Jumat, 18 Agustus 2023

Merdeka dalam Bekerja, Sudahkah kita?

OPINI, Terbit di Tribun Timur, Edisi Rabu, 9 Agustus 2023


Bulan Agustus bagi rakyat Indonesia menjadi momentum untuk belajar memaknai defenisi kemerdekaan yang sesungguhnya. Selain untuk mengenang para pahlawan dan segala jatuh bangunnya dalam memperjuangkan kemerdekaan Ibu Pertiwi, Hari Kemerdekaan RI yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus ini juga dijadikan sebagai refleksi diri untuk masing-masing individu terhadap segala perjuangan yang telah dilewati.

Ada banyak hal yang bisa dijadikan sebagai bahan refleksi diri. Beberapa diantaranya adalah prestasi dalam belajar, ketepatan dalam memilih pasangan hidup, hubungan antar keluarga, circle pertemanan yang positif dan tidak toxic bahkan yang paling terpenting dan cukup meresahkan adalah dalam hal memilih pekerjaan.

Selain memilih pasangan hidup, hal lain yang menjadi keputusan terbesar dalam hidup dan harus dipastikan tidak boleh salah adalah memilih pekerjaan. Meskipun tidak sedikit juga diantara kita yang kurang beruntung dalam pilihannya, tetapi itu sudah cukup untuk dijadikan modal dan pembelajaran kedepannya agar tidak terjatuh dalam kesalahan yang sama ketika harus kembali memilih.

Sebelum memilih pekerjaan, ada dua hal lagi yang harus diperhatikan. Pertama, apakah kita siap menjadi seseorang yang memiliki atasan atau yang kedua, apakah kita sudah siap menjadi atasan dengan segala tanggungjawabnya?

Ketika memilih untuk menjadi pegawai, tentu kita sudah setuju dengan segala arahan dari atasan. Siap bekerja dibawah tekanan, bertemu dengan orang-orang yang itu-itu saja setiap harinya dan kadang dengan rutinitas yang sama dan terus berulang. Membosankan memang, tapi ketika kita telah siap diri dan mental, tentu hal ini bukan suatu masalah. Disinilah kesempatan untuk lebih mengenal dan mengupgrade kemampuan diri, entah itu kemampuan menjalin komunikasi terhadap atasan dan rekan kerja, kemampuan mengelola deadline yang menghantui serta segala tekanan-tekanan yang berhasil dilewati. 

Hal-hal lain yang menjanjikan ketika memilih menjadi seorang pegawai adalah jaminan kesehatan dan hari tua serta jenjang karir yang menunjang. Lebih spesifik lagi bagi pegawai yang bekerja untuk negara, tentu saja punya nilai “lebih” dibeberapa golongan masyarakat bahkan bisa dijadikan salah satu alasan untuk menerima lamaran pemuda ketika meminang seorang gadis.



Ketika lebih minat menjadi seorang pengusaha, tentu juga sudah memikirkan baik buruknya pilihan yang diambil. Bukan tanpa alasan, ketika kita mendapati saat ini banyak tempat umum seperti tempat jogging, perpustakaan, taman kota, cafe hits terlihat cukup ramai dikunjungi orang bahkan pada hari kerja. Hal ini membuat kita berasumsi bahwa fenomena tersebut terjadi karena pekerjaan yang dipilih tidak lagi bergantung pada jam kerja yang padat dan telah diatur sedemikian rupa. Keadaan seperti ini biasanya dimiliki oleh seorang pengusaha, bisa bekerja dimana saja dan jam kerja yang lebih fleksibel.

Meskipun terdengar lebih fleksibel dalam bekerja, menjadi seorang pengusaha itu tidaklah mudah. Bagaimana harus merasakan lika liku merintis usaha dari bawah, mencari karyawan atau pegawai yang sesuai dengan posisi yang diinginkan, mengatur keuangan sedetail mungkin agar tidak mengalami kerugian yang berlebih dan segala macam problematikanya. Terlebih lagi di zaman yang katanya sangat sulit melamar pekerjaan diperusahaan-perusahaan, menjadi seorang pengusaha membuat kita bisa menawarkan solusi untuk menekan angka pengangguran di Indonesia yang cukup memprihatinkan. 

Menjadi pengusaha, bisa membentuk kita menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana. Ditambah lagi sanjungan yang datang dari keluarga serta kerabat yang mengetahui kita mampu mendirikan dan mengelola usaha sendiri dengan baik. Selain itu, masih banyak skill-skill individu dan kelompok yang kadang tidak kita temukan di bangku sekolah formal yang bisa langsung dipraktekan dalam berusaha. Semua bebas atas kehendak, tidak ada yang bisa mengatur dan semaunya bertindak.

Terlepas dari itu semua, adalah bagaimana kita mencintai dan bersyukur terhadap pilihan yang diambil. Menjadi seorang pegawaikah atau seorang pengusaha kita harus berdamai dengan segala risikonya dan menjadikan segala pencapaian sebagai momentum untuk lebih berkarya.

 Pekerjaan apapun yang dijalani saat ini, pegawai atau pengusahakah, keduanya atau bahkan tidak keduanya sama sekali, pastikan bahwa itu sesuai dengan kehendak dan isi hati. Hindari memilih pekerjaan yang tidak disenangi hanya karena mengikuti omongan-omongan orang lain yang menghantui. Mantapkan pilihan dan merdekalah dalam bekerja, agar semuanya terasa mudah dijalani dan bisa terus produktif baik sebagai pegawai, pengusaha atau pekerjaan halal apapun itu yang ada di muka bumi.

Jika masih saja terjebak dalam dua pilihan ini, mengapa tidak mencoba keduanya saja?