pertemuanku dengan kawan lama? Tapikan aku sudah merancang temu jauh hari dengan kekasihku?" Lagipula hanya ini kesempatanku bertemu dengan mereka karena nanti aku sudah merantau lagi". Yah bisa kau lakukan. Tapi ingat, Ibu/Ayah juga sudah merancang temu dengan mu. Tahan dirimu, Sekarang saatnya menjadi remaja yang berbakti. Menjadi remaja yang membuat orangtuanya bangga dengan pengorbanan kecilmu. Soal pertemanan dan kesenangan? Kalian jangan khawatir. Teman yang menganggapmu payah tak pantas disebut teman. Kesenangan bertemu dengan kekasih? Batalkan! Orangtualah kekasih yang harusnya kau bahagiakan. Kerumahlah.

Hidup itu pilihan. Pilihlah mereka yang memilihmu.

Semoga bermanfaat.

#Selfreminder
Dari suara yang mereka pendam.


Bulukumba, 30 Des 17
Alifah Nurkhairina, 23.17 WITA.

Minggu, 24 Desember 2017

Bagian Dua: Matamu, melemahkanku.

Setelah terjadi beberapa pertemuan singkat. Kita mulai akrab. Tapi dalam diam. Aku masih betah menikmati indahmu. Jangan khawatir kau masih prioritas.

Pemandangan tak biasanya. Siang itu terik menghujani. Aku tengah berjelajah dengan segelas minuman dingin. Tak sengaja kau berada tepat di depanku. Kau menutupi jalanku dengan elokmu. Kau kaget, aku? Sudah jelas reaksiku. Diam. Terpaku mencoba menatap matamu lebih tajam. Aku melintas menuju kearahmu. Belum ku lepas pandanganku, ntah karena apa. Aku hanya suka melihatmu lebih lama. Namun tiba-tiba saat kita berada di koordinat lintang yang sama, kau mengarahkan pandangan itu. Tepat pada tatap yang sama. Mengenai hati yang telah lama ingin disapa. Oh nooooo! Ah tapi aku diam, biasa saja. Setelah aku beranjak barulah aku teriak, aku sudah bilang aku tidak ingin kau tau. Hey, Mas boleh kau ulang? :')

Siang itu menjadi siang yang berbeda. Terik tadipun tak ada artinya, karena dinginmu sudah menyentuh. Tak ku dapatkan apa makna senyummu tadi, yang jelas aku girang sejadi-jadinya. Di tempatku berbaring sekarang aku hanya butuh ruang untuk mengingat kejadian tadi. Aku hanya butuh ruang untuk berteriak lebih kencang. Aku hanya butuh ruang untuk bercengkrama dengan rembulan tentang senyum mu. Kubilang pada semesta bahwa aku bahagia. Tapi dinding kamarku tetap saja disana, tak berpindah tempat. Padahal setiap malamnya dia melihatku seperti ini; Senyum sendiri, Merona seorang diri. Untuk guling, maaf aku memelukmu terlalu erat.

Tadi malam kau berwisata lagi. Kau menyusuri malamku. Kau mulai menembus mimpiku. Senyuman itu tetap sama apalagi tatapmu. Aku terlalu memikirkanmu. Bisakah kau kesini, tepat disampingku? Karena jika kau betah dikhayalku aku tak bisa lebih lama menghabiskan waktu denganmu. Bisakah kau nyata?

Gowa, 2017.
Alifah Nurkhairina.

Rabu, 22 November 2017

Minor? Why not?

Foto tahun 2014

Suara minor merupakan suara yang seringkali terasingkan. Tapi tak jarang juga minoritas menjadi center point pada beberapa hal. Menjadi suara minor kadang menyebalkan kadang menyenangkan. Berbicara tentang suara minor, saya merasakannya saat ini. Dalam persaudaraan. Terlahir menjadi satu-satunya gadis, ada suka dan sedihnya. Apa saja suka dan sedihnya jadi satu-satunya anak perempuan? marikii...

