Malam ini, untuk kesekian kalinya, kau menahan sakit lagi. Saat tengah beraktivitas, saat tengah beribadah, saat tengah menjalankan kewajiban bahkan saat dimana semua orang tengah terlelap. Menahan, kau terus menahan. Sesekali kau tak kuasa, kau bagi sakitmu pada seseorang yang berada tepat disampingmu, yah dialah kekasihmu. Dia terbangun dari lelapnya, Dia tidak kaget, hanya sedikit pilu, melihatmu meringis seperti itu. Kekasihmu adalah orang yang paling siaga dalam memenuhi pintamu. Berlarian tak karuan saat kau membutuhkan sesuatu dan kejadian ini terus terulang, hampir disetiap latar, waktu dan suasana yang serupa. Tapi lucunya kalian justru bahagia, yah sangat bahagia.
Beberapa bulan kemudian, sakit ini memuncak. Kau semakin tak bisa membendungnya. Kekasihmu juga tak terlihat baik-baik saja, dia kaget luar biasa. Apa yang harus dilakukan? Hari itu sangat kejam. Malam panjang ditemani hujan yang jatuh dengan ketukan kerasnya. Kekasihmu bingung, bagaimana ini? Teriaknya dalam hati. Mobil taksi melintas, tak berfikir deras, kekasihmu memanggilnya keras dan kau dibawa kesuatu tempat yang kau sendiripun sudah bisa menebaknya bahkan dalam keadaan kau tak sadar.
Menjelang moment itu, kalian berpegang tangan, erat. Saling menguatkan dalam tatap dan doa. Sesekali kau mengeluarkan air mata dan senyuman. Kau pasti bisa! Kata semua yang ‘sempat’ melihatmu. Selama proses itu berlangsung, doa tak henti membumbung seperti berlomba menuju langit tertinggi. Sampai akhirnya kalian betul-betul menangis larut dalam bahagia. Ada hadiah dari Allah, seorang anak perempuan.
Seiring berjalannya waktu, gadis ini tumbuh dengan gaya hidup yang kalian yakini. Kalian besarkan dengan kasih sayang dan doa. Kalian kenalkan dengan Allah dan segala kekuasaan-Nya. Kalian lengkapi fasilitasnya untuk terus menjelma menjadi insan yang baik budi pekertinya terhadap sesama. Gadis ini mulai dewasa, mulai bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Kini dia menempuh pendidikan tinggi. Dengan mengandalkan doa dan kepercayaan, kalian lepas dia untuk mengejar cita-citanya.
Karena sibuk, kalian jarang bertemu. Kau dan kekasihmu sibuk melanjutkan hidup. Berfikir terus bagaimana caranya agar besok masih bisa makan. Sementara gadismu juga tengah berusaha ‘katanya’. Belajar dibangku perguruan tinggi yang nyaman, menghabiskan waktu dengan teman sebayanya dimanapun, kapanpun. Namun, tak jarang gadismu lelah dan menyerah. Kau bilang jangan lupa sholat, teruslah belajar, dan jaga kesehatan. Itu pesan yang tidak pernah luput kau ucapkan melalui via suara.
Gadis itu sekarang tengah berada didepan kertas putih. Menulis tentang kejadian masa lalu. Dia ingin bercerita kepada dunia. Bahwa orang tuanya hebat. Tak pernah mengeluh tentang lelah yang dialaminya. Katanya dia telah menemukan pahlawan sesungguhnya. Tak perlu mengikuti dunia, bahwa pahlawan itu dia yang telah berjasa terhadap bangsa. Tak perlu menunggu hari peringatan itu tiba. Baginya ayah ibunya pahlawan sepanjang masa. Sebut saja gadis itu, Aku. Tokoh Kau itu adalah Ibu dan kekasihnya adalah Ayahku. Lantas peristiwa apalagi yang bisa membuatku terkagum kepada mereka? Selembar kertas takkan pernah mampu menampung bagaimana takjubku tentang pengorbanannya. Lantas apalagi yang pantas kuucap selain syukur dan maaf? Mereka memang tak pernah melawan penjajah. Wajah merekapun tak diabadikan sebagai pahlawan bangsa. Tapi mereka nyata, mereka dekat. Lantas siapa lagi yang pantas kusebut pahlawan? Kalian tau? Aku anak beruntung. Kalian harus tau.
#Alifah Nurkhairina
Gowa, 10 November 2017
Jumat, 22.10 WITA
Kamis, 16 November 2017
Minggu, 15 Oktober 2017
Bagian Satu: Awal Kenal
Gowa, 23.11 WITA
Sabtu, 14 Oktober 2017
Waktu itu aku tengah rehat. Dengan pandangan kosong. Sesekali ku palingkan wajahku kearah berlawanan, tapi tetap. Kosong. Dan begitu beberapa kali.
Waktu itu tengah malam. Sosokmu menjelma sebagai makhluk awam. Kau memainkan gemarmu, mengambil alih perhatianku. Mata dan senyummu yang menyapaku sejuk. Esoknya, aku masih hilang akal. Kubilang ingin mengenalmu lebih jauh.
Berbicara perihal mengagumi, hm kurasa sudah hal biasa dalam kalangan remaja. Apalagi yang dimabuk cinta. Saya seorang mahasiswa semester tengah. Menjadi pengagum rahasia itu suatu profesi yang cukup menantang. Kehidupan kampus yang cukup menggoda. Kenalkan, saya Seorang pengagum rahasia kelas akut.
Aku bertemu dengan seorang pria. Aku mengagumi dia semenjak pertemuan perdana. Tapi dia dingin. Lebih dingin dari apapun yang dingin. Berada di satu tempat yang sama tidak menjamin kami bisa dekat. Saya selalu mencuri kesempatan saat saya tak sengaja bertemu di jalan. Saya mencari kesempatan saat dari kejauhan pun sudah nampak tas yang sering di pakainya. Saya sering menatapnya tajam saat dia sedang beraktivitas. Tapi terkadang disaat bersamaan aku selalu tertawa melihatnya begitu, aduh kamu.
Tiba-tiba tak sengaja kita berada di satu jalan yang sama. Dari jauh sudah kupikirkan bagaimana tingkahku saat berpapasan, Bagaimana mimik wajah yang bagus ku tampilkan, atau atau aku harus senyum atau cuek? aaah aku terlalu takut, aku terlalu malu.
Kali ini kita bertatap muka. Kau memandangku biasa, tapi aku membalasnya luar biasa. Seperti yang kubilang, aku sedang berada dalam kesempatanku. Tapi kadang kala aku tak mau melihatmu. Bukan, bukan berarti aku tak mengindahkan kesempatan itu, hanya saja aku takut tak bisa menahan senangku saat di tatapmu. Aku takut lepas kendali.
Bertatap mata denganmu tak pernah aku rencanakan sebelumnya. Kau tau, tatapan biasamu itu mampu membuatku senang tak terkira hanya saja kau tak melihatnya, aku sengaja menyembunyikannya. Setelah kau berlalu, aku menoleh lagi, memperhatikan sisi lainmu lagi, cuman ingin menghabiskan kesempatan ini, setelah itu aku menoleh kembali, aku berteriak. Sekencang-kencangnya. didalam hati. Mungkin hatiku goncang. Kau pelakunya. kau harus tanggungjawab he he.
Aku suka diposisi ini. Bebas mengagumimu dari sudut manapun. Aku tidak mau kau tau. Kalau kau tau, habislah aku. Tetaplah begitu menjadi objek pandangku, Tak perlu khawatir, aku berusaha mendapatkan informasi keseharianmu tanpa mengganggumu. Dengan mengandalkan media sosial milikmu, Jangan bosan yah.
Bersambung...
