Sabtu, 30 Desember 2017

Nak, Kamu dimana?

"Nak, kamu dimana?"

Begitu pertanyaan yang sering kudengar jika seorang Ibu/Ayah mencari anaknya. Kali ini saya akan menyinggung kepada anak rantau. Mereka yang rantau ke luar Indonesia, luar sulawesi, luar daerah, sampai mereka yang memang jarang ada dirumah meskipun tak sedang merantau. Anak rantau memang anak yang sedikit istimewa. Mereka kerap kali dirindukan. Hadirnya sangat dinanti. Namun,terkadang mereka tidak sadar diri. Ada beberapa point penting terkait jawaban pertanyaan diatas.

Yang pertama, Anaknya akan menjawab. Maaf Bu/Ayah, saya tidak pulang saat ini. Pernyataan ini cukup sederhana menurut kalian dan tak berarti apa-apa, namun taukah kalian? Ibu kita merasa sedih mendengarnya. Dalam hatinya berkata, padahal Ibu sudah sangat rindu denganmu. Firasat ini kuyakini karena Ibu saya sendiri yang mengatakannya dan juga saya seorang perempuan, pasti merasakan hal yang sama, jika orang yang kau nanti tak sempat hadir. Saya bertanya lagi, Ibu baik-baik saja? Yahh dia menjawab saya baik-baik saja dengan wajah yang ragu. Pernahkah kalian sadari, kalian ini jarang dirumah. Tidak rindukah kalian dengan Ibu, Ayah dan saudara-saudara kalian? Tidak mau kah kalian menghabiskan waktu bersama kami lagi? Bercerita sambil meminum teh panas. Haduh. Betapa teduhnya moment itu.

Yang kedua, Anaknya akan menjawab. Iya Bu, saya akan pulang beberapa menit lagi. Pernyataan sederhana juga namun seringkali kita hiraukan. Tidak berfikirkah kalian? Betapa khawatirnya orang tua kita saat menerima kabar tersebut. Mereka selalu berdoa agar perjalanan kalian lancar. Kalian dijauhkan dari bahaya dan sampai dengan selamat. Tidak sadarkah kalian? Saat itu kalian sedang menguji batinnya? Mereka beraktivitas dengan cemas. Sampai saat suara kendaraan kalian terdengar didepan pagar. Barulah mereka melepas lega. Saran saya, bergegaslah pulang setelah habis sibukmu dan sebelum mereka menghubungimu. Biasakan dirilah, hal-hal sederhana yang membuatnya nyaman? Kenapa tidak? Jangan membuat mereka resah. Lakukanlah.

Yang ketiga Anaknya akan menjawab, Iya Bu,saya sudah dijalan. Jawaban ini jawaban yang dapat menenangkan hatinya. Mereka lega karena sang buah hati sudah menyelesaikan aktivitasnya dan bergegas untuk kembali kerumah. Sesampainya didepan pagar, Ibu/Ayah kita menyambut dengan lembut kehadiran kalian. Namun, tiba-tiba telpon genggam mu berdering. Kalian lupa bahwa hari ini ada acara bersama kawan dan moment ini jarang terjadi.Jadi kalian bersemangat untuk hadir. Kalian pun meminta izin. jawaban orangtua pastilah tidak mengizinkan. Tapi demi membuat kalian bahagia, mereka rela melepas. Betul. Kalian gembira dan bersegera berkemas. Terlukis lagi raut wajah kesedihan yang dengan sengaja disembunyikan.

Terkadang saya kecewa tanpa harus tau karena apa dan kepada siapa. Saya terkadang cemburu. Ingin menjadi anak rantau yang dirindu. Tidak terbesitkah dibenak kalian tentang suara hati mereka? Mereka mengharap penuh, waktu yang kalian luangkan untuk mereka. Mereka memberikan kebebasan untuk mengejar cita-cita. Tapi ternyata mereka juga bercita-cita untuk menghabiskan waktu lebih lama bersama kita, anak-anaknya. Mengapa kalian tidak mau mewujudkan harapannya? Tinggallah dirumah. Bercengkramalah dengan mereka. Batalkan agenda yang menurut kalian tak terlalu penting. Kalian sudah dewasa. Sudah bisa mengatur skala prioritas masing-masing. Jadikan mereka utama. "Tapikan aku sudah mengatur pertemuanku dengan kawan lama? Tapikan aku sudah merancang temu jauh hari dengan kekasihku?" Lagipula hanya ini kesempatanku bertemu dengan mereka karena nanti aku sudah merantau lagi". Yah bisa kau lakukan. Tapi ingat, Ibu/Ayah juga sudah merancang temu dengan mu. Tahan dirimu, Sekarang saatnya menjadi remaja yang berbakti. Menjadi remaja yang membuat orangtuanya bangga dengan pengorbanan kecilmu. Soal pertemanan dan kesenangan? Kalian jangan khawatir. Teman yang menganggapmu payah tak pantas disebut teman. Kesenangan bertemu dengan kekasih? Batalkan! Orangtualah kekasih yang harusnya kau bahagiakan. Kerumahlah.

Hidup itu pilihan. Pilihlah mereka yang memilihmu.

Semoga bermanfaat.

#Selfreminder
Dari suara yang mereka pendam.


Bulukumba, 30 Des 17
Alifah Nurkhairina, 23.17 WITA.

Minggu, 24 Desember 2017

Bagian Dua: Matamu, melemahkanku.

Setelah terjadi beberapa pertemuan singkat. Kita mulai akrab. Tapi dalam diam. Aku masih betah menikmati indahmu. Jangan khawatir kau masih prioritas.