Sedihnya:

1. Aset Mainan hanya satu jenis
Simpel saja, orang tua pikirnya saya masih kecil, tau apa tentang mainan anak perempuan dan anak lelaki? Sejatinya anak-anak hanya tau main dan secara otomatis mereka terlihat senang memainkan sesuatu tanpa harus tau mainan siapa ini. Sudah, beli robot saja. sudah, beli mobil-mobilan saja. Sudah! itu saja. Kalau beli boneka tidak bertahan lama. Tamiya? Robot? Aduh Ayahhh...

2. Bekerja Sendiri
Setelah tumbuh dewasa, saya mulai diajarkan bagaimana menjadi gadis sesungguhnya. Dari mulai membersihkan rumah, memasak, mencuci baju, piring, menyapu, mengepel dan beberapa pekerjaan kartini muda lainnya. Aku dituntut untuk mahir. Selain bentuk rasa cinta kepada keluarga, katanya ini persiapan untuk menjadi calon istri dan ibu yang baik. yaelah. Namun, kebanyakan dari teman saya yang punya saudara perempuan, mereka saling berbagi pekerjaan. Contohnya saja ada yang bertugas didapur dan ada yang bertugas di luar dapur. Mereka membuat jadwal untuk mencuci piring dan sebagainya. Kalau diterapkan dikeluargaku? Yah siapa lagi yang bisa diandalkan? Saudara lelakiku? Mustahil :v

3. Susah jadi wanita
Maksudnya kak? Maksudnya lingkungan mempunyai pengaruh tersendiri dalam pembentukan karakter seseorang. Berada di lingkungan mayoritas kaum adam, kupikir sangat sulit untuk tumbuh menjadi wanita sebagaimana adanya. Tak ada kakak perempuan yang bisa jadi panutan. Misalnya belajar dandan, belajar masak, dan belajar apapun yang berhubungan dengan wanita, well ini menjadi tantangan sendiri. Hanya satu patokan, MAMA.

4. Tidak ada teman curhat, teman jalan, teman sepergaulan
Seru rasanya melihat kaka adik yang saling melempar cerita tentang pria yang dikaguminya. Saling berbagi saran dan celaan. Tak jarang juga mereka membuat janji untuk jalan bersama. Sekedar melepas penat ataupun mempererat persaudaraan. Saling beradu argumen tentang selera baju yang berbeda. Berbagi pendapat tentang gaya hidup seorang wanita dan banyak lagi hal-hal yang bisa diperbincangkan sesama wanita. Kalau saya? Curhat ke ibu adalah hal yang paling tepat. Tapi faktanya curhat ke saudara lelaki juga tak kalah menarik. Bahkan lebih banyak saran yang bisa didapat terutama dari sudut pandang mereka. Jadii.... Point ini tak cukup bermasalah menurutku :)

Sekarang sukanya jadi anak tunggal putri...

Sukanya:

1. Semua benda atau apapun itu yang berbau wanita, menjadi hak milik
Yahh salah satu point yang paling aku sukai. Apapun itu, semua menjadi hak milik. Tidak perlu memilih atau berebut, cukup duduk diam, santai, tenang. Kurasa point ini tak perlu banyak penjelasan, bagi mereka yang senasib dengan saya pasti tau betul, yuhuu~

2. Menjadi paling cantik diantara yang lainnya
Apalah daya. Bagaimanapun jeleknya kita, kita akan terlihat paling cantik. Ini sebenarnya salah satu argumen yang naif. Mau dikatakan apalagi, sudah begitu takdirnya, Tidak terima? Sudah terima sajalah :v