Sabtu, 14 Oktober 2017
Waktu itu aku tengah rehat. Dengan pandangan kosong. Sesekali ku palingkan wajahku kearah berlawanan, tapi tetap. Kosong. Dan begitu beberapa kali.
Waktu itu tengah malam. Sosokmu menjelma sebagai makhluk awam. Kau memainkan gemarmu, mengambil alih perhatianku. Mata dan senyummu yang menyapaku sejuk. Esoknya, aku masih hilang akal. Kubilang ingin mengenalmu lebih jauh.
Berbicara perihal mengagumi, hm kurasa sudah hal biasa dalam kalangan remaja. Apalagi yang dimabuk cinta. Saya seorang mahasiswa semester tengah. Menjadi pengagum rahasia itu suatu profesi yang cukup menantang. Kehidupan kampus yang cukup menggoda. Kenalkan, saya Seorang pengagum rahasia kelas akut.
Aku bertemu dengan seorang pria. Aku mengagumi dia semenjak pertemuan perdana. Tapi dia dingin. Lebih dingin dari apapun yang dingin. Berada di satu tempat yang sama tidak menjamin kami bisa dekat. Saya selalu mencuri kesempatan saat saya tak sengaja bertemu di jalan. Saya mencari kesempatan saat dari kejauhan pun sudah nampak tas yang sering di pakainya. Saya sering menatapnya tajam saat dia sedang beraktivitas. Tapi terkadang disaat bersamaan aku selalu tertawa melihatnya begitu, aduh kamu.
Tiba-tiba tak sengaja kita berada di satu jalan yang sama. Dari jauh sudah kupikirkan bagaimana tingkahku saat berpapasan, Bagaimana mimik wajah yang bagus ku tampilkan, atau atau aku harus senyum atau cuek? aaah aku terlalu takut, aku terlalu malu.
Kali ini kita bertatap muka. Kau memandangku biasa, tapi aku membalasnya luar biasa. Seperti yang kubilang, aku sedang berada dalam kesempatanku. Tapi kadang kala aku tak mau melihatmu. Bukan, bukan berarti aku tak mengindahkan kesempatan itu, hanya saja aku takut tak bisa menahan senangku saat di tatapmu. Aku takut lepas kendali.
Bertatap mata denganmu tak pernah aku rencanakan sebelumnya. Kau tau, tatapan biasamu itu mampu membuatku senang tak terkira hanya saja kau tak melihatnya, aku sengaja menyembunyikannya. Setelah kau berlalu, aku menoleh lagi, memperhatikan sisi lainmu lagi, cuman ingin menghabiskan kesempatan ini, setelah itu aku menoleh kembali, aku berteriak. Sekencang-kencangnya. didalam hati. Mungkin hatiku goncang. Kau pelakunya. kau harus tanggungjawab he he.
Aku suka diposisi ini. Bebas mengagumimu dari sudut manapun. Aku tidak mau kau tau. Kalau kau tau, habislah aku. Tetaplah begitu menjadi objek pandangku, Tak perlu khawatir, aku berusaha mendapatkan informasi keseharianmu tanpa mengganggumu. Dengan mengandalkan media sosial milikmu, Jangan bosan yah.
Bersambung...
Kamis, 02 Maret 2017
Si Tangguh dari Bumi Panrita Lopi Vol.1
Taken by: Alifah Nurkhairina
Makassar, 02.19 WITA
Selasa, 28 Februari 2017
Malam ini saat lampu padam. Gelap gulita tak terkalahkan.
Kunyalakan cahaya. Lilin itu membara. Dia menemaniku, sepertinya dia juga ingin mendengarkan saat Ayah menceritakan sebuah kisah masa lalu.
Legenda Perahu Phinisi judulnya.
Berbicara tentang perahu Phinisi, saya sangat tertarik dan sangat penasaran. Langkah awal saya, yaitu dengan mencari tahu sedikit demi sedikit tentang Perahu ini. Dan saya memutuskan untuk mewawancarai salah satu orang yang mengetahui sedikit tentang perahu phinisi. Ya dia Ayahku. Sedikit menjawab rasa penasaranku.
"Ayah coba jelaskan, apa - apa yang kita tau tentang Phinisi?"
"Phinisi itu perahu tradisional yang sudah mendunia. Phinisi ini unik. Ada sejarah yang menceritakan bahwa, suatu ketika Sawerigading hendak berlayar ke China demi seorang perempuan yang dicintainya yaitu We Cudai. Namun untuk sampai ke negeri China tidaklah mudah. Hamparan samudera menjadi penghalangnya. Sampai suatu ketika ada seseorang yang berkata kepadanya, Wahai baginda. Jikalau hendak baginda ke Negeri China, seberangilah lautan itu dengan sesuatu yang bisa terapung dan bisa membuatmu sampai ke tujuan.
Maka Sawerigading pun memerintahkan kepada pesuruhnya untuk mencari dari ujung Luwu sampai batas yang tidak ditentukan, yaitu seorang yang ahli merakit "perahu". Sawerigading pun membuat sayembara untuk siapa saja yang bisa membuat perahu. Cerita tentang keinginan Sawerigading ini mulai meluas ke masyarakat sekitar. Menjadi satu pokok pembicaraan hangat saat tengah bersantai. Sampai suatu ketika, berita itu didengar oleh Dg. Baso. Dg. Baso ini adalah seorang tukang kebun. Pada saat itu dia tengah asyik berbincang-bincang dengan temannya.
Dalam bahasa Ara.
"Macccako a'baju lopi?" (Kamu pintar membuat perahu?)
" Anre. Nungura njo tanja'na lopi? (Tidak, bagaimana bentuknya perahu itu?) Tutur Dg. Baso
" bla bla bla(kebetulan saya lupa bahasa Aranya, yang jelas artinya "perahu itu yang bisa terapung dilaut)
" Ooh, tunggu dlu saya pernah bermimpi. Saya diajari membuat perahu, didalam mimpi itu saya diperlihatkan alat-alat apa yang dipergunakan saat membuat perahu serta cara-cara pembuatannya". Ungkap Dg. Baso
"Ooh, kaumi di hoja. Kunne ko" (Oh, kau lah yang dicari, ayo sini)
Setelah mengadakan pencarian tentang orang yang ahli membuat perahu, tak satupun yang bisa. Hanya Dg. Baso. Itupun dia hanya bermodalkan mimpi. Setelah itu Dg. Baso pun bertemu dengan Sawerigading.
"Jadi kau ini ahli membuat perahu?" Tanya Sawerigading
"Tidak, saya tidak bisa membuatnya, hanya saja saya pernah bermimpi membuat benda tersebut" Jawab Dg. Baso
"Oh kalau begitu, lakukanlah seperti dalam mimpimu" Ujar Sawerigading
Setelah itu Dg. Baso dibawa ke hutan untuk mencari alat-alat apa saja yang digunakan dalam membuat perahu. Sesampainya di hutan, Dg. Baso terkejut karena pohon yang hendak iya jadikan sebagai bahan membuat perahu sama persis dalam mimpinya. Bahkan setelah itu saat dia membuat perahu tak ada sedikit pun langkah-langkah membuat perahu yang dia lewatkan melainkan sama seperti dalam mimpinya.
Setelah berhari-hari lamanya membuat perahu. Sang perahu pun telah siap berlayar. Sawerigading pun berlayar ke negeri China untuk mempersunting We Cudai. Setelah menemui We Cudai, dibawalah sang istri ke kampung halamannya yaitu Luwu. Namun, Naas. Saat ditengah perjalanan, perahu Phinisi ini mengalami musibah. Perahunya mengalami kecelakaan.
