Bukber atau buka bersama adalah agenda rutin setiap Bulan Ramadhan. Bukber ini oleh sebagian orang dijadikan ajang untuk reunian dengan teman lama atau teman baru sekalipun. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan sebelum bukber, diantaranya adalah mengadakan kegiatan bakti sosial yang dirangkaikan buka puasa bersama anak panti, membuat acara reuni teman sekolah dan masih banyak yang lainnya. Tujuan dari bukber itu sendiri adalah sebagai ajang untuk bersua lagi dengan kawan lama, membandingkan keadaan teman lama kita dengan keadaanya sekarang, mencuri waktu agar semakin dekat sama si doi, sekedar mengabadikan moment agar bisa dipamer dimedia sosial, ataupun untuk mencuri kesempatan melihat mantan apakah masih sendiri atau sudah ada yang mendampingi, hihi..
Namun, beberapa diantaranya juga menganggap bukber adalah suatu kegiatan yang kurang bermanfaat. Maksudnya disini ialah kegiatan ini menyita cukup banyak waktu kita yang seharusnya kita maksimalkan beribadah. Apalagi biasanya jika reuni ini dalam skala besar terkadang dilaksanakan pada akhir-akhir ramadhan. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan untuk menunggu anggotanya yang rantau pulang dari tanah rantau agar bisa bergabung memeriahkan kegiatan dan alasan lain juga mungkin persiapan yang masih kurang. Biasanya karena adanya kegiatan ini perhatian kita teralihkan dari hal yang seharusnya dilaksanakan dibulan Ramadhan yaitu memaksimalkan ibadah kepada Allah.
Melihat fenomena ini biasanya muncul lah segelintir orang yang rela membuang waktu, tenaga, fikiran dan biaya untuk "mengadakan" kegiatan ini. Biasanya ciri-ciri orang ini adalah orang yang paling semangat mencari hari yang tepat untuk kegiatan bukber ini. Orang yang paling rajin mengingatkan di grup-grup media sosial perihal tanggal kegiatan. Biasanya ada beberapa yang merespon setuju dan adapula yang membatalkan karena beberapa alasan (alasan umumnya sih, karena sudah ada janji bukber yang lebih dulu diagendakan). Tapi orang ini tetap saja berupaya agar kegiatan bukber, harus jadi.
Setelah bersusah payah mengkoordinir kegiatan, orang ini tidak banyak kerja ataupun bicara saat hari kegiatan. Lebih tepatnya, dia risau kalau kegiatan yang selama ini dikoordinirnya tidak berjalan sesuai rencana ataupun tidak meninggalkan kesan positif kepada mereka-mereka penikmat kegiatan bukber. Meski begitu, satu hal yang harus ditekankan , bahwa orang ini berhasil "meng-ada-kan" cara buka puasa bersama, sesuai permintaan anggota grup.
Ditahun ini, Saya pribadi meminimalisir kegiatan bukber ini. Entah mengapa, kegiatan bukber yang tiap tahunnya Saya nanti, kini tidak lagi menarik. Yang dulunya jika sedang didiskusikan mengenai bukber Sayalah orang yang paling bersemangat, dan jika batal Sayalah yang paling kecewa. Ditahun ini, entah mengapa Saya merasa tidak lagi bergembira jika ada "wacana" mengenai bukber ini. Saya lebih senang jika teman-teman digrup satu persatu mengutarakan alasannya tentang kapan dan dimana diadakan dan tiba-tiba segelintir orang digrup datang untuk mengecilkan peluang teradakannya kegiatan bukber ini. Saya bersyukur. Mengapa demikian? Ibu saya pernah berkata mungkin menurutnya hanya pesan yang lewat dikepala Saya, Namun, setiap kata yang diucapkannya Saya selalu mengingatnya sebaik mungkin. Beliau bilang "Bahagianya kurasa, Nak. Kalau sama-samaki bukapuasa dirumah" Itu kalimat sederhana mungkin, Namun, sangat dalam maknanya. Semenjak kata-kata itu terlontar, Saya sebisa mungkin, dan harus bisa, membatalkan undangan buka puasa yang tidak terlalu wajib Saya hadiri dan Saya tidak terganggu akan hal ini.
Pesan yang ingin Saya sampaikan dalam tulisan Saya kali ini, Jangan biarkan waktumu terlalu lama diluar rumah. Kalian seringkali berusaha terus untuk mencari kebahagiaan ataupun kebaikan diluar sana, tapi kalian lupa akan kebaikan yang utama di rumah, yaitu menyenangkan hati orang tua. Ridho Allah, Ridho orang tua. Bisa jadi beberapa acara bukber yang kalian koordinir tidak berjalan baik sebab, orang tuamu yang sedikit cemas saat kau diluar rumah sehingga Ridhonya sedikit samar. Jangan takut membatalkan agenda undangan buka puasa bersama, mulailah perlahan, mungkin sulit tapi akan bisa karena biasa. Cobalah gunakan waktumu untuk memaksimalkan ibadah kepada Allah. Dimana bulan Ramadhan ini bulan yang sangat mulia. Segala kebaikan dilipatgandakan. Bersyukurlah kepada Allah, gunakan untuk memohon ampun atas dosa yang telah lalu, jangan sebaliknya, malah menambah dosa. Yuk perbanyak istigfar. Saling mengingatkan kita.. Semoga Allah menjaga kita dari segala keburukan... Aamiin
Jadi jangan mi terlalu kecewa kalau bukber cuma wacana. Bisa jadi, keluarga kita sangat bahagia jika buka puasanya sama-sama dirumah~
#SELFREMINDER
#SemogaBermanfaat
#27Ramadhan1439H
Gowa, 00.25 WITA
Alifah Nurkhairina
-Jangan lupa tinggalkan jejak, agar Saya tau siapa orang baik yang sudah membaca tulisan Saya- 😊
Selasa, 12 Juni 2018
Selasa, 29 Mei 2018
Yang katanya "sayang"
Mencintai adalah fitrah. Setiap anak cucu adam diberikan kesempatan untuk bisa merasakan cinta, bahkan bisa sampai jatuh. Namun, seringkali cinta disalah artikan. Contohnya saja cinta kepada lawan jenis. Mencintai lawan jenis memang tak salah, bahkan kita tergolong manusia normal jika pernah merasakannya, dan sulit memang menolak jika cinta itu sudah merayu-rayu. Sayapun termasuk orang yang sulit menolak kedatangan cinta jika ia sudah melambai menggoda.
Namun, cinta ini sedikit dibatasi dalam Islam. Islam sudah mengatur sedemikian rupa teknik mencintai yang disenangi Allah. Mencintai lawan jenis sah-sah saja asalkan pada waktu yang sudah diRidhoi. Belakangan ini Saya mulai tertarik membahas masalah ini. Dimana kebanyakan para remaja memilih jalan pacaran sebagai bukti cintanya kepada orang yang ia sukai. Memilih untuk menjalin suatu hubungan agar mereka saling terikat dan merasa memiliki satu sama lain. Katanya jika ada hubungan, maka keduanya telah saling berjanji untuk tidak berpaling sampai masa yang tidak bisa diprediksi atau yang lebih akrab disapa "putus".