Pemandangan tak biasanya. Siang itu terik menghujani. Aku tengah berjelajah dengan segelas minuman dingin. Tak sengaja kau berada tepat di depanku. Kau menutupi jalanku dengan elokmu. Kau kaget, aku? Sudah jelas reaksiku. Diam. Terpaku mencoba menatap matamu lebih tajam. Aku melintas menuju kearahmu. Belum ku lepas pandanganku, ntah karena apa. Aku hanya suka melihatmu lebih lama. Namun tiba-tiba saat kita berada di koordinat lintang yang sama, kau mengarahkan pandangan itu. Tepat pada tatap yang sama. Mengenai hati yang telah lama ingin disapa. Oh nooooo! Ah tapi aku diam, biasa saja. Setelah aku beranjak barulah aku teriak, aku sudah bilang aku tidak ingin kau tau. Hey, Mas boleh kau ulang? :')

Siang itu menjadi siang yang berbeda. Terik tadipun tak ada artinya, karena dinginmu sudah menyentuh. Tak ku dapatkan apa makna senyummu tadi, yang jelas aku girang sejadi-jadinya. Di tempatku berbaring sekarang aku hanya butuh ruang untuk mengingat kejadian tadi. Aku hanya butuh ruang untuk berteriak lebih kencang. Aku hanya butuh ruang untuk bercengkrama dengan rembulan tentang senyum mu. Kubilang pada semesta bahwa aku bahagia. Tapi dinding kamarku tetap saja disana, tak berpindah tempat. Padahal setiap malamnya dia melihatku seperti ini; Senyum sendiri, Merona seorang diri. Untuk guling, maaf aku memelukmu terlalu erat.

Tadi malam kau berwisata lagi. Kau menyusuri malamku. Kau mulai menembus mimpiku. Senyuman itu tetap sama apalagi tatapmu. Aku terlalu memikirkanmu. Bisakah kau kesini, tepat disampingku? Karena jika kau betah dikhayalku aku tak bisa lebih lama menghabiskan waktu denganmu. Bisakah kau nyata?

Gowa, 2017.
Alifah Nurkhairina.

Rabu, 22 November 2017

Minor? Why not?

Foto tahun 2014

Suara minor merupakan suara yang seringkali terasingkan. Tapi tak jarang juga minoritas menjadi center point pada beberapa hal. Menjadi suara minor kadang menyebalkan kadang menyenangkan. Berbicara tentang suara minor, saya merasakannya saat ini. Dalam persaudaraan. Terlahir menjadi satu-satunya gadis, ada suka dan sedihnya. Apa saja suka dan sedihnya jadi satu-satunya anak perempuan? marikii...

Sedihnya:

1. Aset Mainan hanya satu jenis
Simpel saja, orang tua pikirnya saya masih kecil, tau apa tentang mainan anak perempuan dan anak lelaki? Sejatinya anak-anak hanya tau main dan secara otomatis mereka terlihat senang memainkan sesuatu tanpa harus tau mainan siapa ini. Sudah, beli robot saja. sudah, beli mobil-mobilan saja. Sudah! itu saja. Kalau beli boneka tidak bertahan lama. Tamiya? Robot? Aduh Ayahhh...

2. Bekerja Sendiri
Setelah tumbuh dewasa, saya mulai diajarkan bagaimana menjadi gadis sesungguhnya. Dari mulai membersihkan rumah, memasak, mencuci baju, piring, menyapu, mengepel dan beberapa pekerjaan kartini muda lainnya. Aku dituntut untuk mahir. Selain bentuk rasa cinta kepada keluarga, katanya ini persiapan untuk menjadi calon istri dan ibu yang baik. yaelah. Namun, kebanyakan dari teman saya yang punya saudara perempuan, mereka saling berbagi pekerjaan. Contohnya saja ada yang bertugas didapur dan ada yang bertugas di luar dapur. Mereka membuat jadwal untuk mencuci piring dan sebagainya. Kalau diterapkan dikeluargaku? Yah siapa lagi yang bisa diandalkan? Saudara lelakiku? Mustahil :v

3. Susah jadi wanita
Maksudnya kak? Maksudnya lingkungan mempunyai pengaruh tersendiri dalam pembentukan karakter seseorang. Berada di lingkungan mayoritas kaum adam, kupikir sangat sulit untuk tumbuh menjadi wanita sebagaimana adanya. Tak ada kakak perempuan yang bisa jadi panutan. Misalnya belajar dandan, belajar masak, dan belajar apapun yang berhubungan dengan wanita, well ini menjadi tantangan sendiri. Hanya satu patokan, MAMA.

4. Tidak ada teman curhat, teman jalan, teman sepergaulan
Seru rasanya melihat kaka adik yang saling melempar cerita tentang pria yang dikaguminya. Saling berbagi saran dan celaan. Tak jarang juga mereka membuat janji untuk jalan bersama. Sekedar melepas penat ataupun mempererat persaudaraan. Saling beradu argumen tentang selera baju yang berbeda. Berbagi pendapat tentang gaya hidup seorang wanita dan banyak lagi hal-hal yang bisa diperbincangkan sesama wanita. Kalau saya? Curhat ke ibu adalah hal yang paling tepat. Tapi faktanya curhat ke saudara lelaki juga tak kalah menarik. Bahkan lebih banyak saran yang bisa didapat terutama dari sudut pandang mereka. Jadii.... Point ini tak cukup bermasalah menurutku :)

Sekarang sukanya jadi anak tunggal putri...