Perahu tersebut terbelah menjadi tiga bagian. Dimana layar dari perahu tersebut terdampar di Bira. Papannya sebagai dinding perahu terdampar di Ara. dan lunasa' (pondasi bawah perahu) terdampar di tanah beru. Tanah beru itu sendiri adalah ibukota dari Kecamatan Bonto Bahari. Bontobahari terdiri dari 3 desa, desa Ara, desa Bira dan Desa Tanah Lemo (atau yang dikenal sekarang sebagai Tanah Beru). Ketiga bagian tersebut lalu dikembangkan menjadi sebuah perahu yang di sebut "Perahu Phinisi". Itulah sebabnya perahu phinisi ini dibuat oleh orang Ara, di kerjakan di Tanah Beru dan di nahkodai oleh Orang Bira. Sungguh unik.
Itu adalah salah satu mitos yang paling terkenal terkait pembuatan perahu Phinisi ini.
"Terus, apalagi keunikan dari phinisi?"
" Ah pernah suatu kali waktu saya masih kecil, nenekku bercerita tentang proses pembuatan perahu. Dimana saat memilih kayu yang hendak digunakan pun mesti teliti. Terkait kualitas sang perahu nantinya. Jika sudah menemukan kayu yang tepat sebelumnya diadakan terlebih dahulu ritual. Kepercayaan pada hal-hal gaib pada zaman itu masih kental. Jika ingin menebang pohon, hendaklah kapak yang digunakan disandarkan dulu ke pohonnya. Lalu tinggalkan. Jika beberapa saat kapak itu terhempas, maka jangan sekali-kali kau menebangnya karena "penunggu" pohon itu tak mengizinkan. Namun ada juga para pembuat perahu yang melanggar. Mereka tetap menebang.
"Pernah juga saat saya masih kuliah ditahun 1983 di Unhas (Universitas Hasanuddin). Ada pameran perahu di Vancouver. Dimana mahasiswa dari Teknik Perkapalan Unhas berinisiatif untuk mengikutsertakan Perahu Phinisi ini sebagai andalan dari Indonesia. Maka dipanggilah para pembuat perahu dari Ara ke Makassar untuk membuatnya. Setelah jadi, perahu itu dilayarkan ke Vancouver yang tentu saja di nahkodai oleh orang Bira. Setibanya di sana. Phinisi ini terlihat gagah. Dan lumayan menarik perhatian.
Ada turis yang tertarik. Lalu bertanya apa keunikan dari perahu ini? Dan seorang arsitek berbicara. "Saya sudah memantau pembuatan perahu phinisi ini dari awal pembuatannya di Indonesia. Perahu ini tidak ada sketsanya yang seperti biasa kita lakukan saat ingin membuat sesuatu. Dan keunikan lainnya jika membuat suatu benda kita menciptakan dulu rangkanya. Namun tidak dengan phinisi ini. Dia membuat terlebih dahulu badan kapal dan sebagainya lalu setelah itu diberikan rangka dan direkatkan menggunakan pasak (pasak ini adalah semacam paku namun terbuat dari kayu). Jadi rangka yang menyesuaikan dengan badan, bukan badan yang berpatokan dengan rangka."
Mendengar cerita itu si turis semakin bergairah untuk memilikinya. Tak berfikir panjang, Phinisi ini di belinya. Lalu dibawanya perahu tersebut ke kampung halamannya di Jerman. Namun, karena dia bersikeras untuk membawa perahu ini tanpa orang Bira sebagai sang nahkoda handal. Maka di perjalanan menuju Jerman, perahu tersebut tenggelam. Innalillah.
"Selain kisah itu, ada lagi cerita tentang pekerja perahu yang tak dibayar upahnya meski sang perahu sudah siap berlayar. Kisah ini bermula ketika sang pembeli tak membayar pekerja nya atas hasil membuat perahu. Saya juga kurang tau kenapa mereka tak digaji. Sampai membuat para pekerja perahu ini saat kecewa dan marah. Dan saat mengetahui perahu phinisi yang dibuatnya besok sudah mau didorong menuju ke lautan, sang pembuat perahu yang kecewa tadi berinisiatif untuk menghalanginya. Mereka membuat sebuah pocong kecil lalu dibacakan mantra (seperti yang saya katakan, orang-orang pada zaman itu masih sangat percaya dengan hal gaib). Setelah dibacakan mantra, pocong kecil itu ditanam beberapa meter di depan perahu.
Keesokan paginya, sang perahu pun siap didorong ke lautan (didorong disini merupakan cara tradisional warga sekitar yang berbondong-bondong mendorong perahu agar sampai ke tepi pantai, agar bisa berlayar). Awalnya saat didorong tak ada kendala, namun pada saat sampai dititik dimana sang pocong yang ditanam semalam oleh para pekerja perahu sampai, phinisi itu tak bisa lagi bergerak. Semacam ada sebuah benteng besar yang tak nampak yang menghalangi. Meski sudah banyak membantu untuk mendorongnya, tetap saja perahu tersebut tak bisa melewati batas tersebut, jika lau bisa bergerak, maka perahu itu berbelok arah, benar-benar tak bisa dilewati. Melihat peristiwa tersebut, para warga yang membantu merasa bingung, tak biasanya ada pemandangan seperti ini.
Maka warga pun bertanya kepada sang empunya perahu. Dimana para pekerja perahu anda? Biasanya merekalah yang harusnya disini menolong anda. Apa ada masalah? Juragan itu pun menjawab, "mungkin mereka marah karena ada sedikit masalah di upah mereka. Aku tak membayar upah mereka". Lalu warga itu berkata "Jangan lah seperti itu, dalam agama islam kita diajarkan bahwa bayarlah upah mereka sebelum keringatnya kering". Mendengar hal tersebut sang juragan pun mengalah, dan berusaha menemui para pekerja perahunya dan meminta bantuan.
"Tolonglah aku, perahu tersebut tak bisa bergerak lagi. Saya janji, Nanti saya akan melunasi upah kalian" Tutur juragan
"Baiklah, esok pagi datanglah lagi kesini, Inshaa Allah perahu itu sudah bisa berlayar." Kata salah satu pekerja perahu.
Pada saat malam tiba, seseorang dari mereka (pembuat perahu) mengambil kembali pocong kecil yang mereka tanam. dan betul keesokan harinya saat hendak didorong kembali dan pastinya kali ini dibantu oleh para pekerja perahu, perahu tersebut meluncur mulus menuju tepi pantai tanpa ada kendala.
Waaah, Ayah apa ada lagi kisah lain tentang Phinisi ini?
"Ada, pernah juga suatu kali ada salah satu pekerja perahu yang lalai dalam bekerja. Tak sengaja dia memotong papan yang dijadikan sebagai badan perahu. Dan saat di satukan ternyata papan ini tak sampai, sehingga ada sedikit celah dari badan perahu. Mendengar hal ini sang pemesan perahu sangat marah. Betapa tidak? Sang pemesan perahu inilah yang mencari sendiri kayu yang dibutuhkan bahkan mencarinyapun sangat sulit karena kayu ini langka. Pekerja ini terus meminta maaf, namun tak dimaafkan. Juragan sangat marah.
Pekerja pun putus asa, lalu dia mengambil papan yang salah potong tadi, lalu di sembahyangkan lah dan meminta doa sejadi-jadinya. "Ya tuhan, hamba tak mampu lagi menghadapinya, kiranya engkau bantu saya Ya Allah untuk mencari jalan keluar dari masalah ini" jerit sang pembuat perahu. Keesokan harinya sang juragan mulai menagih tanggungjawab dari pekerja itu untuk mengganti papan yang dirusaknya. Sang pembuat perahu pun pasrah, dia hanya menunggu hukuman yang diberikan atas kelalaiannya. Namun ketika itu papan tadi bertambah panjang, sehingga saat dipasang dibadan kapal, pas, dan tak ada celah. Sang pembuat perahu pun lega, sang juragan pun senang.
