Rabu, 22 November 2017

Minor? Why not?

Foto tahun 2014

Suara minor merupakan suara yang seringkali terasingkan. Tapi tak jarang juga minoritas menjadi center point pada beberapa hal. Menjadi suara minor kadang menyebalkan kadang menyenangkan. Berbicara tentang suara minor, saya merasakannya saat ini. Dalam persaudaraan. Terlahir menjadi satu-satunya gadis, ada suka dan sedihnya. Apa saja suka dan sedihnya jadi satu-satunya anak perempuan? marikii...

Sedihnya:

1. Aset Mainan hanya satu jenis
Simpel saja, orang tua pikirnya saya masih kecil, tau apa tentang mainan anak perempuan dan anak lelaki? Sejatinya anak-anak hanya tau main dan secara otomatis mereka terlihat senang memainkan sesuatu tanpa harus tau mainan siapa ini. Sudah, beli robot saja. sudah, beli mobil-mobilan saja. Sudah! itu saja. Kalau beli boneka tidak bertahan lama. Tamiya? Robot? Aduh Ayahhh...

2. Bekerja Sendiri
Setelah tumbuh dewasa, saya mulai diajarkan bagaimana menjadi gadis sesungguhnya. Dari mulai membersihkan rumah, memasak, mencuci baju, piring, menyapu, mengepel dan beberapa pekerjaan kartini muda lainnya. Aku dituntut untuk mahir. Selain bentuk rasa cinta kepada keluarga, katanya ini persiapan untuk menjadi calon istri dan ibu yang baik. yaelah. Namun, kebanyakan dari teman saya yang punya saudara perempuan, mereka saling berbagi pekerjaan. Contohnya saja ada yang bertugas didapur dan ada yang bertugas di luar dapur. Mereka membuat jadwal untuk mencuci piring dan sebagainya. Kalau diterapkan dikeluargaku? Yah siapa lagi yang bisa diandalkan? Saudara lelakiku? Mustahil :v

3. Susah jadi wanita
Maksudnya kak? Maksudnya lingkungan mempunyai pengaruh tersendiri dalam pembentukan karakter seseorang. Berada di lingkungan mayoritas kaum adam, kupikir sangat sulit untuk tumbuh menjadi wanita sebagaimana adanya. Tak ada kakak perempuan yang bisa jadi panutan. Misalnya belajar dandan, belajar masak, dan belajar apapun yang berhubungan dengan wanita, well ini menjadi tantangan sendiri. Hanya satu patokan, MAMA.

4. Tidak ada teman curhat, teman jalan, teman sepergaulan
Seru rasanya melihat kaka adik yang saling melempar cerita tentang pria yang dikaguminya. Saling berbagi saran dan celaan. Tak jarang juga mereka membuat janji untuk jalan bersama. Sekedar melepas penat ataupun mempererat persaudaraan. Saling beradu argumen tentang selera baju yang berbeda. Berbagi pendapat tentang gaya hidup seorang wanita dan banyak lagi hal-hal yang bisa diperbincangkan sesama wanita. Kalau saya? Curhat ke ibu adalah hal yang paling tepat. Tapi faktanya curhat ke saudara lelaki juga tak kalah menarik. Bahkan lebih banyak saran yang bisa didapat terutama dari sudut pandang mereka. Jadii.... Point ini tak cukup bermasalah menurutku :)

Sekarang sukanya jadi anak tunggal putri...

Sukanya:

1. Semua benda atau apapun itu yang berbau wanita, menjadi hak milik
Yahh salah satu point yang paling aku sukai. Apapun itu, semua menjadi hak milik. Tidak perlu memilih atau berebut, cukup duduk diam, santai, tenang. Kurasa point ini tak perlu banyak penjelasan, bagi mereka yang senasib dengan saya pasti tau betul, yuhuu~

2. Menjadi paling cantik diantara yang lainnya
Apalah daya. Bagaimanapun jeleknya kita, kita akan terlihat paling cantik. Ini sebenarnya salah satu argumen yang naif. Mau dikatakan apalagi, sudah begitu takdirnya, Tidak terima? Sudah terima sajalah :v