Dari mereka Saya mulai belajar. tentang kesabaran, kenapa sabar? Disaat Saya melihat mereka tengah berdua, menjalani kegiatan bersama, mengabadikan kebersamaannya melalui sosial media, disitu saya miris. Sebagai manusia biasa Saya juga saat ingin. Bisa berkomunikasi dengan orang yang disukai, melaksanakan kegiatan berdua, membuat janji dan merancang temu, setiap hari bahkan setiap rindu. Mengabadikan momen, dan memamerkannya kepada orang banyak. Nah dari sinilah Saya belajar apa itu sabar.
Pelajaran kedua yang Saya jumpai pada fenomena ini adalah belajar mengikhlaskan dan belajar menerima garis kehidupan. Harusnya Saya bahagia, Allah menjauhkan Saya dari salah satu jalan zina. Membuat jarak dan kemudian perlahan hilang, begitu rencana Allah yang ditimpakan kepada Saya jika sudah mulai menyukai seseorang. Dan juga belajar berfikir positif kepada Allah.
Kelemahan pria adalah wanita, beberapa teman Saya yang lelaki tiba-tiba saja berubah kepribadian setelah berpacaran. Mereka seperti hilang aura tatkala harus menemani wanitanya hampir kesetiap sudut kota. Seperti hilang harga diri saat dimaki-maki oleh wanitanya saat tidak memberi kabar setiap waktu ataupun jika lupa mengabadikan foto bersama di media sosial miliknya. Terkadang saya miris. Ketahuilah, ditusuk besi yang panas jauh lebih baik daripada harus menyentuh yang bukan mahram. Takutlah!
Untuk para saudariku, Saya bukan manusia yang sempurna, tapi Allah menyuruh untuk saling menasehati. Barangkali Saya lebih hina dimata Allah, tapi Saya hanya berpesan untuk siapapun yang melihat ini berhentilah menjalin hubungan dengan lawan jenis. Sesungguhnya jika terjalin suatu hubungan yang dimurkai oleh Allah, maka yakinlah pihak wanitalah yang paling merugi. Astagfirullah.. Jangan sampai kita menodai diri-diri kita karena cinta yang kita berikan kepada orang yang belum jelas akankah akhirnya dialah takdirmu atau bukan. Yang kau ungkapkan sayang kepadanya nyatanya sama sekali salah. Kau membatasi ruangnya. Kau menjauhkan dia dari jodohnya. Itukah bukti sayangmu?
Bukankah kalian menginginkan lelaki baik? Apakah jika memang akhirnya kau dipertemukan dengan yang baik, bukankah kau harusnya menghadiahkannya sebuah kesucian, bahwa masa mudamu dihabiskan untuk hal positif, bahwa cinta yang mulai kau rasakan kau palingkan kearah yang diRidhoi Allah. Bahwa memang kau menyimpan sucinya cintamu untuk Imam yang memang pantas menerimanya,
Bukankah cinta pertama seorang gadis adalah Ayahnya? Tegakah kau bagi cintamu kepada orang asing? Padahal Ayahmu tidak meminta lebih, dia tidak pernah memaksamu untuk melebihi kemampuanmu, bahkan Ayahmu tidak berani untuk melukai raga dan batinmu, sedikitpun, Yang segala gerak-gerikmu menjadi kunci disurga atau neraka kah Ayahmu akan kembali? Bukankah seharusnya kau maksimalkan cintamu kepadanya sebelum tanggung jawabnya jatuh kepada pria yang terbaik? Benarkah?
Untuk kaum Adam, alihkan cintamu kepada yang baik. Jangan biarkan dia tumbuh mendominasi jiwamu. Jika memang kau mencintainya, jangan bawa dia ke jalan zina. Datangi secara baik dan utarakan yang kau mau, muliakan lah wanita yang kau cintai. Terlebih lagi jika kau masih memiliki seorang Ibu. Habiskan waktu dan cintamu untuk satu wanita saja, Ibumu, Ibumu, Ibumu. Bukankah wanita itu makhluk yang membingungkanmu? Bukankah kami ini sering mengecewakan? Sebagaimana Ali Bin Abi Thalib pernah berkata bahwa tidak ada kepahitan dunia yang beliau rasakan melainkan berharap kepada manusia yang paling pahit. Sudah jelas disini, bahwa Allah-lah tempat berharap yang sempurna. Yang selalu punya rencana yang indah diwaktu yang tak terduga. Yang tidak pernah mengecewakan hamba-Nya. Saudariku, jika cinta, mengadu kepada Allah. Minta kepada yang Maha membolak-balikan hati. Jika memang jodoh, dia pasti kembali. Jika tidak, kau akan mendapat lebih. Jangan kecewa, pilihan Allah pilihan terbaik. Teruslah berjalan menuju Allah, pemilik segalanya. Dekati penciptaNya, dan kau bahkan akan dipertemukan dengan orang yang jauh diluar dugaan.
Keputusan ditanganmu..
#sudahputuskansaja
#selfreminder
Alifah Nurkhairina
Gowa, 29 Mei 2018
23.47 WITA
Namun, cinta ini sedikit dibatasi dalam Islam. Islam sudah mengatur sedemikian rupa teknik mencintai yang disenangi Allah. Mencintai lawan jenis sah-sah saja asalkan pada waktu yang sudah diRidhoi. Belakangan ini Saya mulai tertarik membahas masalah ini. Dimana kebanyakan para remaja memilih jalan pacaran sebagai bukti cintanya kepada orang yang ia sukai. Memilih untuk menjalin suatu hubungan agar mereka saling terikat dan merasa memiliki satu sama lain. Katanya jika ada hubungan, maka keduanya telah saling berjanji untuk tidak berpaling sampai masa yang tidak bisa diprediksi atau yang lebih akrab disapa "putus".
Dari mereka Saya mulai belajar. tentang kesabaran, kenapa sabar? Disaat Saya melihat mereka tengah berdua, menjalani kegiatan bersama, mengabadikan kebersamaannya melalui sosial media, disitu saya miris. Sebagai manusia biasa Saya juga saat ingin. Bisa berkomunikasi dengan orang yang disukai, melaksanakan kegiatan berdua, membuat janji dan merancang temu, setiap hari bahkan setiap rindu. Mengabadikan momen, dan memamerkannya kepada orang banyak. Nah dari sinilah Saya belajar apa itu sabar.
Pelajaran kedua yang Saya jumpai pada fenomena ini adalah belajar mengikhlaskan dan belajar menerima garis kehidupan. Harusnya Saya bahagia, Allah menjauhkan Saya dari salah satu jalan zina. Membuat jarak dan kemudian perlahan hilang, begitu rencana Allah yang ditimpakan kepada Saya jika sudah mulai menyukai seseorang. Dan juga belajar berfikir positif kepada Allah.
Kelemahan pria adalah wanita, beberapa teman Saya yang lelaki tiba-tiba saja berubah kepribadian setelah berpacaran. Mereka seperti hilang aura tatkala harus menemani wanitanya hampir kesetiap sudut kota. Seperti hilang harga diri saat dimaki-maki oleh wanitanya saat tidak memberi kabar setiap waktu ataupun jika lupa mengabadikan foto bersama di media sosial miliknya. Terkadang saya miris. Ketahuilah, ditusuk besi yang panas jauh lebih baik daripada harus menyentuh yang bukan mahram. Takutlah!