Setelah berhasil keluar dari masalah, sang pekerja memutuskan untuk berhenti karena takut akan terjadi hal lain di luar sanggupnya. Lalu juragan pun mengizinkan dan mencari pekerja baru. Beberapa bulan kemudian, perahu pun jadi. Dan sudah siap dilayarkan. Awalnya perjalanan lancar. Namun, ketika berada ditengah perjalanan, papan yang bermasalah tadi berubah kembali menjadi pendek, sehingga terbuka celah yang cukup besar pada badan perahu. Membuat air laut masuk ke bagian badan perahu dan tenggelam lah perahu itu.
Pelajaran yang bisa kita petik dari peristiwa ini adalah, jangan marah berlebihan, manusia pasti punya salah dan tak luput dari khilaf, maka marah bukan jalan yang efektif untuk menyelesaikan, bahkan mungkin hanya menambah sulit keadaan. Apalagi sampai melukai hati seserang dari lisan kita".
Waktu sudah larut malam, Saya pun mulai ngantuk. Dan Ayah juga. Nanti saja dilanjutkan katanya.
Cerita diatas berdasarkan dari sudut pandang seseorang yang diwariskan ceritanya turun temurun dari nenek moyang . Jika terdapat kekeliruan mohon dimaafkan dan diperbaiki. Dan jika ada keunikan lain dari phinisi ini entah itu tentang langkah-langkah pembuatannya serta peristiwa-peristiwa yang unik terkait dari phinisi ini mohon di share agar kiranya kita bisa saling bertukar informasi tentang kebanggaan dari kampung kita tercinta ini. Suatu kearifan lokal yang menakjubkan. Dan Allah karuniakan kepada kita para pemuda pecinta Bumi Panrita Lopi. Terima Kasih, Ya Rabb.
By Alifah Nurkhairina
Bersambung.....
Makassar, 02.19 WITA
Selasa, 28 Februari 2017
Malam ini saat lampu padam. Gelap gulita tak terkalahkan.
Kunyalakan cahaya. Lilin itu membara. Dia menemaniku, sepertinya dia juga ingin mendengarkan saat Ayah menceritakan sebuah kisah masa lalu.
Legenda Perahu Phinisi judulnya.
Berbicara tentang perahu Phinisi, saya sangat tertarik dan sangat penasaran. Langkah awal saya, yaitu dengan mencari tahu sedikit demi sedikit tentang Perahu ini. Dan saya memutuskan untuk mewawancarai salah satu orang yang mengetahui sedikit tentang perahu phinisi. Ya dia Ayahku. Sedikit menjawab rasa penasaranku.
"Ayah coba jelaskan, apa - apa yang kita tau tentang Phinisi?"
"Phinisi itu perahu tradisional yang sudah mendunia. Phinisi ini unik. Ada sejarah yang menceritakan bahwa, suatu ketika Sawerigading hendak berlayar ke China demi seorang perempuan yang dicintainya yaitu We Cudai. Namun untuk sampai ke negeri China tidaklah mudah. Hamparan samudera menjadi penghalangnya. Sampai suatu ketika ada seseorang yang berkata kepadanya, Wahai baginda. Jikalau hendak baginda ke Negeri China, seberangilah lautan itu dengan sesuatu yang bisa terapung dan bisa membuatmu sampai ke tujuan.
Maka Sawerigading pun memerintahkan kepada pesuruhnya untuk mencari dari ujung Luwu sampai batas yang tidak ditentukan, yaitu seorang yang ahli merakit "perahu". Sawerigading pun membuat sayembara untuk siapa saja yang bisa membuat perahu. Cerita tentang keinginan Sawerigading ini mulai meluas ke masyarakat sekitar. Menjadi satu pokok pembicaraan hangat saat tengah bersantai. Sampai suatu ketika, berita itu didengar oleh Dg. Baso. Dg. Baso ini adalah seorang tukang kebun. Pada saat itu dia tengah asyik berbincang-bincang dengan temannya.
Dalam bahasa Ara.
"Macccako a'baju lopi?" (Kamu pintar membuat perahu?)
" Anre. Nungura njo tanja'na lopi? (Tidak, bagaimana bentuknya perahu itu?) Tutur Dg. Baso
" bla bla bla(kebetulan saya lupa bahasa Aranya, yang jelas artinya "perahu itu yang bisa terapung dilaut)
" Ooh, tunggu dlu saya pernah bermimpi. Saya diajari membuat perahu, didalam mimpi itu saya diperlihatkan alat-alat apa yang dipergunakan saat membuat perahu serta cara-cara pembuatannya". Ungkap Dg. Baso
"Ooh, kaumi di hoja. Kunne ko" (Oh, kau lah yang dicari, ayo sini)
Setelah mengadakan pencarian tentang orang yang ahli membuat perahu, tak satupun yang bisa. Hanya Dg. Baso. Itupun dia hanya bermodalkan mimpi. Setelah itu Dg. Baso pun bertemu dengan Sawerigading.
"Jadi kau ini ahli membuat perahu?" Tanya Sawerigading
"Tidak, saya tidak bisa membuatnya, hanya saja saya pernah bermimpi membuat benda tersebut" Jawab Dg. Baso
"Oh kalau begitu, lakukanlah seperti dalam mimpimu" Ujar Sawerigading
Setelah itu Dg. Baso dibawa ke hutan untuk mencari alat-alat apa saja yang digunakan dalam membuat perahu. Sesampainya di hutan, Dg. Baso terkejut karena pohon yang hendak iya jadikan sebagai bahan membuat perahu sama persis dalam mimpinya. Bahkan setelah itu saat dia membuat perahu tak ada sedikit pun langkah-langkah membuat perahu yang dia lewatkan melainkan sama seperti dalam mimpinya.
Setelah berhari-hari lamanya membuat perahu. Sang perahu pun telah siap berlayar. Sawerigading pun berlayar ke negeri China untuk mempersunting We Cudai. Setelah menemui We Cudai, dibawalah sang istri ke kampung halamannya yaitu Luwu. Namun, Naas. Saat ditengah perjalanan, perahu Phinisi ini mengalami musibah. Perahunya mengalami kecelakaan.
Perahu tersebut terbelah menjadi tiga bagian. Dimana layar dari perahu tersebut terdampar di Bira. Papannya sebagai dinding perahu terdampar di Ara. dan lunasa' (pondasi bawah perahu) terdampar di tanah beru. Tanah beru itu sendiri adalah ibukota dari Kecamatan Bonto Bahari. Bontobahari terdiri dari 3 desa, desa Ara, desa Bira dan Desa Tanah Lemo (atau yang dikenal sekarang sebagai Tanah Beru). Ketiga bagian tersebut lalu dikembangkan menjadi sebuah perahu yang di sebut "Perahu Phinisi". Itulah sebabnya perahu phinisi ini dibuat oleh orang Ara, di kerjakan di Tanah Beru dan di nahkodai oleh Orang Bira. Sungguh unik.
Itu adalah salah satu mitos yang paling terkenal terkait pembuatan perahu Phinisi ini.
"Terus, apalagi keunikan dari phinisi?"
" Ah pernah suatu kali waktu saya masih kecil, nenekku bercerita tentang proses pembuatan perahu. Dimana saat memilih kayu yang hendak digunakan pun mesti teliti. Terkait kualitas sang perahu nantinya. Jika sudah menemukan kayu yang tepat sebelumnya diadakan terlebih dahulu ritual. Kepercayaan pada hal-hal gaib pada zaman itu masih kental. Jika ingin menebang pohon, hendaklah kapak yang digunakan disandarkan dulu ke pohonnya. Lalu tinggalkan. Jika beberapa saat kapak itu terhempas, maka jangan sekali-kali kau menebangnya karena "penunggu" pohon itu tak mengizinkan. Namun ada juga para pembuat perahu yang melanggar. Mereka tetap menebang.