3. Ada perhatian lebih, karena satu-satunya
Biasanya jika mempunyai sesuatu dan itu hanya satu-satunya kita memberikan perhatian lebih kepadanya. Sama halnya dengan saya. Saya merasa cukup beruntung. Biasanya jika saya melakukan kesalahan saya ditegur oleh saudara saya. Dan menurut saya itu salah satu bentuk perhatian lebih. Contohnya dulu saat saya mau keluar rumah dan diantar oleh kakak saya, saya ditegur. Katanya "nda mauja antarko kalau nda pake jilbabko". Awalnya saya tidak terima, tapi akhirnya saya mengerti, oke positif saja. Ini salah satu bentuk perhatiannya. Atau contoh lain, saat ada pekerjaan yang lumayan berat, tiba-tiba saja adik saya bilang "jammako kau kerjai ka cewekko" Sebenarnya bisa saya lakukan. Tapi yah saya pikir ini juga salah satu bentuk perhatian lebihnya. Dan masih banyak lagi..

4. Sering dipanggil anak gadisnya Ayah, Mama
Hal ini kurasa sudah sangat jelas, tidak perlu penjelasan hehe.

5. Pewaris gelar ibu, jika beliau tidak di rumah
Mama saya termasuk wanita karir. Beliau jarang di rumah. Karena memang banyak tuntutan pekerjaan, selain itu rumah juga jarang ramai, jadi beliau memilih untuk berada di luar rumah, Katanya kalau sendirian di rumah, kesepian. pikiran lari tak karuan. Nah pada moment ini jika hanya saya di rumah, saya yang mengambil alih perannya. Menghandle pekerjaan rumah, menyiapkan makan untuk yang lainnya, dan membuat suasana rumah agar tetap nyaman sebagai tempat pulang yang paling ideal. Moment ini juga membantuku untuk persiapan menjadi ibu juga nantinya.

6. Tontonan satu jenis
Tak hanya mainan, selera tontonan kita pun berangsur-angsur mulai sepaham. Contohnya saja, sepakbola. Jika sudah jadwalnya, haram hukumnya jika channelnya diganti. Semua penduduk rumah wajib menonton suka tidak suka. Tapi yah seru juga.

FAKTANYA:

1. Saya menikmati peranku sebagai suara minor. Saya bahagia!
2. Fakta kedua, saya sebenarnya punya dua orang kakak yang meninggal saat masih janin dan tidak menutup kemungkinan salah satu diantara mereka ada yang berjenis kelamin perempuan, aduh kakak kita tidak sempat berjumpa :')
3. Jika nanti mereka punya istri, akan kuajar bagaimana aturan main dalam keluargaku, tentang bagaimana kiat-kiat jitu dalam merawat saudara-saudaraku kelak
4. Point 3 hanya inisiatif ataupun cita-cita yang ingin kucapai ini bukan fakta, karena belum benar adanya. Hanya saja saya hanya malas mengedit kembali dan juga agar tulisan ini lebih banyak pointnya hehe
5. Fakta kelima, kini mereka (red: saudaraku) tengah merantau, dan saya ditinggal sendiri dirumah
6. Rumah ternyata lebih asik jika pria lebih mendominasi
7. Katanya anak gadis jika sudah menikah mengikut suaminya.-.
Kekhawatiran yang sering terbayang-bayang. Semoga saja nantinya 'dia' mampu memberikan kesempatan kepadaku untuk tetap menjaga silaturahmi dengan saudaraku yang lainnya. Semoga.
8. Saya lebih bisa mendalami bagaimana pola hidup lelaki. Apa saja yang mereka suka ataupun tidak suka.
9. Tulisan ini saya terbitkan bertepatan dengan hari lahirnya Ayahku. Ini salah satu bentuk dedikasi dari Anak gadisnya. Selamat ulang tahun pahlawan keluarga :")


Catatan diatas berdaftar pustakakan dari pengalaman pribadi dan luapan ungkapan hati. Jika ada kesamaan cerita dan suasana berarti kita senasib. Jika ada ketidaksesuaian mohon dimaklumi karena memang kita semua terlahir berbeda-beda. Terima kasih atas luang waktunya ^^