Sukanya:

1. Semua benda atau apapun itu yang berbau wanita, menjadi hak milik
Yahh salah satu point yang paling aku sukai. Apapun itu, semua menjadi hak milik. Tidak perlu memilih atau berebut, cukup duduk diam, santai, tenang. Kurasa point ini tak perlu banyak penjelasan, bagi mereka yang senasib dengan saya pasti tau betul, yuhuu~

2. Menjadi paling cantik diantara yang lainnya
Apalah daya. Bagaimanapun jeleknya kita, kita akan terlihat paling cantik. Ini sebenarnya salah satu argumen yang naif. Mau dikatakan apalagi, sudah begitu takdirnya, Tidak terima? Sudah terima sajalah :v

3. Ada perhatian lebih, karena satu-satunya
Biasanya jika mempunyai sesuatu dan itu hanya satu-satunya kita memberikan perhatian lebih kepadanya. Sama halnya dengan saya. Saya merasa cukup beruntung. Biasanya jika saya melakukan kesalahan saya ditegur oleh saudara saya. Dan menurut saya itu salah satu bentuk perhatian lebih. Contohnya dulu saat saya mau keluar rumah dan diantar oleh kakak saya, saya ditegur. Katanya "nda mauja antarko kalau nda pake jilbabko". Awalnya saya tidak terima, tapi akhirnya saya mengerti, oke positif saja. Ini salah satu bentuk perhatiannya. Atau contoh lain, saat ada pekerjaan yang lumayan berat, tiba-tiba saja adik saya bilang "jammako kau kerjai ka cewekko" Sebenarnya bisa saya lakukan. Tapi yah saya pikir ini juga salah satu bentuk perhatian lebihnya. Dan masih banyak lagi..

4. Sering dipanggil anak gadisnya Ayah, Mama
Hal ini kurasa sudah sangat jelas, tidak perlu penjelasan hehe.

5. Pewaris gelar ibu, jika beliau tidak di rumah
Mama saya termasuk wanita karir. Beliau jarang di rumah. Karena memang banyak tuntutan pekerjaan, selain itu rumah juga jarang ramai, jadi beliau memilih untuk berada di luar rumah, Katanya kalau sendirian di rumah, kesepian. pikiran lari tak karuan. Nah pada moment ini jika hanya saya di rumah, saya yang mengambil alih perannya. Menghandle pekerjaan rumah, menyiapkan makan untuk yang lainnya, dan membuat suasana rumah agar tetap nyaman sebagai tempat pulang yang paling ideal. Moment ini juga membantuku untuk persiapan menjadi ibu juga nantinya.

6. Tontonan satu jenis
Tak hanya mainan, selera tontonan kita pun berangsur-angsur mulai sepaham. Contohnya saja, sepakbola. Jika sudah jadwalnya, haram hukumnya jika channelnya diganti. Semua penduduk rumah wajib menonton suka tidak suka. Tapi yah seru juga.

FAKTANYA:

1. Saya menikmati peranku sebagai suara minor. Saya bahagia!
2. Fakta kedua, saya sebenarnya punya dua orang kakak yang meninggal saat masih janin dan tidak menutup kemungkinan salah satu diantara mereka ada yang berjenis kelamin perempuan, aduh kakak kita tidak sempat berjumpa :')
3. Jika nanti mereka punya istri, akan kuajar bagaimana aturan main dalam keluargaku, tentang bagaimana kiat-kiat jitu dalam merawat saudara-saudaraku kelak
4. Point 3 hanya inisiatif ataupun cita-cita yang ingin kucapai ini bukan fakta, karena belum benar adanya. Hanya saja saya hanya malas mengedit kembali dan juga agar tulisan ini lebih banyak pointnya hehe
5. Fakta kelima, kini mereka (red: saudaraku) tengah merantau, dan saya ditinggal sendiri dirumah
6. Rumah ternyata lebih asik jika pria lebih mendominasi
7. Katanya anak gadis jika sudah menikah mengikut suaminya.-.
Kekhawatiran yang sering terbayang-bayang. Semoga saja nantinya 'dia' mampu memberikan kesempatan kepadaku untuk tetap menjaga silaturahmi dengan saudaraku yang lainnya. Semoga.
8. Saya lebih bisa mendalami bagaimana pola hidup lelaki. Apa saja yang mereka suka ataupun tidak suka.
9. Tulisan ini saya terbitkan bertepatan dengan hari lahirnya Ayahku. Ini salah satu bentuk dedikasi dari Anak gadisnya. Selamat ulang tahun pahlawan keluarga :")


Catatan diatas berdaftar pustakakan dari pengalaman pribadi dan luapan ungkapan hati. Jika ada kesamaan cerita dan suasana berarti kita senasib. Jika ada ketidaksesuaian mohon dimaklumi karena memang kita semua terlahir berbeda-beda. Terima kasih atas luang waktunya ^^

#Alifah Nurkhairina
Gowa, 22 November 2017
Rabu, 00.00 WITA

Kamis, 16 November 2017

Makna Pahlawan Bagiku

Malam ini, untuk kesekian kalinya, kau menahan sakit lagi. Saat tengah beraktivitas, saat tengah beribadah, saat tengah menjalankan kewajiban bahkan saat dimana semua orang tengah terlelap. Menahan, kau terus menahan. Sesekali kau tak kuasa, kau bagi sakitmu pada seseorang yang berada tepat disampingmu, yah dialah kekasihmu. Dia terbangun dari lelapnya, Dia tidak kaget, hanya sedikit pilu, melihatmu meringis seperti itu. Kekasihmu adalah orang yang paling siaga dalam memenuhi pintamu. Berlarian tak karuan saat kau membutuhkan sesuatu dan kejadian ini terus terulang, hampir disetiap latar, waktu dan suasana yang serupa. Tapi lucunya kalian justru bahagia, yah sangat bahagia.