"Pernah juga saat saya masih kuliah ditahun 1983 di Unhas (Universitas Hasanuddin). Ada pameran perahu di Vancouver. Dimana mahasiswa dari Teknik Perkapalan Unhas berinisiatif untuk mengikutsertakan Perahu Phinisi ini sebagai andalan dari Indonesia. Maka dipanggilah para pembuat perahu dari Ara ke Makassar untuk membuatnya. Setelah jadi, perahu itu dilayarkan ke Vancouver yang tentu saja di nahkodai oleh orang Bira. Setibanya di sana. Phinisi ini terlihat gagah. Dan lumayan menarik perhatian.
Ada turis yang tertarik. Lalu bertanya apa keunikan dari perahu ini? Dan seorang arsitek berbicara. "Saya sudah memantau pembuatan perahu phinisi ini dari awal pembuatannya di Indonesia. Perahu ini tidak ada sketsanya yang seperti biasa kita lakukan saat ingin membuat sesuatu. Dan keunikan lainnya jika membuat suatu benda kita menciptakan dulu rangkanya. Namun tidak dengan phinisi ini. Dia membuat terlebih dahulu badan kapal dan sebagainya lalu setelah itu diberikan rangka dan direkatkan menggunakan pasak (pasak ini adalah semacam paku namun terbuat dari kayu). Jadi rangka yang menyesuaikan dengan badan, bukan badan yang berpatokan dengan rangka."
Mendengar cerita itu si turis semakin bergairah untuk memilikinya. Tak berfikir panjang, Phinisi ini di belinya. Lalu dibawanya perahu tersebut ke kampung halamannya di Jerman. Namun, karena dia bersikeras untuk membawa perahu ini tanpa orang Bira sebagai sang nahkoda handal. Maka di perjalanan menuju Jerman, perahu tersebut tenggelam. Innalillah.
"Selain kisah itu, ada lagi cerita tentang pekerja perahu yang tak dibayar upahnya meski sang perahu sudah siap berlayar. Kisah ini bermula ketika sang pembeli tak membayar pekerja nya atas hasil membuat perahu. Saya juga kurang tau kenapa mereka tak digaji. Sampai membuat para pekerja perahu ini saat kecewa dan marah. Dan saat mengetahui perahu phinisi yang dibuatnya besok sudah mau didorong menuju ke lautan, sang pembuat perahu yang kecewa tadi berinisiatif untuk menghalanginya. Mereka membuat sebuah pocong kecil lalu dibacakan mantra (seperti yang saya katakan, orang-orang pada zaman itu masih sangat percaya dengan hal gaib). Setelah dibacakan mantra, pocong kecil itu ditanam beberapa meter di depan perahu.
Keesokan paginya, sang perahu pun siap didorong ke lautan (didorong disini merupakan cara tradisional warga sekitar yang berbondong-bondong mendorong perahu agar sampai ke tepi pantai, agar bisa berlayar). Awalnya saat didorong tak ada kendala, namun pada saat sampai dititik dimana sang pocong yang ditanam semalam oleh para pekerja perahu sampai, phinisi itu tak bisa lagi bergerak. Semacam ada sebuah benteng besar yang tak nampak yang menghalangi. Meski sudah banyak membantu untuk mendorongnya, tetap saja perahu tersebut tak bisa melewati batas tersebut, jika lau bisa bergerak, maka perahu itu berbelok arah, benar-benar tak bisa dilewati. Melihat peristiwa tersebut, para warga yang membantu merasa bingung, tak biasanya ada pemandangan seperti ini.
Maka warga pun bertanya kepada sang empunya perahu. Dimana para pekerja perahu anda? Biasanya merekalah yang harusnya disini menolong anda. Apa ada masalah? Juragan itu pun menjawab, "mungkin mereka marah karena ada sedikit masalah di upah mereka. Aku tak membayar upah mereka". Lalu warga itu berkata "Jangan lah seperti itu, dalam agama islam kita diajarkan bahwa bayarlah upah mereka sebelum keringatnya kering". Mendengar hal tersebut sang juragan pun mengalah, dan berusaha menemui para pekerja perahunya dan meminta bantuan.
"Tolonglah aku, perahu tersebut tak bisa bergerak lagi. Saya janji, Nanti saya akan melunasi upah kalian" Tutur juragan
"Baiklah, esok pagi datanglah lagi kesini, Inshaa Allah perahu itu sudah bisa berlayar." Kata salah satu pekerja perahu.
Pada saat malam tiba, seseorang dari mereka (pembuat perahu) mengambil kembali pocong kecil yang mereka tanam. dan betul keesokan harinya saat hendak didorong kembali dan pastinya kali ini dibantu oleh para pekerja perahu, perahu tersebut meluncur mulus menuju tepi pantai tanpa ada kendala.
Waaah, Ayah apa ada lagi kisah lain tentang Phinisi ini?
"Ada, pernah juga suatu kali ada salah satu pekerja perahu yang lalai dalam bekerja. Tak sengaja dia memotong papan yang dijadikan sebagai badan perahu. Dan saat di satukan ternyata papan ini tak sampai, sehingga ada sedikit celah dari badan perahu. Mendengar hal ini sang pemesan perahu sangat marah. Betapa tidak? Sang pemesan perahu inilah yang mencari sendiri kayu yang dibutuhkan bahkan mencarinyapun sangat sulit karena kayu ini langka. Pekerja ini terus meminta maaf, namun tak dimaafkan. Juragan sangat marah.
Pekerja pun putus asa, lalu dia mengambil papan yang salah potong tadi, lalu di sembahyangkan lah dan meminta doa sejadi-jadinya. "Ya tuhan, hamba tak mampu lagi menghadapinya, kiranya engkau bantu saya Ya Allah untuk mencari jalan keluar dari masalah ini" jerit sang pembuat perahu. Keesokan harinya sang juragan mulai menagih tanggungjawab dari pekerja itu untuk mengganti papan yang dirusaknya. Sang pembuat perahu pun pasrah, dia hanya menunggu hukuman yang diberikan atas kelalaiannya. Namun ketika itu papan tadi bertambah panjang, sehingga saat dipasang dibadan kapal, pas, dan tak ada celah. Sang pembuat perahu pun lega, sang juragan pun senang.
Setelah berhasil keluar dari masalah, sang pekerja memutuskan untuk berhenti karena takut akan terjadi hal lain di luar sanggupnya. Lalu juragan pun mengizinkan dan mencari pekerja baru. Beberapa bulan kemudian, perahu pun jadi. Dan sudah siap dilayarkan. Awalnya perjalanan lancar. Namun, ketika berada ditengah perjalanan, papan yang bermasalah tadi berubah kembali menjadi pendek, sehingga terbuka celah yang cukup besar pada badan perahu. Membuat air laut masuk ke bagian badan perahu dan tenggelam lah perahu itu.
Pelajaran yang bisa kita petik dari peristiwa ini adalah, jangan marah berlebihan, manusia pasti punya salah dan tak luput dari khilaf, maka marah bukan jalan yang efektif untuk menyelesaikan, bahkan mungkin hanya menambah sulit keadaan. Apalagi sampai melukai hati seserang dari lisan kita".
Waktu sudah larut malam, Saya pun mulai ngantuk. Dan Ayah juga. Nanti saja dilanjutkan katanya.