Untuk para saudariku, Saya bukan manusia yang sempurna, tapi Allah menyuruh untuk saling menasehati. Barangkali Saya lebih hina dimata Allah, tapi Saya hanya berpesan untuk siapapun yang melihat ini berhentilah menjalin hubungan dengan lawan jenis. Sesungguhnya jika terjalin suatu hubungan yang dimurkai oleh Allah, maka yakinlah pihak wanitalah yang paling merugi. Astagfirullah.. Jangan sampai kita menodai diri-diri kita karena cinta yang kita berikan kepada orang yang belum jelas akankah akhirnya dialah takdirmu atau bukan. Yang kau ungkapkan sayang kepadanya nyatanya sama sekali salah. Kau membatasi ruangnya. Kau menjauhkan dia dari jodohnya. Itukah bukti sayangmu?
Bukankah kalian menginginkan lelaki baik? Apakah jika memang akhirnya kau dipertemukan dengan yang baik, bukankah kau harusnya menghadiahkannya sebuah kesucian, bahwa masa mudamu dihabiskan untuk hal positif, bahwa cinta yang mulai kau rasakan kau palingkan kearah yang diRidhoi Allah. Bahwa memang kau menyimpan sucinya cintamu untuk Imam yang memang pantas menerimanya,
Bukankah cinta pertama seorang gadis adalah Ayahnya? Tegakah kau bagi cintamu kepada orang asing? Padahal Ayahmu tidak meminta lebih, dia tidak pernah memaksamu untuk melebihi kemampuanmu, bahkan Ayahmu tidak berani untuk melukai raga dan batinmu, sedikitpun, Yang segala gerak-gerikmu menjadi kunci disurga atau neraka kah Ayahmu akan kembali? Bukankah seharusnya kau maksimalkan cintamu kepadanya sebelum tanggung jawabnya jatuh kepada pria yang terbaik? Benarkah?
Untuk kaum Adam, alihkan cintamu kepada yang baik. Jangan biarkan dia tumbuh mendominasi jiwamu. Jika memang kau mencintainya, jangan bawa dia ke jalan zina. Datangi secara baik dan utarakan yang kau mau, muliakan lah wanita yang kau cintai. Terlebih lagi jika kau masih memiliki seorang Ibu. Habiskan waktu dan cintamu untuk satu wanita saja, Ibumu, Ibumu, Ibumu. Bukankah wanita itu makhluk yang membingungkanmu? Bukankah kami ini sering mengecewakan? Sebagaimana Ali Bin Abi Thalib pernah berkata bahwa tidak ada kepahitan dunia yang beliau rasakan melainkan berharap kepada manusia yang paling pahit. Sudah jelas disini, bahwa Allah-lah tempat berharap yang sempurna. Yang selalu punya rencana yang indah diwaktu yang tak terduga. Yang tidak pernah mengecewakan hamba-Nya. Saudariku, jika cinta, mengadu kepada Allah. Minta kepada yang Maha membolak-balikan hati. Jika memang jodoh, dia pasti kembali. Jika tidak, kau akan mendapat lebih. Jangan kecewa, pilihan Allah pilihan terbaik. Teruslah berjalan menuju Allah, pemilik segalanya. Dekati penciptaNya, dan kau bahkan akan dipertemukan dengan orang yang jauh diluar dugaan.
Keputusan ditanganmu..
#sudahputuskansaja
#selfreminder
Alifah Nurkhairina
Gowa, 29 Mei 2018
23.47 WITA
Rabu, 02 Mei 2018
Masih dengan Hadiah yang Sama
Kali ini, kau mengajarkanku lagi beberapa hal. Tentang bagaimana menjadi wanita yang tetap kuat meski cobaan begitu dahsyat.
Mama, hari ini banyak yang menyakiti perasaanku diluar sana. Saya terlalu lemah. Tapi? selalu saja ada petuah yang membantuku bangkit kembali. Selalu saja ada alasan untuk tetap berjuang saat mulai kudapati wajahmu atau hanya suaramu. Begitu lemahnya saya, jika ada masalah saya tak berdaya. Tertatih-tatih menyelesaikannya sendiri. Namun, sejauh apapun usaha yang kubuktikan, padamulah segala keluh selalu kubebankan. Mungkin saja kau juga punya beban yang ingin dibagikan, tapi hanya disimpan rapat agar kita tak saling mengeluh, agar kita bisa saling menguatkan bahkan jika engkau dalam keadaan lemah.
Mama, semaksimal mungkin baktiku kepadamu tetap prioritas. Meski ada sedikit batasan, kupercayai bahwa Ridhomu, Ridho Allah, dan pasti berkah. Mungkin masa mudaku berjalan tak seperti mahasiswa umumnya, seringkali juga mama sering meminta maaf karena katanya telah merepotkanku dengan menyuruhku mengambil alih sedikit tugasnya mengurus rumah. Tapi lambat laun, Mama telah menanamkan sedikit demi sedikit ilmu yang sampai kapanpun tidak akan pernah kudapatkan dibangku kuliah, yaitu ilmu berbakti kepada orangtua dan keluarga.
Dampak negatifnya mungkin saya mulai mengasingkan diri dari lingkungan luar. Bukan berarti saya tidak sejalan dengan konsep Ibu Kartini, yang menyukai wanita yang mampu keluar dari zona nyaman ataupun menyamankan zonanya. Saya hanya ingin memaksimalkan bakti dan saya tidak merasa terbebani. Itu saja.
Yang paling kuingat darimu adalah "Nak, mendidik anak itu kita berlomba dengan setan. Tentang bagaimana kita bisa memenangkan pertandingan dengan bantuan Allah, libatkan terus Allah. Mama, detik ini aku kembali tersadar. seperti terngiang tentang sikap hangatmu saat kau menjaga kami dulu. Saat tak hentinya permintaan tak rasional yang kami inginkan, berusaha kau penuhi. Tentang bagaimana kau menuntun kami berjalan dengan baik. Tentang caramu mengajarkan kebaikan.
Mama, tak perlu menunggu harimu. Doa kami tetap ada, menyimpan namamu terus didalamnya. Doa kami tak sebatas saat hari bahagiamu tiba. Sehatlah selalu. Kami masih butuh dukungan dan doa. Tak ada pemandangan yang indah selain melihat senyum itu kembali. Tak ada kelembutan selain belaianmu dan tak ada kebahagian selain melihatmu tetap sehat saat kami kembali ke rumah.
Maaf belum mampu membanggakan.
Barakallah, Mamasayang..
#29April2018
Gowa, 11.42 WITA
Selasa, 13 Maret 2018
Bagian Ketiga: Saat kau kacau.
Setelah beberapa saat kita tak bertatap muka, kemarin kulampiaskan rinduku. Hari ini ada kesempatan untuk bisa melihat wujudmu. Aku memaksimalkannya. Mempersiapkan diri sebaik mungkin. Mencoba untuk menyempurnakannya. Tak ingin terlambat memanfaatkan waktu, sayapun bergegas ke titikmu.