Beberapa bulan kemudian, sakit ini memuncak. Kau semakin tak bisa membendungnya. Kekasihmu juga tak terlihat baik-baik saja, dia kaget luar biasa. Apa yang harus dilakukan? Hari itu sangat kejam. Malam panjang ditemani hujan yang jatuh dengan ketukan kerasnya. Kekasihmu bingung, bagaimana ini? Teriaknya dalam hati. Mobil taksi melintas, tak berfikir deras, kekasihmu memanggilnya keras dan kau dibawa kesuatu tempat yang kau sendiripun sudah bisa menebaknya bahkan dalam keadaan kau tak sadar. Menjelang moment itu, kalian berpegang tangan, erat. Saling menguatkan dalam tatap dan doa. Sesekali kau mengeluarkan air mata dan senyuman. Kau pasti bisa! Kata semua yang ‘sempat’ melihatmu. Selama proses itu berlangsung, doa tak henti membumbung seperti berlomba menuju langit tertinggi. Sampai akhirnya kalian betul-betul menangis larut dalam bahagia. Ada hadiah dari Allah, seorang anak perempuan.

Seiring berjalannya waktu, gadis ini tumbuh dengan gaya hidup yang kalian yakini. Kalian besarkan dengan kasih sayang dan doa. Kalian kenalkan dengan Allah dan segala kekuasaan-Nya. Kalian lengkapi fasilitasnya untuk terus menjelma menjadi insan yang baik budi pekertinya terhadap sesama. Gadis ini mulai dewasa, mulai bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Kini dia menempuh pendidikan tinggi. Dengan mengandalkan doa dan kepercayaan, kalian lepas dia untuk mengejar cita-citanya.

Karena sibuk, kalian jarang bertemu. Kau dan kekasihmu sibuk melanjutkan hidup. Berfikir terus bagaimana caranya agar besok masih bisa makan. Sementara gadismu juga tengah berusaha ‘katanya’. Belajar dibangku perguruan tinggi yang nyaman, menghabiskan waktu dengan teman sebayanya dimanapun, kapanpun. Namun, tak jarang gadismu lelah dan menyerah. Kau bilang jangan lupa sholat, teruslah belajar, dan jaga kesehatan. Itu pesan yang tidak pernah luput kau ucapkan melalui via suara.

Gadis itu sekarang tengah berada didepan kertas putih. Menulis tentang kejadian masa lalu. Dia ingin bercerita kepada dunia. Bahwa orang tuanya hebat. Tak pernah mengeluh tentang lelah yang dialaminya. Katanya dia telah menemukan pahlawan sesungguhnya. Tak perlu mengikuti dunia, bahwa pahlawan itu dia yang telah berjasa terhadap bangsa. Tak perlu menunggu hari peringatan itu tiba. Baginya ayah ibunya pahlawan sepanjang masa. Sebut saja gadis itu, Aku. Tokoh Kau itu adalah Ibu dan kekasihnya adalah Ayahku. Lantas peristiwa apalagi yang bisa membuatku terkagum kepada mereka? Selembar kertas takkan pernah mampu menampung bagaimana takjubku tentang pengorbanannya. Lantas apalagi yang pantas kuucap selain syukur dan maaf? Mereka memang tak pernah melawan penjajah. Wajah merekapun tak diabadikan sebagai pahlawan bangsa. Tapi mereka nyata, mereka dekat. Lantas siapa lagi yang pantas kusebut pahlawan? Kalian tau? Aku anak beruntung. Kalian harus tau.

#Alifah Nurkhairina
Gowa, 10 November 2017
Jumat, 22.10 WITA

Minggu, 15 Oktober 2017

Bagian Satu: Awal Kenal

Gowa, 23.11 WITA
Sabtu, 14 Oktober 2017

Waktu itu aku tengah rehat. Dengan pandangan kosong. Sesekali ku palingkan wajahku kearah berlawanan, tapi tetap. Kosong. Dan begitu beberapa kali.

Waktu itu tengah malam. Sosokmu menjelma sebagai makhluk awam. Kau memainkan gemarmu, mengambil alih perhatianku. Mata dan senyummu yang menyapaku sejuk. Esoknya, aku masih hilang akal. Kubilang ingin mengenalmu lebih jauh.

Berbicara perihal mengagumi, hm kurasa sudah hal biasa dalam kalangan remaja. Apalagi yang dimabuk cinta. Saya seorang mahasiswa semester tengah. Menjadi pengagum rahasia itu suatu profesi yang cukup menantang. Kehidupan kampus yang cukup menggoda. Kenalkan, saya Ina. Seorang pengagum rahasia kelas akut.

Aku bertemu dengan seorang pria. Aku mengagumi dia semenjak pertemuan perdana. Tapi dia dingin. Lebih dingin dari apapun yang dingin. Berada di satu tempat yang sama tidak menjamin kami bisa dekat. Saya selalu mencuri kesempatan saat saya tak sengaja bertemu di jalan. Saya mencari kesempatan saat dari kejauhan pun sudah nampak tas yang sering di pakainya. Saya sering menatapnya tajam saat dia sedang beraktivitas. Tapi terkadang disaat bersamaan aku selalu tertawa melihatnya begitu, aduh kamu.

Tiba-tiba tak sengaja kita berada di satu jalan yang sama. Dari jauh sudah kupikirkan bagaimana tingkahku saat berpapasan, Bagaimana mimik wajah yang bagus ku tampilkan, atau atau aku harus senyum atau cuek? aaah aku terlalu takut, aku terlalu malu.