Cerita diatas berdasarkan dari sudut pandang seseorang yang diwariskan ceritanya turun temurun dari nenek moyang . Jika terdapat kekeliruan mohon dimaafkan dan diperbaiki. Dan jika ada keunikan lain dari phinisi ini entah itu tentang langkah-langkah pembuatannya serta peristiwa-peristiwa yang unik terkait dari phinisi ini mohon di share agar kiranya kita bisa saling bertukar informasi tentang kebanggaan dari kampung kita tercinta ini. Suatu kearifan lokal yang menakjubkan. Dan Allah karuniakan kepada kita para pemuda pecinta Bumi Panrita Lopi. Terima Kasih, Ya Rabb.
By Alifah Nurkhairina
Bersambung.....
Minggu, 26 Februari 2017
Once I was 20 y'old
25 Februari 2017
Makassar, 03.15 WITA
Hari ini, tepat 2 dekade perjalananku. Menjelma menjadi gadis yang tumbuh dengan gaya hidup yang kuyakini tak semudah yang kukira. Sebagian kisah klasik hidup telah menerpaku. Mulai dari kisah keluarga yang mengharukan. Bagaimana ketika kami dipisahkan karena tuntutan dunia. Tentang pencarianku terhadap seorang sahabat yang sampai saat ini belum kutemukan dan tentang beberapa orang yang berhasil menciptakan hal yang menakjubkan, entah membuat suka maupun luka yang berkesan.
Diusia ini, aku sudah mulai beradaptasi tentang kejamnya dunia. Dan tak kala juga aku mudah terlena dengan hingar bingar di kehidupan fana. Sebenarnya aku masih terlalu belia untuk bermain didalamnya. Namun, menyerah bukan satu-satunya jawaban. Hari ini, masih banyak mimpi yang belum berani kukejar. Bukan, bukan karena aku pengecut. Ini karena aku masih ragu melangkah sendiri. Aku masih bingung mengambil keputusan saat ada dua pilihan yang berat. Aku memang belum berani. Hari ini, masih ada banyak harap yang berlabuh tinggi. Masih ada niat yang mesti diperbaiki. Namun langkah kaki masih terlalu kecil, belum mampu mengambil jarak yang penuh resiko. Dan masih, hari ini, aku belum berani.
Hari ini perlahan ku renungkan lagi, setelah 20 tahun sudah aku berdiri. Bilakah saya masih lemah, aku akan tumbuh jadi manusia yang tak berdaya. Dan jika hari ini masih aku berfikir seperti itu. Tak akan ku jumpai besok hari yang lebih menantang. Tak akan pernah ada petualangan baru yang mau berkawan denganku. Hari ini, diumur yang baru. Doa kupanjatkan kepada Rabbku. Agar kelak dia datangkan kebahagiaan untuk dunia dan akhiratku. Agar kelak Dia pertemukan ku dengan orang yang menyayangiku. Teruntuk Ayah dan Ibu, anak gadismu satu-satunya telah dewasa, kiranya jangan berhenti mendoakan. Karena segala suksesku berasal dari doamu yang tak pernah henti. Teruntuk saudara laki-lakiku. Jangan pernah berhenti berjuang. Seseorang akan bernilai jika dalam hidup mereka seimbang antara usaha dan doa. Jangan pernah berhenti. Sama-sama kita berjalan. Dan semoga kelak dihadirkan kepadaku, sesosok pemuda yang mampu menemaniku melangkah, sehingga tak ada lagi takut yang ku simpan sejak lama. Sehingga lebih berani aku mengambil keputusan karena sarannya. Sehingga dialah satu-satunya alasan aku selalu bersyukur karena kelembutan hatinya. Dan tak ada lagi alasan untukku mengeluh, karena dialah satu-satunya tempat pulang yang setia menanti.
Semoga aku menjumpaimu diwaktu yang indah.
Dan terima kasih untuk kalian yang berkontribusi dihidupku selama ini :)
Makassar, 03.15 WITA
Hari ini, tepat 2 dekade perjalananku. Menjelma menjadi gadis yang tumbuh dengan gaya hidup yang kuyakini tak semudah yang kukira. Sebagian kisah klasik hidup telah menerpaku. Mulai dari kisah keluarga yang mengharukan. Bagaimana ketika kami dipisahkan karena tuntutan dunia. Tentang pencarianku terhadap seorang sahabat yang sampai saat ini belum kutemukan dan tentang beberapa orang yang berhasil menciptakan hal yang menakjubkan, entah membuat suka maupun luka yang berkesan.
Diusia ini, aku sudah mulai beradaptasi tentang kejamnya dunia. Dan tak kala juga aku mudah terlena dengan hingar bingar di kehidupan fana. Sebenarnya aku masih terlalu belia untuk bermain didalamnya. Namun, menyerah bukan satu-satunya jawaban. Hari ini, masih banyak mimpi yang belum berani kukejar. Bukan, bukan karena aku pengecut. Ini karena aku masih ragu melangkah sendiri. Aku masih bingung mengambil keputusan saat ada dua pilihan yang berat. Aku memang belum berani. Hari ini, masih ada banyak harap yang berlabuh tinggi. Masih ada niat yang mesti diperbaiki. Namun langkah kaki masih terlalu kecil, belum mampu mengambil jarak yang penuh resiko. Dan masih, hari ini, aku belum berani.
Hari ini perlahan ku renungkan lagi, setelah 20 tahun sudah aku berdiri. Bilakah saya masih lemah, aku akan tumbuh jadi manusia yang tak berdaya. Dan jika hari ini masih aku berfikir seperti itu. Tak akan ku jumpai besok hari yang lebih menantang. Tak akan pernah ada petualangan baru yang mau berkawan denganku. Hari ini, diumur yang baru. Doa kupanjatkan kepada Rabbku. Agar kelak dia datangkan kebahagiaan untuk dunia dan akhiratku. Agar kelak Dia pertemukan ku dengan orang yang menyayangiku. Teruntuk Ayah dan Ibu, anak gadismu satu-satunya telah dewasa, kiranya jangan berhenti mendoakan. Karena segala suksesku berasal dari doamu yang tak pernah henti. Teruntuk saudara laki-lakiku. Jangan pernah berhenti berjuang. Seseorang akan bernilai jika dalam hidup mereka seimbang antara usaha dan doa. Jangan pernah berhenti. Sama-sama kita berjalan. Dan semoga kelak dihadirkan kepadaku, sesosok pemuda yang mampu menemaniku melangkah, sehingga tak ada lagi takut yang ku simpan sejak lama. Sehingga lebih berani aku mengambil keputusan karena sarannya. Sehingga dialah satu-satunya alasan aku selalu bersyukur karena kelembutan hatinya. Dan tak ada lagi alasan untukku mengeluh, karena dialah satu-satunya tempat pulang yang setia menanti.
Semoga aku menjumpaimu diwaktu yang indah.
Dan terima kasih untuk kalian yang berkontribusi dihidupku selama ini :)
Sabtu, 28 Januari 2017
Dibalik kisah mu
Aku mengenal seorang pria. Dia kini tepat berada dipulau yang berbeda dari rumahnya. Diawal keberangkatan tak ada sedikitpun ragu diwajahnya. Bahkan dia sangat senang ingin beranjak. Salam perpisahan pun mulai dilemparkannya. Ada sedikit haru yang hampirku tampakkan. Namun kusimpan bersama doaku saat itu juga "semoga sukses, Allah menjagamu :')"
Pesawat itu mulai menjauh dari kami. Membawa salah satu pemuda yang kami cintai. Melepasnya adalah sebuah keputusan bodoh yang harus kami jalani, Entah sampai kapan sampai dia benar-benar kembali.
Setelah lama merantau pemuda ini mulai sibuk dengan dunia barunya. Pemuda ini sudah mulai berpaling perhatiannya dari kami. Kami pun sedikit lega. setidaknya dia sudah nyaman dengan suasana baru dengan siapapun yang dia panggil teman disana. Pemandangan ini mulai tak kusuka. dia mulai lepas dari jangkauan. Meskipun begitu kubiarkan dahulu. mungkin saja memang ini sudah saatnya menghancurkan ego.