Diperjalanan, kuperhatikan terus arlojiku. Ah sepertinya aku terlewat. Jangan,jangan sampai. Kataku. Setibanya disana. Aku tak kuasa. Tapi takut juga. Kubuka pintu itu, dan terfokus pandanganku kepadamu. Yah kau yang saat itu tengah berjuang. Senang rasanya melihat mu lagi. Tapi aku sempat berfikir, masuk jangan? Tapi kemudian aku lebih memilih masuk, mungkin rindu yang mendorongku. Lalu aku menuju kesana, tepat beberapa meter darimu. Kuliat raut wajah yang pucat dan raga yang kurang siap. Aku bilang kau sedang tidak baik.
Lama kuperhatikan, aku semakin yakin. Kau memang sedang menyimpan beban. Ada rasa kesal didadaku. Kenapa kau? Siapa yang berani menyulitkan harimu? Aku semakin kesal karena aku tidak berdaya untuk menyuarakan cemasku.
Kemarin sore, kuliat kau untuk kesekian kalinya. Kali ini kau jauh berbeda. Tak biasanya. Nampaknya kau ada masalah. Aku ikut murung. Hari itu hilang auramu. Hari itu aku mulai mencari senyum mu.
Aku bercerita kepada teman dekatku, tentang kau yang begitu tak bersemangat. Kuceritakan padanya bahwa aku ingin sekali menanyakan ada apa gerangan. Mustahil. Kita tak saling kenal, berpapasan dijalanpun kita tak saling menyapa. Saya selalu bertanya, kira-kira kapan waktu yang pas. Namun, rasa-rasanya waktu kita selalu salah. Dia belum mengizinkan.
Kau jangan terlalu lama kacau. Karena Saya sudah bosan dengan risau. Cepat-cepatlah kau membaik, supaya aku tidak lagi tidur terbalik. Selamat malam..
Gowa, Sabtu, 10 Februari 2018.
Al-Khairina.
Diperjalanan, kuperhatikan terus arlojiku. Ah sepertinya aku terlewat. Jangan,jangan sampai. Kataku. Setibanya disana. Aku tak kuasa. Tapi takut juga. Kubuka pintu itu, dan terfokus pandanganku kepadamu. Yah kau yang saat itu tengah berjuang. Senang rasanya melihat mu lagi. Tapi aku sempat berfikir, masuk jangan? Tapi kemudian aku lebih memilih masuk, mungkin rindu yang mendorongku. Lalu aku menuju kesana, tepat beberapa meter darimu. Kuliat raut wajah yang pucat dan raga yang kurang siap. Aku bilang kau sedang tidak baik.
Lama kuperhatikan, aku semakin yakin. Kau memang sedang menyimpan beban. Ada rasa kesal didadaku. Kenapa kau? Siapa yang berani menyulitkan harimu? Aku semakin kesal karena aku tidak berdaya untuk menyuarakan cemasku.
Kemarin sore, kuliat kau untuk kesekian kalinya. Kali ini kau jauh berbeda. Tak biasanya. Nampaknya kau ada masalah. Aku ikut murung. Hari itu hilang auramu. Hari itu aku mulai mencari senyum mu.
Aku bercerita kepada teman dekatku, tentang kau yang begitu tak bersemangat. Kuceritakan padanya bahwa aku ingin sekali menanyakan ada apa gerangan. Mustahil. Kita tak saling kenal, berpapasan dijalanpun kita tak saling menyapa. Saya selalu bertanya, kira-kira kapan waktu yang pas. Namun, rasa-rasanya waktu kita selalu salah. Dia belum mengizinkan.
Kau jangan terlalu lama kacau. Karena Saya sudah bosan dengan risau. Cepat-cepatlah kau membaik, supaya aku tidak lagi tidur terbalik. Selamat malam..
Gowa, Sabtu, 10 Februari 2018.
Al-Khairina.
Minggu, 25 Februari 2018
21: Hadiah Dariku~
Menuju 21. Seperti tahun lalu, tahun ini Saya akan mengapresiasi diriku sendiri. Mungkin bisa dikatakan sebagai kado dari Saya untuk diriku. Hanya sebuah review tentang saya yang lalu, saya jaman now dan saya kedepannya. Tentang beberapa perilaku dan kebiasaan yang belakangan ini kuperhatikan. Ada beberapa poin penting yang Saya sorot untuk menjadi lebih baik kedepannya.
Dimulai dari perubahan penampilan
Yah keputusan yang Saya ambil ini memang sangat berisiko. Saya juga bingung ini keputusan yang terlalu cepat atau malah sebaliknya. Aku tahu diriku. Seseorang yang dilema luar biasa dan bisa terubah prinsipnya kapan saja. Perlahan kuubah penampilanku. Sekarang memilih untuk memakai rok. Awalnya sangat sulit ku jalani, tapi Saya sangat ingin membuktikan apakah pepatah "Alah bisa karena biasa" itu benar adanya. Setelah terbiasa menanggalkan celana, saya mulai mengenakan jilbab yang cukup syar'i. Yah setidaknya lumayan panjang dan menutupi dada. Banyak teman yang sepertinya tidak terima, karena sebelumnya saya memang dikenal sebagai perempuan yang tomboi (tapi ini menurut pendapat saya lebih tepatnya hehe) Seolah-olah tidak percaya, dan ketahuilah saya juga. Namun, ini sudah konsekuensi sebagai Hamba Allah. Tak ada yang perlu disesalkan. Dan inilah Saya yang terbaru, yang mencoba untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Mohon do'anya :)
Menjadi pribadi yang sedikit calm
Aduh untuk yang satu ini Saya belum mampu menjamin seutuhnya. Berangkat dari kepribadian yang sesungguhnya memang sangat aktif, mungkin untuk perubahan ini saya perlu waktu yang cukup lama. Namun, Saya pernah membaca bahwa jika kita berniat dan berusaha untuk memperbaiki diri, maka Allah pun akan membantu kita. Ya sudah, perlahan namun pasti hehe. Tapi kalau kalian mendapati saya masih dengan sikap lama saya, mohon dimaklumi, Saya mah gitu. suka khilaf hehe
Membatasi pergaulan terhadap lawan jenis.
Sama halnya seperti diatas, mungkin ini juga salah satu hal yang harus diperbaiki. Yah Saya pun termasuk perempuan yang lebih menyenangi bergaul dengan kaum Adam, karena ada beberapa alasan yang sudah saya jelaskan pada postingan saya sebelumnya Mengapa saya lebih senang bergaul dengan kaum Adam Hal yang ingin kuubah dari point ini adalah membatasi berkomunikasi yang berlebihan dengan mereka baik secara langsung maupun tidak langsung dan juga membatasi jam bermain dengan mereka. Ada pula yang selama ini ingin sekali kuterapkan yaitu tidak bersentuhan kulit dengan mereka contohnya bersalaman. Maaf, Saya pernah membaca bahwa jika Lelaki menyentuh seseorang yang belum halal baginya, maka ditusuk jarum yang panas lebih baik daripada itu. Wahai lelaki, mari kita saling bantu dalam mencari Ridha-Nya :)
Lebih selektif memilih kegiatan kampus/non kampus.