Kali ini kita bertatap muka. Kau memandangku biasa, tapi aku membalasnya luar biasa. Seperti yang kubilang, aku sedang berada dalam kesempatanku. Tapi kadang kala aku tak mau melihatmu. Bukan, bukan berarti aku tak mengindahkan kesempatan itu, hanya saja aku takut tak bisa menahan senangku saat di tatapmu. Aku takut lepas kendali.

Bertatap mata denganmu tak pernah aku rencanakan sebelumnya. Kau tau, tatapan biasamu itu mampu membuatku senang tak terkira hanya saja kau tak melihatnya, aku sengaja menyembunyikannya. Setelah kau berlalu, aku menoleh lagi, memperhatikan sisi lainmu lagi, cuman ingin menghabiskan kesempatan ini, setelah itu aku menoleh kembali, aku berteriak. Sekencang-kencangnya. didalam hati. Mungkin hatiku goncang. Kau pelakunya. kau harus tanggungjawab he he.

Aku suka diposisi ini. Bebas mengagumimu dari sudut manapun. Aku tidak mau kau tau. Kalau kau tau, habislah aku. Tetaplah begitu menjadi objek pandangku, Tak perlu khawatir, aku berusaha mendapatkan informasi keseharianmu tanpa mengganggumu. Dengan mengandalkan media sosial milikmu, Jangan bosan yah.

Bersambung...

Kamis, 02 Maret 2017

Si Tangguh dari Bumi Panrita Lopi Vol.1

Taken by: Alifah Nurkhairina

Makassar, 02.19 WITA
Selasa, 28 Februari 2017


Malam ini saat lampu padam. Gelap gulita tak terkalahkan.
Kunyalakan cahaya. Lilin itu membara. Dia menemaniku, sepertinya dia juga ingin mendengarkan saat Ayah menceritakan sebuah kisah masa lalu.

Legenda Perahu Phinisi judulnya.

Berbicara tentang perahu Phinisi, saya sangat tertarik dan sangat penasaran. Langkah awal saya, yaitu dengan mencari tahu sedikit demi sedikit tentang Perahu ini. Dan saya memutuskan untuk mewawancarai salah satu orang yang mengetahui sedikit tentang perahu phinisi. Ya dia Ayahku. Sedikit menjawab rasa penasaranku.

"Ayah coba jelaskan, apa - apa yang kita tau tentang Phinisi?"

"Phinisi itu perahu tradisional yang sudah mendunia. Phinisi ini unik. Ada sejarah yang menceritakan bahwa, suatu ketika Sawerigading hendak berlayar ke China demi seorang perempuan yang dicintainya yaitu We Cudai. Namun untuk sampai ke negeri China tidaklah mudah. Hamparan samudera menjadi penghalangnya. Sampai suatu ketika ada seseorang yang berkata kepadanya, Wahai baginda. Jikalau hendak baginda ke Negeri China, seberangilah lautan itu dengan sesuatu yang bisa terapung dan bisa membuatmu sampai ke tujuan.

Maka Sawerigading pun memerintahkan kepada pesuruhnya untuk mencari dari ujung Luwu sampai batas yang tidak ditentukan, yaitu seorang yang ahli merakit "perahu". Sawerigading pun membuat sayembara untuk siapa saja yang bisa membuat perahu. Cerita tentang keinginan Sawerigading ini mulai meluas ke masyarakat sekitar. Menjadi satu pokok pembicaraan hangat saat tengah bersantai. Sampai suatu ketika, berita itu didengar oleh Dg. Baso. Dg. Baso ini adalah seorang tukang kebun. Pada saat itu dia tengah asyik berbincang-bincang dengan temannya.

Dalam bahasa Ara.
"Macccako a'baju lopi?" (Kamu pintar membuat perahu?)

" Anre. Nungura njo tanja'na lopi? (Tidak, bagaimana bentuknya perahu itu?) Tutur Dg. Baso

" bla bla bla(kebetulan saya lupa bahasa Aranya, yang jelas artinya "perahu itu yang bisa terapung dilaut)

" Ooh, tunggu dlu saya pernah bermimpi. Saya diajari membuat perahu, didalam mimpi itu saya diperlihatkan alat-alat apa yang dipergunakan saat membuat perahu serta cara-cara pembuatannya". Ungkap Dg. Baso

"Ooh, kaumi di hoja. Kunne ko" (Oh, kau lah yang dicari, ayo sini)

Setelah mengadakan pencarian tentang orang yang ahli membuat perahu, tak satupun yang bisa. Hanya Dg. Baso. Itupun dia hanya bermodalkan mimpi. Setelah itu Dg. Baso pun bertemu dengan Sawerigading.

"Jadi kau ini ahli membuat perahu?" Tanya Sawerigading

"Tidak, saya tidak bisa membuatnya, hanya saja saya pernah bermimpi membuat benda tersebut" Jawab Dg. Baso

"Oh kalau begitu, lakukanlah seperti dalam mimpimu" Ujar Sawerigading

Setelah itu Dg. Baso dibawa ke hutan untuk mencari alat-alat apa saja yang digunakan dalam membuat perahu. Sesampainya di hutan, Dg. Baso terkejut karena pohon yang hendak iya jadikan sebagai bahan membuat perahu sama persis dalam mimpinya. Bahkan setelah itu saat dia membuat perahu tak ada sedikit pun langkah-langkah membuat perahu yang dia lewatkan melainkan sama seperti dalam mimpinya.

Setelah berhari-hari lamanya membuat perahu. Sang perahu pun telah siap berlayar. Sawerigading pun berlayar ke negeri China untuk mempersunting We Cudai. Setelah menemui We Cudai, dibawalah sang istri ke kampung halamannya yaitu Luwu. Namun, Naas. Saat ditengah perjalanan, perahu Phinisi ini mengalami musibah. Perahunya mengalami kecelakaan.