#Alifah Nurkhairina
Gowa, 22 November 2017
Rabu, 00.00 WITA

Kamis, 16 November 2017

Makna Pahlawan Bagiku

Malam ini, untuk kesekian kalinya, kau menahan sakit lagi. Saat tengah beraktivitas, saat tengah beribadah, saat tengah menjalankan kewajiban bahkan saat dimana semua orang tengah terlelap. Menahan, kau terus menahan. Sesekali kau tak kuasa, kau bagi sakitmu pada seseorang yang berada tepat disampingmu, yah dialah kekasihmu. Dia terbangun dari lelapnya, Dia tidak kaget, hanya sedikit pilu, melihatmu meringis seperti itu. Kekasihmu adalah orang yang paling siaga dalam memenuhi pintamu. Berlarian tak karuan saat kau membutuhkan sesuatu dan kejadian ini terus terulang, hampir disetiap latar, waktu dan suasana yang serupa. Tapi lucunya kalian justru bahagia, yah sangat bahagia.

Beberapa bulan kemudian, sakit ini memuncak. Kau semakin tak bisa membendungnya. Kekasihmu juga tak terlihat baik-baik saja, dia kaget luar biasa. Apa yang harus dilakukan? Hari itu sangat kejam. Malam panjang ditemani hujan yang jatuh dengan ketukan kerasnya. Kekasihmu bingung, bagaimana ini? Teriaknya dalam hati. Mobil taksi melintas, tak berfikir deras, kekasihmu memanggilnya keras dan kau dibawa kesuatu tempat yang kau sendiripun sudah bisa menebaknya bahkan dalam keadaan kau tak sadar. Menjelang moment itu, kalian berpegang tangan, erat. Saling menguatkan dalam tatap dan doa. Sesekali kau mengeluarkan air mata dan senyuman. Kau pasti bisa! Kata semua yang ‘sempat’ melihatmu. Selama proses itu berlangsung, doa tak henti membumbung seperti berlomba menuju langit tertinggi. Sampai akhirnya kalian betul-betul menangis larut dalam bahagia. Ada hadiah dari Allah, seorang anak perempuan.

Seiring berjalannya waktu, gadis ini tumbuh dengan gaya hidup yang kalian yakini. Kalian besarkan dengan kasih sayang dan doa. Kalian kenalkan dengan Allah dan segala kekuasaan-Nya. Kalian lengkapi fasilitasnya untuk terus menjelma menjadi insan yang baik budi pekertinya terhadap sesama. Gadis ini mulai dewasa, mulai bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Kini dia menempuh pendidikan tinggi. Dengan mengandalkan doa dan kepercayaan, kalian lepas dia untuk mengejar cita-citanya.

Karena sibuk, kalian jarang bertemu. Kau dan kekasihmu sibuk melanjutkan hidup. Berfikir terus bagaimana caranya agar besok masih bisa makan. Sementara gadismu juga tengah berusaha ‘katanya’. Belajar dibangku perguruan tinggi yang nyaman, menghabiskan waktu dengan teman sebayanya dimanapun, kapanpun. Namun, tak jarang gadismu lelah dan menyerah. Kau bilang jangan lupa sholat, teruslah belajar, dan jaga kesehatan. Itu pesan yang tidak pernah luput kau ucapkan melalui via suara.

Gadis itu sekarang tengah berada didepan kertas putih. Menulis tentang kejadian masa lalu. Dia ingin bercerita kepada dunia. Bahwa orang tuanya hebat. Tak pernah mengeluh tentang lelah yang dialaminya. Katanya dia telah menemukan pahlawan sesungguhnya. Tak perlu mengikuti dunia, bahwa pahlawan itu dia yang telah berjasa terhadap bangsa. Tak perlu menunggu hari peringatan itu tiba. Baginya ayah ibunya pahlawan sepanjang masa. Sebut saja gadis itu, Aku. Tokoh Kau itu adalah Ibu dan kekasihnya adalah Ayahku. Lantas peristiwa apalagi yang bisa membuatku terkagum kepada mereka? Selembar kertas takkan pernah mampu menampung bagaimana takjubku tentang pengorbanannya. Lantas apalagi yang pantas kuucap selain syukur dan maaf? Mereka memang tak pernah melawan penjajah. Wajah merekapun tak diabadikan sebagai pahlawan bangsa. Tapi mereka nyata, mereka dekat. Lantas siapa lagi yang pantas kusebut pahlawan? Kalian tau? Aku anak beruntung. Kalian harus tau.

#Alifah Nurkhairina
Gowa, 10 November 2017
Jumat, 22.10 WITA