Mungkin ada yang bilang bahwa saya ini mahasiswa apatis? Mahasiswa "kupu-kupu"? Mungkin ada yang berprasangka bahwa saya ini tak cinta dengan sesuatu yang berbau keorganisasian. Jika Anda yang sedang membaca tulisan ini adalah salah satu orangnya, kurasa kita harus bertemu dan merayakannya karena kita memang sepaham tentang hal ini. Entah mengapa, memasuki dunia perkuliahan membuat saya semakin acuh terhadap sentuhan organisasi. Padahal waktu SMA saya termasuk siswa yang aktif berorganisasi (Paskib, MPK Sekolah dan Remaja Mesjid). Tapi, jangan pernah kau memaki mahasiswa macam saya ini. Kau tidak pernah tau apa yang ada dipikiran mereka. Bisa jadi ternyata mereka pulang lebih awal karena mereka milih untuk menemami orang tuanya, memilih untuk berkegiatan diluar, memilih untuk mencari penghasilan agar tetap bisa bersekolah, ataupun memilih untuk mencari kegiatan yang bisa menambah amal. Sepertinya halnya kalian yang nyaman bernyanyi-nyanyi di depan lembaga atau hanya sekedar bercakap-cakap didepan segelas kopi? Mereka juga punya nyaman sendiri yang mungkin saja tidak mereka dapatkan di kampus. Maka sekali lagi jangan pernah maki mereka, Jangan pernah!
Memaksimalkan masa muda untuk hal yang bernilai ibadah dan positif
Setelah mencoba lebih mendalami Agama Islam, ternyata masih banyak hal sia-sia yang masih kusenangi. Contohnya saja menghabiskan masa muda dengan hal yang tak bernilai ibadah. Terlebih lagi Saya masih sering tergoda untuk bisa main bulutangkis. Yah, hobby bahkan cita-citaku dari kecil. Sampai-sampai Saya nekat untuk bergabung di salah satu club badminton yang menurutku cukup terkenal (ICLI Gowata) pada saat kelas 6 SD, dan sendiri :') Dan sekarang saya kembali lagi akrab dengan kegiatan ini, Ya Allah ingin rasanya main kembali, apalagi ada kesempatan. Tapi selalu saja ada bisikan, TAHAN! Jangan sampai Tuhanmu marah dan tidak meridhoi langkahmu. Satu kata penyemangat jika Saya mulai terlena dengan dunia ini, yaitu "Tahan Ina, pilih mana? Main badminton didunia atau Surga? Memang belum ada jaminan Surga bisa ku raih, tapi dengan meninggalkan sedikit kegiatan yang tak berguna mungkin ada hadiah yang lebih baik. Kejar Ridho-Nya semoga Allah memang telah membuatkanmu sesuatu yang telah dijanjikan untuk Hamba-Nya yang mampu istiqomah. Kata Ridho ini selalu saja kusebut pada postingan ini, karena Ridho Allah adalah tujuan dari semua amal perbuatan yang telah diusahakan. Jadi untuk teman-teman maupun kakak-kakak yang sering bertanya kenapa jarang main badminton lagi? Inimi jawabannya, semoga kalian mengerti :') Karena katanya dihari akhir kelak kita akan ditanyai tentang bagaimana kita memanfaatkan waktu muda. Sayang, Saya baru menyadarinya sekarang, bahkan mungkin masih belum maksimal dalam memanfaatkannya, Ya Allah kuharap engkau tidak berhenti me-Ridhai setiap langkahku.
Lebih sering menghabiskan panjang waktu dengan keluarga.
Ini mungkin perubahan yang paling jelas yang saya perhatikan. Entah mengapa Saya lebih sering mengusahakan selama tidak ada sesuatu yang harus kukerjakan diluar rumah, Saya harus pulang. Dirumah, Saya mungkin tidak bisa berproduktif. Saya tidak bisa bersenang dengan kalian yang berada di lembaga-lembaga yang 'katanya' siap mengabdi untuk masyarakat. Namun, mereka terkadang lupa bahwa dirumah ada keluarga yang memanggil untuk 'dijamah'. Aduh atau mungkin Saya yang terlalu bermasa bodoh dengan kebersamaan bersama teman. Tapi, sebagai makhluk sosial Saya pun memiliki beberapa teman yang masih terjalin baik denganku. Yang mungkin apresiasi buat teman-temanku ini karena mereka sangat memaklumi ketika Saya mengatakan tidak untuk saat ini setiap ajakan yang mereka ajukan kepada Saya. Dan Saya pula sangat menghargai mereka.
Mungkin 4 point diatas adalah bagian besar yang ingin saya ubah dan tentunya masih banyak lagi yang tidak bisa Saya sebutkan semuanya. Saya selalu berdoa agar terupgrade menjadi insan yang Hablumminallah dan Hablumminannas nya berjalan dengan baik. Semoga lingkunganku bisa membantuku mewujudkannya.
Selamat, diri. Hari ini kau sudah bernafas selama 21 tahun. Itu maksudnya jatah hidup telah berkurang. Langkah selanjutnya hanya niat, usaha dan Ridho dari Rabbmu. Teruslah berjalan lebih dekat dengan Allah. Jangan pernah lelah untuk menggapai Ridho-Nya. Ya Allah semoga tulisan ini bermanfaat untuk mereka yang membacanya, Aamiin. Ayok bersemangat untuk menjadi pribadi lebih baik, Karena duniaji ini, Akhirat selamanya. Mari saling mengingatkan. Bismillahirrahmanirrahim, Selamat melangkah lagi..
Rumahku, 25 Februari 2018
Gowa, 24.00+1 WITA
Alifah Nurkhairina
Dimulai dari perubahan penampilan
Yah keputusan yang Saya ambil ini memang sangat berisiko. Saya juga bingung ini keputusan yang terlalu cepat atau malah sebaliknya. Aku tahu diriku. Seseorang yang dilema luar biasa dan bisa terubah prinsipnya kapan saja. Perlahan kuubah penampilanku. Sekarang memilih untuk memakai rok. Awalnya sangat sulit ku jalani, tapi Saya sangat ingin membuktikan apakah pepatah "Alah bisa karena biasa" itu benar adanya. Setelah terbiasa menanggalkan celana, saya mulai mengenakan jilbab yang cukup syar'i. Yah setidaknya lumayan panjang dan menutupi dada. Banyak teman yang sepertinya tidak terima, karena sebelumnya saya memang dikenal sebagai perempuan yang tomboi (tapi ini menurut pendapat saya lebih tepatnya hehe) Seolah-olah tidak percaya, dan ketahuilah saya juga. Namun, ini sudah konsekuensi sebagai Hamba Allah. Tak ada yang perlu disesalkan. Dan inilah Saya yang terbaru, yang mencoba untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Mohon do'anya :)
Menjadi pribadi yang sedikit calm
Aduh untuk yang satu ini Saya belum mampu menjamin seutuhnya. Berangkat dari kepribadian yang sesungguhnya memang sangat aktif, mungkin untuk perubahan ini saya perlu waktu yang cukup lama. Namun, Saya pernah membaca bahwa jika kita berniat dan berusaha untuk memperbaiki diri, maka Allah pun akan membantu kita. Ya sudah, perlahan namun pasti hehe. Tapi kalau kalian mendapati saya masih dengan sikap lama saya, mohon dimaklumi, Saya mah gitu. suka khilaf hehe
Membatasi pergaulan terhadap lawan jenis.