Perahu tersebut terbelah menjadi tiga bagian. Dimana layar dari perahu tersebut terdampar di Bira. Papannya sebagai dinding perahu terdampar di Ara. dan lunasa' (pondasi bawah perahu) terdampar di tanah beru. Tanah beru itu sendiri adalah ibukota dari Kecamatan Bonto Bahari. Bontobahari terdiri dari 3 desa, desa Ara, desa Bira dan Desa Tanah Lemo (atau yang dikenal sekarang sebagai Tanah Beru). Ketiga bagian tersebut lalu dikembangkan menjadi sebuah perahu yang di sebut "Perahu Phinisi". Itulah sebabnya perahu phinisi ini dibuat oleh orang Ara, di kerjakan di Tanah Beru dan di nahkodai oleh Orang Bira. Sungguh unik.

Itu adalah salah satu mitos yang paling terkenal terkait pembuatan perahu Phinisi ini.

"Terus, apalagi keunikan dari phinisi?"

" Ah pernah suatu kali waktu saya masih kecil, nenekku bercerita tentang proses pembuatan perahu. Dimana saat memilih kayu yang hendak digunakan pun mesti teliti. Terkait kualitas sang perahu nantinya. Jika sudah menemukan kayu yang tepat sebelumnya diadakan terlebih dahulu ritual. Kepercayaan pada hal-hal gaib pada zaman itu masih kental. Jika ingin menebang pohon, hendaklah kapak yang digunakan disandarkan dulu ke pohonnya. Lalu tinggalkan. Jika beberapa saat kapak itu terhempas, maka jangan sekali-kali kau menebangnya karena "penunggu" pohon itu tak mengizinkan. Namun ada juga para pembuat perahu yang melanggar. Mereka tetap menebang.

"Pernah juga saat saya masih kuliah ditahun 1983 di Unhas (Universitas Hasanuddin). Ada pameran perahu di Vancouver. Dimana mahasiswa dari Teknik Perkapalan Unhas berinisiatif untuk mengikutsertakan Perahu Phinisi ini sebagai andalan dari Indonesia. Maka dipanggilah para pembuat perahu dari Ara ke Makassar untuk membuatnya. Setelah jadi, perahu itu dilayarkan ke Vancouver yang tentu saja di nahkodai oleh orang Bira. Setibanya di sana. Phinisi ini terlihat gagah. Dan lumayan menarik perhatian.

Ada turis yang tertarik. Lalu bertanya apa keunikan dari perahu ini? Dan seorang arsitek berbicara. "Saya sudah memantau pembuatan perahu phinisi ini dari awal pembuatannya di Indonesia. Perahu ini tidak ada sketsanya yang seperti biasa kita lakukan saat ingin membuat sesuatu. Dan keunikan lainnya jika membuat suatu benda kita menciptakan dulu rangkanya. Namun tidak dengan phinisi ini. Dia membuat terlebih dahulu badan kapal dan sebagainya lalu setelah itu diberikan rangka dan direkatkan menggunakan pasak (pasak ini adalah semacam paku namun terbuat dari kayu). Jadi rangka yang menyesuaikan dengan badan, bukan badan yang berpatokan dengan rangka."

Mendengar cerita itu si turis semakin bergairah untuk memilikinya. Tak berfikir panjang, Phinisi ini di belinya. Lalu dibawanya perahu tersebut ke kampung halamannya di Jerman. Namun, karena dia bersikeras untuk membawa perahu ini tanpa orang Bira sebagai sang nahkoda handal. Maka di perjalanan menuju Jerman, perahu tersebut tenggelam. Innalillah.

"Selain kisah itu, ada lagi cerita tentang pekerja perahu yang tak dibayar upahnya meski sang perahu sudah siap berlayar. Kisah ini bermula ketika sang pembeli tak membayar pekerja nya atas hasil membuat perahu. Saya juga kurang tau kenapa mereka tak digaji. Sampai membuat para pekerja perahu ini saat kecewa dan marah. Dan saat mengetahui perahu phinisi yang dibuatnya besok sudah mau didorong menuju ke lautan, sang pembuat perahu yang kecewa tadi berinisiatif untuk menghalanginya. Mereka membuat sebuah pocong kecil lalu dibacakan mantra (seperti yang saya katakan, orang-orang pada zaman itu masih sangat percaya dengan hal gaib). Setelah dibacakan mantra, pocong kecil itu ditanam beberapa meter di depan perahu.

Keesokan paginya, sang perahu pun siap didorong ke lautan (didorong disini merupakan cara tradisional warga sekitar yang berbondong-bondong mendorong perahu agar sampai ke tepi pantai, agar bisa berlayar). Awalnya saat didorong tak ada kendala, namun pada saat sampai dititik dimana sang pocong yang ditanam semalam oleh para pekerja perahu sampai, phinisi itu tak bisa lagi bergerak. Semacam ada sebuah benteng besar yang tak nampak yang menghalangi. Meski sudah banyak membantu untuk mendorongnya, tetap saja perahu tersebut tak bisa melewati batas tersebut, jika lau bisa bergerak, maka perahu itu berbelok arah, benar-benar tak bisa dilewati. Melihat peristiwa tersebut, para warga yang membantu merasa bingung, tak biasanya ada pemandangan seperti ini.