Berlama-lama disana, aku sudah mulai lelah dengan rindu. Entah bagaimana lagi caraku mengusirnya. Era modern membantuku walau hanya sedikit. Postingan foto yang kau pamerkan membuatku sedikit hilang resah. Kulihat kau begitu aktif bersosialisasi. Kau juga sering berjalan-jalan. Aku juga mendengar dari rekan-rekanmu kau adalah pemimpin yang bijak. Senang aku mendengarnya. Wah sungguh enak hidupmu disana. Seandainya kau bisa mengajakku kesana, aku juga ingin mengenal duniamu, hingga aku tau kenapa kau begitu asik disana. Tapi aku takut. Ternyata pulau jawa menawarkanmu berbagai keindahannya. Aku takut, kau mulai lupa Sulawesi. Aku takut kau mulai lupa pulang :( dan aku takut kau mulai lupa tujuan mu untuk hijrah kesana :(
Aku tidak mau kau lepas dari pantauanku. Kulakukan berbagai cara agar tak hilang jejakmu selama disana. Sampai suatu saat benar-benar saya mendapati sebuah tulisan yang engkau tayangkan. dan mulailah kubaca semua dengan perlahan.
Ternyata, Kak. Selama ini kau menangis. Selama ini duniamu menekanmu. Selama ini batinmu sendiri. Dari tulisanmu yang kubaca kau begitu rindu dengan kami keluargamu. Kau begitu berharap agar pulanglah menjadi satu-satunya jawaban atas lelahmu. Kau sangat pandai dalam menyembunyikan perasaanmu selama ini. Satu hal yang baru aku tau, ternyata rindu mu lebih besar. Tapi kau ahli dalam mengatasinya atau bahkan menyembunyikannya. Seperti yang kau bilang, tidak ada kata terlambat untuk belajar. Belajarlah kak agar kau jadi manusia yang mulia. Belum terlambat kak, Belajarlah demi masa depanmu :)
Terima kasih kak, atas tulisanmu.
Mama selalu bilang kepada kita semua "menulislah, agar engkau dikenal"
Terima kasih atas petuah yang luar biasa.
Kau menjalankan peran mu dengan baik, Kak.
Terima kasih sudah menjadi inspirasi yang terbaik selama ini
Teruntuk kakakku tercinta.
Selamat berjuang Kak.
Salam hangat dari keluargamu disini. Sayang kami kepadamu menembus lapisan langit paling tinggi.
Untuk Kak Tomy Rahmatwijaya.
Pesawat itu mulai menjauh dari kami. Membawa salah satu pemuda yang kami cintai. Melepasnya adalah sebuah keputusan bodoh yang harus kami jalani, Entah sampai kapan sampai dia benar-benar kembali.
Setelah lama merantau pemuda ini mulai sibuk dengan dunia barunya. Pemuda ini sudah mulai berpaling perhatiannya dari kami. Kami pun sedikit lega. setidaknya dia sudah nyaman dengan suasana baru dengan siapapun yang dia panggil teman disana. Pemandangan ini mulai tak kusuka. dia mulai lepas dari jangkauan. Meskipun begitu kubiarkan dahulu. mungkin saja memang ini sudah saatnya menghancurkan ego.
Berlama-lama disana, aku sudah mulai lelah dengan rindu. Entah bagaimana lagi caraku mengusirnya. Era modern membantuku walau hanya sedikit. Postingan foto yang kau pamerkan membuatku sedikit hilang resah. Kulihat kau begitu aktif bersosialisasi. Kau juga sering berjalan-jalan. Aku juga mendengar dari rekan-rekanmu kau adalah pemimpin yang bijak. Senang aku mendengarnya. Wah sungguh enak hidupmu disana. Seandainya kau bisa mengajakku kesana, aku juga ingin mengenal duniamu, hingga aku tau kenapa kau begitu asik disana. Tapi aku takut. Ternyata pulau jawa menawarkanmu berbagai keindahannya. Aku takut, kau mulai lupa Sulawesi. Aku takut kau mulai lupa pulang :( dan aku takut kau mulai lupa tujuan mu untuk hijrah kesana :(
Aku tidak mau kau lepas dari pantauanku. Kulakukan berbagai cara agar tak hilang jejakmu selama disana. Sampai suatu saat benar-benar saya mendapati sebuah tulisan yang engkau tayangkan. dan mulailah kubaca semua dengan perlahan.
Ternyata, Kak. Selama ini kau menangis. Selama ini duniamu menekanmu. Selama ini batinmu sendiri. Dari tulisanmu yang kubaca kau begitu rindu dengan kami keluargamu. Kau begitu berharap agar pulanglah menjadi satu-satunya jawaban atas lelahmu. Kau sangat pandai dalam menyembunyikan perasaanmu selama ini. Satu hal yang baru aku tau, ternyata rindu mu lebih besar. Tapi kau ahli dalam mengatasinya atau bahkan menyembunyikannya. Seperti yang kau bilang, tidak ada kata terlambat untuk belajar. Belajarlah kak agar kau jadi manusia yang mulia. Belum terlambat kak, Belajarlah demi masa depanmu :)
Terima kasih kak, atas tulisanmu.
Mama selalu bilang kepada kita semua "menulislah, agar engkau dikenal"
Terima kasih atas petuah yang luar biasa.
Kau menjalankan peran mu dengan baik, Kak.
Terima kasih sudah menjadi inspirasi yang terbaik selama ini
Teruntuk kakakku tercinta.
Selamat berjuang Kak.
Salam hangat dari keluargamu disini. Sayang kami kepadamu menembus lapisan langit paling tinggi.
Untuk Kak Tomy Rahmatwijaya.
Jumat, 16 Desember 2016
Jiwa Mudaku
Mengharap bebas namun selalu terbatas merupakan salah satu hal tersulit yang sering kujumpai. Dari balik jendela itu ku terfokus melihat sebuah kebebasan. Jiwa-jiwa muda yang berhamburan tengah mencicipi masa remajanya. Seharusnya aku disana. Seharusnya aku melepas tawa di sudut yang kuinginkan. Kali ini aku merasa hilang akal.
Ini zamanku, dimana remaja sebayaku bebas melakukan hal apa saja yang mereka suka. Tak terkekang dan bebas melayang. Kemanapun dan kapanpun. Menghabiskan panjang hari bersama rekan sahabat. Menghancurkan deras malam di titik manapun mereka suka. Bersenang-senang dengan cara mereka. Cara unik bahkan cara yang paling tidak rasional sekalipun.
Ini masaku, dimana pemudi-pemudi lain bebas mengekspresikan segala hal. Bebas membagi kesehariannya lewat sebuah telpon genggam. Menceritakan segala hal bahkan sesuatu yang bersifat pribadipun menjadi santapan orang banyak, apapun yang penting dunia harus tau!
Ini suatu batasan yang cukup mengganggu. Terkadang saya ingin menjadi mereka. Menjadi seseorang yang tumbuh di dunia luar yang kuharapkan. Menjadi kartini muda yang gaul yang dikenal banyak orang karena foto yang dipostnya menjadi viral, atau mengabarkan keseharianku lewat video singkat yang ku bagikan secara gratis kepada mereka yang tak ku kenal. Terkadang saya ingin bebas lepas. Pergi ke tempat yang hitz dan menghabiskan uang yang kupunya demi suasana kedai yang nyaman dan segelas kopi yang nikmatnya sesaat. Membeli aneka macam baju yang brandnya oke punya. Terkadang saya iri melihat sebayaku bebas bergaul dengan siapa saja tanpa batas tak ada larangan dari sudut pandang manapun. Menjalin hubungan dengan pria yang dicintainya. Membiarkan orang lain melihat rambut indahnya, dan bebas berpakaian sesuka hati. terkadang ingin itu mengusikku selalu.