Sama halnya seperti diatas, mungkin ini juga salah satu hal yang harus diperbaiki. Yah Saya pun termasuk perempuan yang lebih menyenangi bergaul dengan kaum Adam, karena ada beberapa alasan yang sudah saya jelaskan pada postingan saya sebelumnya Mengapa saya lebih senang bergaul dengan kaum Adam Hal yang ingin kuubah dari point ini adalah membatasi berkomunikasi yang berlebihan dengan mereka baik secara langsung maupun tidak langsung dan juga membatasi jam bermain dengan mereka. Ada pula yang selama ini ingin sekali kuterapkan yaitu tidak bersentuhan kulit dengan mereka contohnya bersalaman. Maaf, Saya pernah membaca bahwa jika Lelaki menyentuh seseorang yang belum halal baginya, maka ditusuk jarum yang panas lebih baik daripada itu. Wahai lelaki, mari kita saling bantu dalam mencari Ridha-Nya :)
Lebih selektif memilih kegiatan kampus/non kampus.
Mungkin ada yang bilang bahwa saya ini mahasiswa apatis? Mahasiswa "kupu-kupu"? Mungkin ada yang berprasangka bahwa saya ini tak cinta dengan sesuatu yang berbau keorganisasian. Jika Anda yang sedang membaca tulisan ini adalah salah satu orangnya, kurasa kita harus bertemu dan merayakannya karena kita memang sepaham tentang hal ini. Entah mengapa, memasuki dunia perkuliahan membuat saya semakin acuh terhadap sentuhan organisasi. Padahal waktu SMA saya termasuk siswa yang aktif berorganisasi (Paskib, MPK Sekolah dan Remaja Mesjid). Tapi, jangan pernah kau memaki mahasiswa macam saya ini. Kau tidak pernah tau apa yang ada dipikiran mereka. Bisa jadi ternyata mereka pulang lebih awal karena mereka milih untuk menemami orang tuanya, memilih untuk berkegiatan diluar, memilih untuk mencari penghasilan agar tetap bisa bersekolah, ataupun memilih untuk mencari kegiatan yang bisa menambah amal. Sepertinya halnya kalian yang nyaman bernyanyi-nyanyi di depan lembaga atau hanya sekedar bercakap-cakap didepan segelas kopi? Mereka juga punya nyaman sendiri yang mungkin saja tidak mereka dapatkan di kampus. Maka sekali lagi jangan pernah maki mereka, Jangan pernah!
Memaksimalkan masa muda untuk hal yang bernilai ibadah dan positif
Setelah mencoba lebih mendalami Agama Islam, ternyata masih banyak hal sia-sia yang masih kusenangi. Contohnya saja menghabiskan masa muda dengan hal yang tak bernilai ibadah. Terlebih lagi Saya masih sering tergoda untuk bisa main bulutangkis. Yah, hobby bahkan cita-citaku dari kecil. Sampai-sampai Saya nekat untuk bergabung di salah satu club badminton yang menurutku cukup terkenal (ICLI Gowata) pada saat kelas 6 SD, dan sendiri :') Dan sekarang saya kembali lagi akrab dengan kegiatan ini, Ya Allah ingin rasanya main kembali, apalagi ada kesempatan. Tapi selalu saja ada bisikan, TAHAN! Jangan sampai Tuhanmu marah dan tidak meridhoi langkahmu. Satu kata penyemangat jika Saya mulai terlena dengan dunia ini, yaitu "Tahan Ina, pilih mana? Main badminton didunia atau Surga? Memang belum ada jaminan Surga bisa ku raih, tapi dengan meninggalkan sedikit kegiatan yang tak berguna mungkin ada hadiah yang lebih baik. Kejar Ridho-Nya semoga Allah memang telah membuatkanmu sesuatu yang telah dijanjikan untuk Hamba-Nya yang mampu istiqomah. Kata Ridho ini selalu saja kusebut pada postingan ini, karena Ridho Allah adalah tujuan dari semua amal perbuatan yang telah diusahakan. Jadi untuk teman-teman maupun kakak-kakak yang sering bertanya kenapa jarang main badminton lagi? Inimi jawabannya, semoga kalian mengerti :') Karena katanya dihari akhir kelak kita akan ditanyai tentang bagaimana kita memanfaatkan waktu muda. Sayang, Saya baru menyadarinya sekarang, bahkan mungkin masih belum maksimal dalam memanfaatkannya, Ya Allah kuharap engkau tidak berhenti me-Ridhai setiap langkahku.
Lebih sering menghabiskan panjang waktu dengan keluarga.
Ini mungkin perubahan yang paling jelas yang saya perhatikan. Entah mengapa Saya lebih sering mengusahakan selama tidak ada sesuatu yang harus kukerjakan diluar rumah, Saya harus pulang. Dirumah, Saya mungkin tidak bisa berproduktif. Saya tidak bisa bersenang dengan kalian yang berada di lembaga-lembaga yang 'katanya' siap mengabdi untuk masyarakat. Namun, mereka terkadang lupa bahwa dirumah ada keluarga yang memanggil untuk 'dijamah'. Aduh atau mungkin Saya yang terlalu bermasa bodoh dengan kebersamaan bersama teman. Tapi, sebagai makhluk sosial Saya pun memiliki beberapa teman yang masih terjalin baik denganku. Yang mungkin apresiasi buat teman-temanku ini karena mereka sangat memaklumi ketika Saya mengatakan tidak untuk saat ini setiap ajakan yang mereka ajukan kepada Saya. Dan Saya pula sangat menghargai mereka.
Mungkin 4 point diatas adalah bagian besar yang ingin saya ubah dan tentunya masih banyak lagi yang tidak bisa Saya sebutkan semuanya. Saya selalu berdoa agar terupgrade menjadi insan yang Hablumminallah dan Hablumminannas nya berjalan dengan baik. Semoga lingkunganku bisa membantuku mewujudkannya.
Selamat, diri. Hari ini kau sudah bernafas selama 21 tahun. Itu maksudnya jatah hidup telah berkurang. Langkah selanjutnya hanya niat, usaha dan Ridho dari Rabbmu. Teruslah berjalan lebih dekat dengan Allah. Jangan pernah lelah untuk menggapai Ridho-Nya. Ya Allah semoga tulisan ini bermanfaat untuk mereka yang membacanya, Aamiin. Ayok bersemangat untuk menjadi pribadi lebih baik, Karena duniaji ini, Akhirat selamanya. Mari saling mengingatkan. Bismillahirrahmanirrahim, Selamat melangkah lagi..
Rumahku, 25 Februari 2018
Gowa, 24.00+1 WITA
Alifah Nurkhairina
Minggu, 04 Februari 2018
Serpihan Surga.
Tak habis rasanya kuucapkan syukur, tiap kali aku berada ditanahnya. Bulukumba. Berhasil menenangkan ragaku. Pelarian yang tepat dan selalu mengejutkan. Bukan disana asliku, tapi jiwaku selalu terpanggil untuk bermain didalamnya. Sejak dulu, dia selalu berhasil menciptakan senyum ditiap penggalan cerita hidupku. Selalu berhasil mencipta lembaran kenangan yang setelah itu kujadikan buah tangan agar nanti lebih mudah saya rindukan.