Maka warga pun bertanya kepada sang empunya perahu. Dimana para pekerja perahu anda? Biasanya merekalah yang harusnya disini menolong anda. Apa ada masalah? Juragan itu pun menjawab, "mungkin mereka marah karena ada sedikit masalah di upah mereka. Aku tak membayar upah mereka". Lalu warga itu berkata "Jangan lah seperti itu, dalam agama islam kita diajarkan bahwa bayarlah upah mereka sebelum keringatnya kering". Mendengar hal tersebut sang juragan pun mengalah, dan berusaha menemui para pekerja perahunya dan meminta bantuan.

"Tolonglah aku, perahu tersebut tak bisa bergerak lagi. Saya janji, Nanti saya akan melunasi upah kalian" Tutur juragan

"Baiklah, esok pagi datanglah lagi kesini, Inshaa Allah perahu itu sudah bisa berlayar." Kata salah satu pekerja perahu.

Pada saat malam tiba, seseorang dari mereka (pembuat perahu) mengambil kembali pocong kecil yang mereka tanam. dan betul keesokan harinya saat hendak didorong kembali dan pastinya kali ini dibantu oleh para pekerja perahu, perahu tersebut meluncur mulus menuju tepi pantai tanpa ada kendala.

Waaah, Ayah apa ada lagi kisah lain tentang Phinisi ini?

"Ada, pernah juga suatu kali ada salah satu pekerja perahu yang lalai dalam bekerja. Tak sengaja dia memotong papan yang dijadikan sebagai badan perahu. Dan saat di satukan ternyata papan ini tak sampai, sehingga ada sedikit celah dari badan perahu. Mendengar hal ini sang pemesan perahu sangat marah. Betapa tidak? Sang pemesan perahu inilah yang mencari sendiri kayu yang dibutuhkan bahkan mencarinyapun sangat sulit karena kayu ini langka. Pekerja ini terus meminta maaf, namun tak dimaafkan. Juragan sangat marah.

Pekerja pun putus asa, lalu dia mengambil papan yang salah potong tadi, lalu di sembahyangkan lah dan meminta doa sejadi-jadinya. "Ya tuhan, hamba tak mampu lagi menghadapinya, kiranya engkau bantu saya Ya Allah untuk mencari jalan keluar dari masalah ini" jerit sang pembuat perahu. Keesokan harinya sang juragan mulai menagih tanggungjawab dari pekerja itu untuk mengganti papan yang dirusaknya. Sang pembuat perahu pun pasrah, dia hanya menunggu hukuman yang diberikan atas kelalaiannya. Namun ketika itu papan tadi bertambah panjang, sehingga saat dipasang dibadan kapal, pas, dan tak ada celah. Sang pembuat perahu pun lega, sang juragan pun senang.

Setelah berhasil keluar dari masalah, sang pekerja memutuskan untuk berhenti karena takut akan terjadi hal lain di luar sanggupnya. Lalu juragan pun mengizinkan dan mencari pekerja baru. Beberapa bulan kemudian, perahu pun jadi. Dan sudah siap dilayarkan. Awalnya perjalanan lancar. Namun, ketika berada ditengah perjalanan, papan yang bermasalah tadi berubah kembali menjadi pendek, sehingga terbuka celah yang cukup besar pada badan perahu. Membuat air laut masuk ke bagian badan perahu dan tenggelam lah perahu itu.

Pelajaran yang bisa kita petik dari peristiwa ini adalah, jangan marah berlebihan, manusia pasti punya salah dan tak luput dari khilaf, maka marah bukan jalan yang efektif untuk menyelesaikan, bahkan mungkin hanya menambah sulit keadaan. Apalagi sampai melukai hati seserang dari lisan kita".

Waktu sudah larut malam, Saya pun mulai ngantuk. Dan Ayah juga. Nanti saja dilanjutkan katanya.


Cerita diatas berdasarkan dari sudut pandang seseorang yang diwariskan ceritanya turun temurun dari nenek moyang . Jika terdapat kekeliruan mohon dimaafkan dan diperbaiki. Dan jika ada keunikan lain dari phinisi ini entah itu tentang langkah-langkah pembuatannya serta peristiwa-peristiwa yang unik terkait dari phinisi ini mohon di share agar kiranya kita bisa saling bertukar informasi tentang kebanggaan dari kampung kita tercinta ini. Suatu kearifan lokal yang menakjubkan. Dan Allah karuniakan kepada kita para pemuda pecinta Bumi Panrita Lopi. Terima Kasih, Ya Rabb.


By Alifah Nurkhairina

Bersambung.....

Minggu, 26 Februari 2017

Once I was 20 y'old

25 Februari 2017
Makassar, 03.15 WITA

Hari ini, tepat 2 dekade perjalananku. Menjelma menjadi gadis yang tumbuh dengan gaya hidup yang kuyakini tak semudah yang kukira. Sebagian kisah klasik hidup telah menerpaku. Mulai dari kisah keluarga yang mengharukan. Bagaimana ketika kami dipisahkan karena tuntutan dunia. Tentang pencarianku terhadap seorang sahabat yang sampai saat ini belum kutemukan dan tentang beberapa orang yang berhasil menciptakan hal yang menakjubkan, entah membuat suka maupun luka yang berkesan.

Diusia ini, aku sudah mulai beradaptasi tentang kejamnya dunia. Dan tak kala juga aku mudah terlena dengan hingar bingar di kehidupan fana. Sebenarnya aku masih terlalu belia untuk bermain didalamnya. Namun, menyerah bukan satu-satunya jawaban. Hari ini, masih banyak mimpi yang belum berani kukejar. Bukan, bukan karena aku pengecut. Ini karena aku masih ragu melangkah sendiri. Aku masih bingung mengambil keputusan saat ada dua pilihan yang berat. Aku memang belum berani. Hari ini, masih ada banyak harap yang berlabuh tinggi. Masih ada niat yang mesti diperbaiki. Namun langkah kaki masih terlalu kecil, belum mampu mengambil jarak yang penuh resiko. Dan masih, hari ini, aku belum berani.

