Selasa, 11 Agustus 2020

Tragedi 11 Agustus 2019

Bismillah..

Minggu, 11 Agustus 2019. Tepat dimana seharusnya kita bersuka cita merayakan Hari Raya Idul Adha, rupanya Allah memilih keluarga kami untuk menerima ujiannya. Kejadian luar biasa, begitu cepat dan sangat menyakitkan. Kami mengalami kecelakaan di sekitar Kota Bantaeng pada pukul 16.00 WITA.


Postingan dari akun instagram @makassar_iinfo

Tradisi Kami saat hari Raya tiba adalah mudik ke Bulukumba. Idul Adha kami tahun inipun sama. Selepas menyembeli hewan qurban, kami memutuskan untuk pulang ke makassar, karena kebetulan orangtua kami besok sudah masuk kantor kembali setelah dapat libur hari raya. Kami mengendarai dua mobil, karena beberapa keluarga juga ikut membersamai menuju Makassar. 

Perjalanan dari Bulukumba ke Makassar memang mengarah ke barat. Sehingga pada saat perjalanan sore hari, sangat menyilaukan dan waktu itu matahari sangat terik. Pengendara mobil harus lebih fokus dijalan. Karena mungkin kelelahan, kami para penumpang pun tertidur. Didalam mobil, kami berjumlah 6 orang. Kebetulan yang bawa mobil adik bungsuku.

Singkat cerita, kemudian terjadilah kecelakaan.....

"Kenapako nak?" Teriakan dari Ayah masih sempat kudengar saat kecelakaan itu didepan mata.

Goncang satu mobil dengan suara letusan yang cukup besar. Saya yang kebetulan memangku adik sepupu Saya, kemudian memeluknya erat sembari menjaga kepalanya agak tak terkena benturan. 



Mobil yang sudah terparkir di kantorpolisi

Setelah mobil stabil, kamipun turun untuk menyelamatkan diri. Beberapa detik kemudian, lokasi kecelakaan kami ramai dikemuruni warga setempat.

Rupanya, kecelakaannya cukup parah. Bagian depan mobil sangat hancur. Kami menabrak pertamini yang alhamdulillah tidak meledak, Allah masih mengizinkan kami untuk hidup

Sayapun menangis, adik sepupuku juga ikut menangis. Kami berdua disuruh untuk menepi dan meminum air untuk menenangkan diri. 

Saya mencari Ayah dan adik bungsuku, yang kuyakini pasti terluka sebab mereka duduk paling depan dan kecelakaan ini menimpa bagian depan sangat keras. 

Setelah berhasil kudapati Ayahku, betul saja. Wajahnya lebam, banyak luka ringan dan sedikit darah yang menghiasi wajahnya. Beliau panik, belum pernah saya melihat orang yang kukenal tegar ini menampakkan wajah kepanikan begitu hebat. Beliau, dengan wajah yang berdarah-darah, mencoba mencari anak-anaknya yang kebetulan sudah tersebar, ditenangkan oleh warga. Mondar-mandir kesana kemari, memastikan kami semua aman dan sudah tertangani. Saat beliau menghampiriku, beliau sempat duduk sejenak dan juga menenangkan diri. Terlihat jelas luka diwajahnya, dan kuminta agar diobati terlebih dahulu tapi beliau tidak mau. Kuperhatikan lebih jelas lagi, matanya sangat berbinar. Seperti orang yang menahan tangisnya. Yah, bisa kurasakan perasaanya jika Saya menjadi dia. 

Sementara itu..

Ternyata, dibawah mobil kami ada satu orang pria yang tak sadarkan diri. Kamipun semakin panik, takut terjadi apa-apa dengan pria ini. Perut dan kepalanya penuh darah. Alhamdulillah kami melihat masih ada nafas disana, Allah masih berikan kesempatan beliau hidup setelah ambulance datang menyelamatkan menuju kerumah sakit.


Setelah polisi datang, kami semua naik kemobil polisi dan dibawah ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya naik mobil polisi diliputi rasa risau, panik. Mungkin kalian bisa mencoba membayangkan jika ada diposisi kami. Ayahku mencoba menenangkan kami.

Tiba dikantor polisi, kudapati Mama dan kakaku yang sudah lebih dulu berada dikantor polisi (Mama dan kakaku berada dimobil kedua). Saya sangat takut melihat Mamaku karena beliau mempunyai riwayat penyakit jantung, mungkin beliau sangat guncang mendengar kabar ini. Tapi, luar biasa. Kudapati beliau sangat tenang, Saya tak tau bagaimana perasaannya bergejolak didalam, tapi dia betul-betul bersikap tenang dan berusaha merangkul kita satu persatu. Memastikan semua stabil dan merasa nyaman. Itulah hebatnya seorang Mama.

Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Mamaku langsung panik saat mendapati adik bungsuku (yang kebetulan jadi sopir dimobil yang kecelakaan tadi) belum ditemukan. Adikku hilang, entah kemana. Polisi  dan kami semua mencarinya. Tak bisa dihubungi, karena hpnya tertinggal dimobil, kamipun kembali panik. Takut jika adikku diambil orang karena ketahuan sudah menabrak orang. Kami kembali panik.

Setelah menunggu kurang lebih 40 menit. Tiba-tiba ponsel Mamaku berdering, tertera nomor baru yang menghubungi. Alhamdulillah, itu adik bungsuku yang sempat menghilang tadi, segeralah dijemput dan di bawa ke kantor polisi.

--

Adikku bukan sengaja menghilang dan tidak mau bertanggungjawab. Ini pesan Ayahku, pas saat turun dari mobil, Ayahku langsung menarik adikku untuk menjauh dari keramaian. Ayahku sudah tau, bagaimana resikonya jika menabrak orang, mungkin supirnya akan dimassa oleh warga, jadi Ayahku mengamankannya. Setelah jauh dari keramaian, Ayahku berpesan:

"janganko kemana-mana dulu nah nak, sebentar pi baru kujemputko lagi, kuselamatkan dulu yang lain dengan korbannya", pesan Ayah kepada adik bungsuku.

Rupanya, adikku mungkin butuh air minum untuk menenangkan hati dan pikirannya. Kemudian dia berjalan menjauhi keramaian sejauh kurang lebih 1 km. Lalu mendapati toko swalayan dan memutuskan untuk membeli air minum. Kebetulan disaku celananya ada beberapa uang yang masih cukup untuk membeli air minum. Allah memang betul-betul menolong kami. Didalam swalayan itu, adik bungsuku bertemu dengan seniornya di kampus. Lalu adikku menceritakan semua kejadian, dan seniornya meminjamkan handphone untuk menghubungi keluarga yang sudah ada di kantor polisi.

---

Lewat tulisan ini, Saya mencoba membuat teman-teman bisa merasakan kejadian ini. Pernah tidak, terbayang di hidupmu, salah satu anggota keluargamu yang kau kenal tegap, tegar, tiba-tiba tertunduk lesu tak berdaya? didepan matamu kau lihat dia berjalan menuju masuk kantor polisi untuk dimintai pertanggungjawaban? terlebih lagi jika dia masih sangat muda dan sepertinya belum bisa menghadapi ini semua? Pemandangan itu kulihat tepat didepan mataku, adikbungsuku tertunduk lesu menuju ke kantor polisi. Saya tau dia tidak sengaja, tapi tetap dia harus bertanggungjawab, air matakupun tumpah.

Sembari menunggu hasil keterangan, pihak keluargapun mulai berdatangan. Keluarga dari Ara (Bulukumba), Jeneponto dan beberapa mahasiswa dari Mamaku yang kebetulan pernah diajar di Bantaeng. Mereka semua datang memberi dukungan dan doa. Betul-betul terlihat orang-orang baik yang berhasil menambah kekuatan kami untuk lebih tegar menghadapinya. Singkat cerita, adikku harus bermalam di kantor polisi (tapi tidak didalam sel) karena untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kamipun disuruh untuk pulang dan beristirahat.

Semenjak kejadian itu, Jika melewati lokasi kecelakaan di Bantaeng, Ayah selalu menyempatkan singgah dan seperti memutar kembali ingatan saat kami dulu kecelakaan. Bagaimana suasana ketegangan pada saat itu dan alur ceritanya, kembali kami kenang. 

Terima kasih kepada seluruh keluarga, sahabat, kerabat, tetangga dan teman2 yang telah membantu baik bantuan materi, dukungan serta doa yang tdk hentinya. Kami sekeluarga mohon maaf jika ada salah selama ini. Semoga semua kembali membaik dan segala trauma bisa cepat pulih. Semoga smua urusan diberikan kemudahan. Aamiin ya Allah.

2 komentar:

  1. Balasan
    1. Unknown masih misterius huhu, tapi makasihh sudah berkunjung keblog ku dan berkomentar di beberapa postingan :)

      Hapus