Bulukumba, dengan slogannya "berlayar". Telah mampu mengarungi berbagai macam problematika kehidupan. Setelah 58 tahun yang lalu telah ditetapkan hari jadinya. Ditahun ke 58 ini kau masih tetap kokoh. Dia masih terlihat indah. Bahkan mulai dirindukan. Pesona alam yang sering menjadi primadona bagi mereka yang mengaku mencintai alam. Ah. Tiba-tiba saja mulai bermunculan, mekar, menjelma menjadi tempat wisata yang pemandangannya hampir sempurna. Masyaa Allah ciptaanmu, Tuhan,
Ditahun ini, diawal tahun 2018ku, Dia kupilih sebagai latar tempatku memulainya. Berkali lipat sudah syukur ku kirimkan kepada Rabbku. Atas kekuasaanNya memilih tempat ini sebagai serpihan surgaNya. Saya tidak tumbuh dilingkungan ini, tapi saya dibesarkan oleh orang yang masa kecilnya habis disana. Moment terbaik, saat beliau menceritakan kenangannya. Secara langsung, senyumku bertambah. Mencoba merasakan juga kejadian yang telah ada. Betapa beruntungnya bisa menghabiskan waktu di masa itu. Bisakah aku juga merasakannya? Kini atau kedepannya? Entah..
Bulukumba.
Tepat ditahun ini juga, cintaku bertambah.
Kuhadiahkan kau sebuah tulisan sederhana.
Tak mampu rasanya kuceritakan semua.
Biarlah, alammu yang menjawab bahwa ternyata ungkapanku benar.
Izinkan aku menyusurimu, lebih dalam. Lagi.
Dan izinkan pula, kubawa seseorang yang istimewa. Untuk membuktikannya.
Bahwa kau memang, tempat terbaik untuk terus bersyukur.
Terima kasih, kau telah menjamu dengan baik
Terima kasih, Allah. Kau tunjukkan lagi kekuasaanMu. Bantu kami menjaganya :) Selamat ulang tahun, Butta Panrita Lopi.
Kau berhasil juara di hati.
Gowa, 20.54 WITA
Edisi Milad.
4 Februari 1960 - 4 Februari 2018
Salam Cinta
Alifah Nurkhairina
Bulukumba, dengan slogannya "berlayar". Telah mampu mengarungi berbagai macam problematika kehidupan. Setelah 58 tahun yang lalu telah ditetapkan hari jadinya. Ditahun ke 58 ini kau masih tetap kokoh. Dia masih terlihat indah. Bahkan mulai dirindukan. Pesona alam yang sering menjadi primadona bagi mereka yang mengaku mencintai alam. Ah. Tiba-tiba saja mulai bermunculan, mekar, menjelma menjadi tempat wisata yang pemandangannya hampir sempurna. Masyaa Allah ciptaanmu, Tuhan,
Ditahun ini, diawal tahun 2018ku, Dia kupilih sebagai latar tempatku memulainya. Berkali lipat sudah syukur ku kirimkan kepada Rabbku. Atas kekuasaanNya memilih tempat ini sebagai serpihan surgaNya. Saya tidak tumbuh dilingkungan ini, tapi saya dibesarkan oleh orang yang masa kecilnya habis disana. Moment terbaik, saat beliau menceritakan kenangannya. Secara langsung, senyumku bertambah. Mencoba merasakan juga kejadian yang telah ada. Betapa beruntungnya bisa menghabiskan waktu di masa itu. Bisakah aku juga merasakannya? Kini atau kedepannya? Entah..
Bulukumba.
Tepat ditahun ini juga, cintaku bertambah.
Kuhadiahkan kau sebuah tulisan sederhana.
Tak mampu rasanya kuceritakan semua.
Biarlah, alammu yang menjawab bahwa ternyata ungkapanku benar.
Izinkan aku menyusurimu, lebih dalam. Lagi.
Dan izinkan pula, kubawa seseorang yang istimewa. Untuk membuktikannya.
Bahwa kau memang, tempat terbaik untuk terus bersyukur.
Terima kasih, kau telah menjamu dengan baik
Terima kasih, Allah. Kau tunjukkan lagi kekuasaanMu. Bantu kami menjaganya :) Selamat ulang tahun, Butta Panrita Lopi.
Kau berhasil juara di hati.
Gowa, 20.54 WITA
Edisi Milad.
4 Februari 1960 - 4 Februari 2018
Salam Cinta
Alifah Nurkhairina
Sabtu, 30 Desember 2017
Nak, Kamu dimana?
"Nak, kamu dimana?"
Begitu pertanyaan yang sering kudengar jika seorang Ibu/Ayah mencari anaknya. Kali ini saya akan menyinggung kepada anak rantau. Mereka yang rantau ke luar Indonesia, luar sulawesi, luar daerah, sampai mereka yang memang jarang ada dirumah meskipun tak sedang merantau. Anak rantau memang anak yang sedikit istimewa. Mereka kerap kali dirindukan. Hadirnya sangat dinanti. Namun,terkadang mereka tidak sadar diri. Ada beberapa point penting terkait jawaban pertanyaan diatas.
Yang pertama, Anaknya akan menjawab. Maaf Bu/Ayah, saya tidak pulang saat ini. Pernyataan ini cukup sederhana menurut kalian dan tak berarti apa-apa, namun taukah kalian? Ibu kita merasa sedih mendengarnya. Dalam hatinya berkata, padahal Ibu sudah sangat rindu denganmu. Firasat ini kuyakini karena Ibu saya sendiri yang mengatakannya dan juga saya seorang perempuan, pasti merasakan hal yang sama, jika orang yang kau nanti tak sempat hadir. Saya bertanya lagi, Ibu baik-baik saja? Yahh dia menjawab saya baik-baik saja dengan wajah yang ragu. Pernahkah kalian sadari, kalian ini jarang dirumah. Tidak rindukah kalian dengan Ibu, Ayah dan saudara-saudara kalian? Tidak mau kah kalian menghabiskan waktu bersama kami lagi? Bercerita sambil meminum teh panas. Haduh. Betapa teduhnya moment itu.
Yang kedua, Anaknya akan menjawab. Iya Bu, saya akan pulang beberapa menit lagi. Pernyataan sederhana juga namun seringkali kita hiraukan. Tidak berfikirkah kalian? Betapa khawatirnya orang tua kita saat menerima kabar tersebut. Mereka selalu berdoa agar perjalanan kalian lancar. Kalian dijauhkan dari bahaya dan sampai dengan selamat. Tidak sadarkah kalian? Saat itu kalian sedang menguji batinnya? Mereka beraktivitas dengan cemas. Sampai saat suara kendaraan kalian terdengar didepan pagar. Barulah mereka melepas lega. Saran saya, bergegaslah pulang setelah habis sibukmu dan sebelum mereka menghubungimu. Biasakan dirilah, hal-hal sederhana yang membuatnya nyaman? Kenapa tidak? Jangan membuat mereka resah. Lakukanlah.
Yang ketiga Anaknya akan menjawab, Iya Bu,saya sudah dijalan. Jawaban ini jawaban yang dapat menenangkan hatinya. Mereka lega karena sang buah hati sudah menyelesaikan aktivitasnya dan bergegas untuk kembali kerumah. Sesampainya didepan pagar, Ibu/Ayah kita menyambut dengan lembut kehadiran kalian. Namun, tiba-tiba telpon genggam mu berdering. Kalian lupa bahwa hari ini ada acara bersama kawan dan moment ini jarang terjadi.Jadi kalian bersemangat untuk hadir. Kalian pun meminta izin. jawaban orangtua pastilah tidak mengizinkan. Tapi demi membuat kalian bahagia, mereka rela melepas. Betul. Kalian gembira dan bersegera berkemas. Terlukis lagi raut wajah kesedihan yang dengan sengaja disembunyikan.