Hari ini perlahan ku renungkan lagi, setelah 20 tahun sudah aku berdiri. Bilakah saya masih lemah, aku akan tumbuh jadi manusia yang tak berdaya. Dan jika hari ini masih aku berfikir seperti itu. Tak akan ku jumpai besok hari yang lebih menantang. Tak akan pernah ada petualangan baru yang mau berkawan denganku. Hari ini, diumur yang baru. Doa kupanjatkan kepada Rabbku. Agar kelak dia datangkan kebahagiaan untuk dunia dan akhiratku. Agar kelak Dia pertemukan ku dengan orang yang menyayangiku. Teruntuk Ayah dan Ibu, anak gadismu satu-satunya telah dewasa, kiranya jangan berhenti mendoakan. Karena segala suksesku berasal dari doamu yang tak pernah henti. Teruntuk saudara laki-lakiku. Jangan pernah berhenti berjuang. Seseorang akan bernilai jika dalam hidup mereka seimbang antara usaha dan doa. Jangan pernah berhenti. Sama-sama kita berjalan. Dan semoga kelak dihadirkan kepadaku, sesosok pemuda yang mampu menemaniku melangkah, sehingga tak ada lagi takut yang ku simpan sejak lama. Sehingga lebih berani aku mengambil keputusan karena sarannya. Sehingga dialah satu-satunya alasan aku selalu bersyukur karena kelembutan hatinya. Dan tak ada lagi alasan untukku mengeluh, karena dialah satu-satunya tempat pulang yang setia menanti.

Semoga aku menjumpaimu diwaktu yang indah.
Dan terima kasih untuk kalian yang berkontribusi dihidupku selama ini :)

Sabtu, 28 Januari 2017

Dibalik kisah mu

Aku mengenal seorang pria. Dia kini tepat berada dipulau yang berbeda dari rumahnya. Diawal keberangkatan tak ada sedikitpun ragu diwajahnya. Bahkan dia sangat senang ingin beranjak. Salam perpisahan pun mulai dilemparkannya. Ada sedikit haru yang hampirku tampakkan. Namun kusimpan bersama doaku saat itu juga "semoga sukses, Allah menjagamu :')"

Pesawat itu mulai menjauh dari kami. Membawa salah satu pemuda yang kami cintai. Melepasnya adalah sebuah keputusan bodoh yang harus kami jalani, Entah sampai kapan sampai dia benar-benar kembali.

Setelah lama merantau pemuda ini mulai sibuk dengan dunia barunya. Pemuda ini sudah mulai berpaling perhatiannya dari kami. Kami pun sedikit lega. setidaknya dia sudah nyaman dengan suasana baru dengan siapapun yang dia panggil teman disana. Pemandangan ini mulai tak kusuka. dia mulai lepas dari jangkauan. Meskipun begitu kubiarkan dahulu. mungkin saja memang ini sudah saatnya menghancurkan ego.

Berlama-lama disana, aku sudah mulai lelah dengan rindu. Entah bagaimana lagi caraku mengusirnya. Era modern membantuku walau hanya sedikit. Postingan foto yang kau pamerkan membuatku sedikit hilang resah. Kulihat kau begitu aktif bersosialisasi. Kau juga sering berjalan-jalan. Aku juga mendengar dari rekan-rekanmu kau adalah pemimpin yang bijak. Senang aku mendengarnya. Wah sungguh enak hidupmu disana. Seandainya kau bisa mengajakku kesana, aku juga ingin mengenal duniamu, hingga aku tau kenapa kau begitu asik disana. Tapi aku takut. Ternyata pulau jawa menawarkanmu berbagai keindahannya. Aku takut, kau mulai lupa Sulawesi. Aku takut kau mulai lupa pulang :( dan aku takut kau mulai lupa tujuan mu untuk hijrah kesana :(

Aku tidak mau kau lepas dari pantauanku. Kulakukan berbagai cara agar tak hilang jejakmu selama disana. Sampai suatu saat benar-benar saya mendapati sebuah tulisan yang engkau tayangkan. dan mulailah kubaca semua dengan hati-hati.

Ternyata, Kak. Selama ini kau menangis. Selama ini duniamu menekanmu. Selama ini batinmu sendiri. Dari tulisanmu yang kubaca kau begitu rindu dengan kami keluargamu. Kau begitu berharap agar pulanglah menjadi satu-satunya jawaban atas lelahmu. Kau sangat pandai dalam menyembunyikan perasaanmu selama ini. Satu hal yang baru aku tau, ternyata rindu mu lebih besar. Tapi kau ahli dalam mengatasinya atau bahkan menyembunyikannya. Seperti yang kau bilang, tidak ada kata terlambat untuk belajar. Belajarlah kak agar kau jadi manusia yang mulia. Belum terlambat kak, Belajarlah demi masa depanmu :)

Terima kasih kak, atas tulisanmu.
Mama selalu bilang kepada kita semua "menulislah, agar engkau dikenal"
Terima kasih atas petuah yang luar biasa.
Kau menjalankan peran mu dengan baik, Kak.
Terima kasih sudah menjadi inspirasi yang terbaik selama ini

Teruntuk kakakku tercinta.
Selamat berjuang Kak.
Salam hangat dari keluargamu disini. Sayang kami kepadamu menembus lapisan langit paling tinggi.
Tomy Rahmatwijaya.