3. Ada perhatian lebih, karena satu-satunya
Biasanya jika mempunyai sesuatu dan itu hanya satu-satunya kita memberikan perhatian lebih kepadanya. Sama halnya dengan saya. Saya merasa cukup beruntung. Biasanya jika saya melakukan kesalahan saya ditegur oleh saudara saya. Dan menurut saya itu salah satu bentuk perhatian lebih. Contohnya dulu saat saya mau keluar rumah dan diantar oleh kakak saya, saya ditegur. Katanya "nda mauja antarko kalau nda pake jilbabko". Awalnya saya tidak terima, tapi akhirnya saya mengerti, oke positif saja. Ini salah satu bentuk perhatiannya. Atau contoh lain, saat ada pekerjaan yang lumayan berat, tiba-tiba saja adik saya bilang "jammako kau kerjai ka cewekko" Sebenarnya bisa saya lakukan. Tapi yah saya pikir ini juga salah satu bentuk perhatian lebihnya. Dan masih banyak lagi..

4. Sering dipanggil anak gadisnya Ayah, Mama
Hal ini kurasa sudah sangat jelas, tidak perlu penjelasan hehe.

5. Pewaris gelar ibu, jika beliau tidak di rumah
Mama saya termasuk wanita karir. Beliau jarang di rumah. Karena memang banyak tuntutan pekerjaan, selain itu rumah juga jarang ramai, jadi beliau memilih untuk berada di luar rumah, Katanya kalau sendirian di rumah, kesepian. pikiran lari tak karuan. Nah pada moment ini jika hanya saya di rumah, saya yang mengambil alih perannya. Menghandle pekerjaan rumah, menyiapkan makan untuk yang lainnya, dan membuat suasana rumah agar tetap nyaman sebagai tempat pulang yang paling ideal. Moment ini juga membantuku untuk persiapan menjadi ibu juga nantinya.

6. Tontonan satu jenis
Tak hanya mainan, selera tontonan kita pun berangsur-angsur mulai sepaham. Contohnya saja, sepakbola. Jika sudah jadwalnya, haram hukumnya jika channelnya diganti. Semua penduduk rumah wajib menonton suka tidak suka. Tapi yah seru juga.

FAKTANYA:

1. Saya menikmati peranku sebagai suara minor. Saya bahagia!
2. Fakta kedua, saya sebenarnya punya dua orang kakak yang meninggal saat masih janin dan tidak menutup kemungkinan salah satu diantara mereka ada yang berjenis kelamin perempuan, aduh kakak kita tidak sempat berjumpa :')
3. Jika nanti mereka punya istri, akan kuajar bagaimana aturan main dalam keluargaku, tentang bagaimana kiat-kiat jitu dalam merawat saudara-saudaraku kelak
4. Point 3 hanya inisiatif ataupun cita-cita yang ingin kucapai ini bukan fakta, karena belum benar adanya. Hanya saja saya hanya malas mengedit kembali dan juga agar tulisan ini lebih banyak pointnya hehe
5. Fakta kelima, kini mereka (red: saudaraku) tengah merantau, dan saya ditinggal sendiri dirumah
6. Rumah ternyata lebih asik jika pria lebih mendominasi
7. Katanya anak gadis jika sudah menikah mengikut suaminya.-.
Kekhawatiran yang sering terbayang-bayang. Semoga saja nantinya 'dia' mampu memberikan kesempatan kepadaku untuk tetap menjaga silaturahmi dengan saudaraku yang lainnya. Semoga.
8. Saya lebih bisa mendalami bagaimana pola hidup lelaki. Apa saja yang mereka suka ataupun tidak suka.
9. Tulisan ini saya terbitkan bertepatan dengan hari lahirnya Ayahku. Ini salah satu bentuk dedikasi dari Anak gadisnya. Selamat ulang tahun pahlawan keluarga :")


Catatan diatas berdaftar pustakakan dari pengalaman pribadi dan luapan ungkapan hati. Jika ada kesamaan cerita dan suasana berarti kita senasib. Jika ada ketidaksesuaian mohon dimaklumi karena memang kita semua terlahir berbeda-beda. Terima kasih atas luang waktunya ^^

#Alifah Nurkhairina
Gowa, 22 November 2017
Rabu, 00.00 WITA