Terkadang saya kecewa tanpa harus tau karena apa dan kepada siapa. Saya terkadang cemburu. Ingin menjadi anak rantau yang dirindu. Tidak terbesitkah dibenak kalian tentang suara hati mereka? Mereka mengharap penuh, waktu yang kalian luangkan untuk mereka. Mereka memberikan kebebasan untuk mengejar cita-cita. Tapi ternyata mereka juga bercita-cita untuk menghabiskan waktu lebih lama bersama kita, anak-anaknya. Mengapa kalian tidak mau mewujudkan harapannya? Tinggallah dirumah. Bercengkramalah dengan mereka. Batalkan agenda yang menurut kalian tak terlalu penting. Kalian sudah dewasa. Sudah bisa mengatur skala prioritas masing-masing. Jadikan mereka utama. "Tapikan aku sudah mengatur pertemuanku dengan kawan lama? Tapikan aku sudah merancang temu jauh hari dengan kekasihku?" Lagipula hanya ini kesempatanku bertemu dengan mereka karena nanti aku sudah merantau lagi". Yah bisa kau lakukan. Tapi ingat, Ibu/Ayah juga sudah merancang temu dengan mu. Tahan dirimu, Sekarang saatnya menjadi remaja yang berbakti. Menjadi remaja yang membuat orangtuanya bangga dengan pengorbanan kecilmu. Soal pertemanan dan kesenangan? Kalian jangan khawatir. Teman yang menganggapmu payah tak pantas disebut teman. Kesenangan bertemu dengan kekasih? Batalkan! Orangtualah kekasih yang harusnya kau bahagiakan. Kerumahlah.
Hidup itu pilihan. Pilihlah mereka yang memilihmu.
Semoga bermanfaat.
#Selfreminder
Dari suara yang mereka pendam.
Bulukumba, 30 Des 17
Alifah Nurkhairina, 23.17 WITA.
Begitu pertanyaan yang sering kudengar jika seorang Ibu/Ayah mencari anaknya. Kali ini saya akan menyinggung kepada anak rantau. Mereka yang rantau ke luar Indonesia, luar sulawesi, luar daerah, sampai mereka yang memang jarang ada dirumah meskipun tak sedang merantau. Anak rantau memang anak yang sedikit istimewa. Mereka kerap kali dirindukan. Hadirnya sangat dinanti. Namun,terkadang mereka tidak sadar diri. Ada beberapa point penting terkait jawaban pertanyaan diatas.
Yang pertama, Anaknya akan menjawab. Maaf Bu/Ayah, saya tidak pulang saat ini. Pernyataan ini cukup sederhana menurut kalian dan tak berarti apa-apa, namun taukah kalian? Ibu kita merasa sedih mendengarnya. Dalam hatinya berkata, padahal Ibu sudah sangat rindu denganmu. Firasat ini kuyakini karena Ibu saya sendiri yang mengatakannya dan juga saya seorang perempuan, pasti merasakan hal yang sama, jika orang yang kau nanti tak sempat hadir. Saya bertanya lagi, Ibu baik-baik saja? Yahh dia menjawab saya baik-baik saja dengan wajah yang ragu. Pernahkah kalian sadari, kalian ini jarang dirumah. Tidak rindukah kalian dengan Ibu, Ayah dan saudara-saudara kalian? Tidak mau kah kalian menghabiskan waktu bersama kami lagi? Bercerita sambil meminum teh panas. Haduh. Betapa teduhnya moment itu.
Yang kedua, Anaknya akan menjawab. Iya Bu, saya akan pulang beberapa menit lagi. Pernyataan sederhana juga namun seringkali kita hiraukan. Tidak berfikirkah kalian? Betapa khawatirnya orang tua kita saat menerima kabar tersebut. Mereka selalu berdoa agar perjalanan kalian lancar. Kalian dijauhkan dari bahaya dan sampai dengan selamat. Tidak sadarkah kalian? Saat itu kalian sedang menguji batinnya? Mereka beraktivitas dengan cemas. Sampai saat suara kendaraan kalian terdengar didepan pagar. Barulah mereka melepas lega. Saran saya, bergegaslah pulang setelah habis sibukmu dan sebelum mereka menghubungimu. Biasakan dirilah, hal-hal sederhana yang membuatnya nyaman? Kenapa tidak? Jangan membuat mereka resah. Lakukanlah.
Yang ketiga Anaknya akan menjawab, Iya Bu,saya sudah dijalan. Jawaban ini jawaban yang dapat menenangkan hatinya. Mereka lega karena sang buah hati sudah menyelesaikan aktivitasnya dan bergegas untuk kembali kerumah. Sesampainya didepan pagar, Ibu/Ayah kita menyambut dengan lembut kehadiran kalian. Namun, tiba-tiba telpon genggam mu berdering. Kalian lupa bahwa hari ini ada acara bersama kawan dan moment ini jarang terjadi.Jadi kalian bersemangat untuk hadir. Kalian pun meminta izin. jawaban orangtua pastilah tidak mengizinkan. Tapi demi membuat kalian bahagia, mereka rela melepas. Betul. Kalian gembira dan bersegera berkemas. Terlukis lagi raut wajah kesedihan yang dengan sengaja disembunyikan.
Terkadang saya kecewa tanpa harus tau karena apa dan kepada siapa. Saya terkadang cemburu. Ingin menjadi anak rantau yang dirindu. Tidak terbesitkah dibenak kalian tentang suara hati mereka? Mereka mengharap penuh, waktu yang kalian luangkan untuk mereka. Mereka memberikan kebebasan untuk mengejar cita-cita. Tapi ternyata mereka juga bercita-cita untuk menghabiskan waktu lebih lama bersama kita, anak-anaknya. Mengapa kalian tidak mau mewujudkan harapannya? Tinggallah dirumah. Bercengkramalah dengan mereka. Batalkan agenda yang menurut kalian tak terlalu penting. Kalian sudah dewasa. Sudah bisa mengatur skala prioritas masing-masing. Jadikan mereka utama. "Tapikan aku sudah mengatur pertemuanku dengan kawan lama? Tapikan aku sudah merancang temu jauh hari dengan kekasihku?" Lagipula hanya ini kesempatanku bertemu dengan mereka karena nanti aku sudah merantau lagi". Yah bisa kau lakukan. Tapi ingat, Ibu/Ayah juga sudah merancang temu dengan mu. Tahan dirimu, Sekarang saatnya menjadi remaja yang berbakti. Menjadi remaja yang membuat orangtuanya bangga dengan pengorbanan kecilmu. Soal pertemanan dan kesenangan? Kalian jangan khawatir. Teman yang menganggapmu payah tak pantas disebut teman. Kesenangan bertemu dengan kekasih? Batalkan! Orangtualah kekasih yang harusnya kau bahagiakan. Kerumahlah.
Hidup itu pilihan. Pilihlah mereka yang memilihmu.
Semoga bermanfaat.
#Selfreminder
Dari suara yang mereka pendam.
Bulukumba, 30 Des 17
Alifah Nurkhairina, 23.17 WITA.
Langganan:
Postingan (Atom)