Lalu apa selanjutnya? kenapa aku tidak membuka pintu lalu menghampiri mereka? Itu sangat mudah. Lalu pergilah kutemui kebahagiaan yang selama ini ku dambakan?
Namun, kurasa tidak. Aku masih punya keluarga. Masih ada orang tua yang membutuhkan ku. Masih ada kepercayaan dari mereka yang masih ku genggam. Selama ini aku salah, kebahagiaan dengan menghabiskan waktu dan biaya yang banyak bukan suatu bentuk membunuh lelah dan berjumpa bebas. Aku tau betul bagaimana mereka banting tulang demi rupiah-rupiah yang dicarinya. Aku tau betul jam berapa mereka harus keluar untuk menjemput rezeki. Aku tau betul bagaimana pengorbanannya sampai saya ini bisa menulis seperti ini. Aku tau betul baju dan bagaimana mereka sampai di tempat kerjanya. Aku tau betul di lingkungan mana mereka habiskan hari kerja. Namun, ada sesuatu yang tak pernah aku tau. Bagaimana mereka mengeluh dengan lelah yang selama ini mereka sembunyikan, sungguh aku tak pernah tau itu.
Ketahuilah sampai ku temukan jawaban dari semua pengharapan, inilah masaku. Menghabiskan waktu muda ku bersama keluarga. Hal yang tidak dapat terbayarkan oleh apapun. Menghabiskan malam dengan candaan hangat mengingat sesuatu yang telah lalu. Inilah masaku, dengan tidak menambah beban mereka atas pergerakan kecilku yang akan mengganggu batinnya. Aku masih tanggungannya. Aurat yang kubiarkan terbuka menjadi tanggungan dosa Ayahku. Sifat dan sikapku mencerminkan bagaimana mereka mendidikku. Dan inilah masaku menjaga mereka sampai habis sanggupku..
Tampak gerimis telah datang. Hal itu ku ketahui dari basahnya tepi jalan yang terus kuperhatikan dengan tatapan kosong. Teringat lagi kepada mereka. Dimana mereka? Apa mereka kehujanan? Bagaimana mereka melawan dingin? :(
Jangan pernah lepaskan ku tanpa bekal doa dan restumu Ayah, Mama.... Sang pemilik senyum peneduh resah dimana pun ku berada.
Jangan pernah lepaskan ku tanpa bekal doa dan restumu Ayah, Mama.... Sang pemilik senyum peneduh resah dimana pun ku berada.
Wahai kawulah muda, mari berpikir lagi. Mari mengingat untuk tidak menghabiskan masa muda kita dengan hal yang sia-sia. Saya lebih memilih menjadi terasing daripada harus meninggalkan mereka di rumah. Mari mengembangkan potensi diri. Jangan takut menolak untuk hal yang tidak penting. Masa muda jauh lebih indah saat kau mampu berbakti kepadanya. Mari bahagiakan mereka sesuai harapnya. Menjadi sosok yang membanggakan dan bermanfaat jauh lebih mulia :)
#Alifah Nurkhairina
Bulukumba, 11 Desember 2016 12.12 WITA
Bulukumba, 11 Desember 2016 12.12 WITA
Rabu, 02 November 2016
Malam, dia saksinya.
Rabu, 02 November 2016
Gowa, 17.08 WITA
Aku bertemu dengan satu minggu yang hebat. Singkat cerita menggores banyak kenangan. Terlalu banyak hal yang baru mulai membekas. Terima kasih karena telah menciptakannya.
Aku bertemu dengan satu minggu yang istimewa. Menelusuri malam mencari ketenangan. Di sudut kota sampai tak terlihat. Terima kasih karena selalu ada dan mengawali pertemuan dengan rasa yang beda. Aku menikmatinya.
Aku larut dalam satu minggu yang berkesan, dengan kau, orang yang tak sengaja ku kenal. Berjelajah meninggalkan rutinitas membosankan dengan bermodalkan motor tua. Menghantam jahatnya angin malam yang menggila. Demi menjajaki beberapa tempat dan mengukir cerita untuk bernostalgia nantinya. Lelah? Ah tidak! Aku menikmatinya bahkan aku bahagia, karena malamku, malammu habis dimakan tawa.
Kesenangan ini tiba-tiba diporak-porandakan oleh SIBUK. Yah, musuh abadiku. Memaksa untuk dirangkul, meronta kepadamu untuk ditemani kembali, mengalihkan perhatianmu sesukanya. Apa daya kita hanya anak kecil yang diperbudak kehidupan fana, Terpisah dulu..
Sekarang pergilah, temui dan hancurkan sibuk itu sama-sama kita kejar sukses. Lalu kembali lagi mengukir hal yang lebih hebat, dengan senyum yang sama. Karena aku masih berharap akan ada satu minggu selanjutnya yang lebih indah atau bahkan lebih. Lalu kembalilah, aku masih butuh teman cerita untuk kuadukan semua isi hariku yang melelahkan. Dan kembalilah, aku masih ingin melihat senyum itu nyata dan pandangan sempurna matamu sebagai penyemangat. Kubiarkan waktu memainkan perannya, kubiarkan jarak memainkan situasi dan kupercaya doa akan membuktikan dahsyatnya.
#Alifah Nurkhairina.
"Dan kau berhasil mengubah persepsiku tentang pertemuan singkat. Kau mengindahkannya. Sekarang dia punya ruang tersendiri di hati. Berdiam, bertahta dan tenang. Terima kasih telah menciptakan senyum diujung malamku.."
-InalifahN
Gowa, 17.08 WITA
Aku bertemu dengan satu minggu yang istimewa. Menelusuri malam mencari ketenangan. Di sudut kota sampai tak terlihat. Terima kasih karena selalu ada dan mengawali pertemuan dengan rasa yang beda. Aku menikmatinya.
Aku larut dalam satu minggu yang berkesan, dengan kau, orang yang tak sengaja ku kenal. Berjelajah meninggalkan rutinitas membosankan dengan bermodalkan motor tua. Menghantam jahatnya angin malam yang menggila. Demi menjajaki beberapa tempat dan mengukir cerita untuk bernostalgia nantinya. Lelah? Ah tidak! Aku menikmatinya bahkan aku bahagia, karena malamku, malammu habis dimakan tawa.
Kesenangan ini tiba-tiba diporak-porandakan oleh SIBUK. Yah, musuh abadiku. Memaksa untuk dirangkul, meronta kepadamu untuk ditemani kembali, mengalihkan perhatianmu sesukanya. Apa daya kita hanya anak kecil yang diperbudak kehidupan fana, Terpisah dulu..
Sekarang pergilah, temui dan hancurkan sibuk itu sama-sama kita kejar sukses. Lalu kembali lagi mengukir hal yang lebih hebat, dengan senyum yang sama. Karena aku masih berharap akan ada satu minggu selanjutnya yang lebih indah atau bahkan lebih. Lalu kembalilah, aku masih butuh teman cerita untuk kuadukan semua isi hariku yang melelahkan. Dan kembalilah, aku masih ingin melihat senyum itu nyata dan pandangan sempurna matamu sebagai penyemangat. Kubiarkan waktu memainkan perannya, kubiarkan jarak memainkan situasi dan kupercaya doa akan membuktikan dahsyatnya.
#Alifah Nurkhairina.
"Dan kau berhasil mengubah persepsiku tentang pertemuan singkat. Kau mengindahkannya. Sekarang dia punya ruang tersendiri di hati. Berdiam, bertahta dan tenang. Terima kasih telah menciptakan senyum diujung malamku.."
-InalifahN
Langganan:
Postingan (Atom)




