Sabtu, 13 Desember 2025

TIADA TANDING: ASUS ROG TERBAIK UNTUK GAMING


Penghujung tahun 2025, ASUS Indonesia mengadakan launching produk inovasi laptop terbarunya di Sulawesi Selatan. Kesempatan yang sangat berharga bisa menjadi salah satu blogger yang diundang oleh ASUS Indonesia untuk hadir dalam kegiatan yang bertema "Together We Win, Together We Grow"

Foto dari kiri ke kanan:
Muhammad Firman, Head of Public Relations ASUS Indonesia
Lenny Lin, Country Director, ASUS Indonesia
Davina Larissa, Country Marketing Manager ASUS Indonesia

Hotel The Rinra menjadi tempat kami para blogger untuk bersua dan perkenalan dengan produk inovasi terbarunya Laptop ASUS. Kami juga diberi kesempatan untuk mencoba berbagai produk laptop ASUSnya dan merasakan sensasi pengalaman terbaik. Panitia dan para Tim dari ASUS Indonesia sangat bersemangat dan detail menjelaskan terkait produk invoasi laptop dari ASUS. dan dari semua produk inovasi yang dijelaskan oleh Tim ASUS, saya sangat tertarik dengan produk inovasi ASUS ROG (Republik of Gaming)nya.

Dokumentasi foto bersama para Blogger Makassar bersama Tim ASUS Indonesia

ASUS ROG RTX 50 SERIES LAPTOPS

Industri gaming global mencatat adanya pertumbuhan signifikan terhadap penggunaan laptop gaming yang berbasis NVIDIA® GeForce RTX™ 50 Series. Menurut data Steam per Juli 2025, GeForce RTX™ 5070 yang kini telah digunakan oleh 1,32% gamers di seluruh dunia, mengalami peningkatan diangka 0,33% dibandingkan bulan Juni. Hal ini sejalan dengan data aktivasi NVIDIA dan data internal ASUS ROG, yaitu jumlah total aktivasi laptop gaming ASUS ROG berbasis NVIDIA® GeForce RTX™ 50 Series kini telah mencapai 50% untuk pasar Indonesia. Hal ini menandakan bahwa antusiasme produk laptop gaming ASUS ROG didominasi pada laptop RTX™ 50 series dan ASUS ROG mampu menjawab kebutuhan serta minat para gamers di Indonesia untuk inovasi terbarukan ini.

1. DESAIN ELEGAN, GAGAH DAN MEWAH

Desain laptop Asus ROG memadukan estetika futuristik dan agresif dengan fungsionalitas tinggi, menampilkan garis aerodinamis (seperti mobil balap di seri Strix), RGB Lighting yang dapat disinkronkan (light bar, keyboard), bezel tipis untuk visual imersif dan logo ROG yang khas.

Fitur desain utamanya mencakup sistem pendingin canggih (Vapor Chamber, liquid metal) untuk performa maksimal, build quality solid, keyboard ergonomis serta variasi model seperti Zephyrus (tipis dan ringan), Strix (performa tinggi) dan Flow (2- in-1) yang semuanya dirancang untuk kenyamanan dan daya tahan saat gaming intensif.


Desain menarik dan elegan. Sangat menarik perhatian.

2. PERFORMA TERBAIK

ASUS ROG menawarkan performa gaming kelas atas yang seimbang dengan portabilitas, kualitas layardan fitur inovatif, menjadikannya pilihan utama bagi gamer profesional dan juga konten kreator.
Prosesor menggunakan CPU Intel Core Ultra (HX series) atau AMD Ryzen (seri AI 9 HX) terbaru, menawarkan performa CPU dan AI yang luar biasa untuk game AAA dan pekerjaan kreatif. Kartu Garfis dilengkapi NVIDIA GeForce RTX 40 atau 50 series, mendukung Ray Tracing dan Frame Generation untuk visual realistis dan FPS tinggi.

Layar ROG Nebula Display (OLED atau IPS) dengan resolusi tinggi (3K/2.5K), refresh rate cepat (120Hz, 180Hz, 240Hz) dan waktu respons sangat singkat (3ms), menjamin visual mulus dan akurat. Untuk memori dan penyimpanan menggunakan RAM DDR5 dan SSD PCIe 4.0 memastikan loading game dan aplikasi super cepat, serta multitasking berat.

Sistem pendingin canggih menjaga suhu tetap optimal meskipun komponen bekerja keras, mencegah throttling. Terakhir, dukungan AI melalui Windows Copilot dan NPU (Neural Processing Unit) membantu produktivitas dan meningkatkan performa game.

3. HARGA BERVARIATIF

ASUS menghadirkan berbagai model unggulan RTX™ 50 Series yang cocok untuk beragam pengguna. Untuk casual gamers, ada ASUS Gaming V16 dengan taksiran harga Rp. 19.999.000, dengan RTX™ 5050 dan Intel® Core™ 7 240H.

Lalu ada TUF Gaming A14 dengan prosesor AMD Ryzen AI 7 dan RTX™ 5060 yang cocok untuk gamers aktif karena desainnya yang ringan dan tipis. Taksiran harga mulai dari Rp. 23.999.000.

Bagi yang membutuhkan performa tinggi, ROG Strix G16 hadir dengan taksiran harga mulai dari Rp. 25.999.000, dilengkapi dengan AI Boost NPU hingga 13Tops, menjadikannya ideal untuk pro gamers dan konten kreator. Seluruh laptop ASUS RTX™ 50 Series sudah mendukung Windows 11 Home, lengkap dengan sistem pendingin canggih dan performa AI modern.


4. GARANSI TERJAMIN

Garansi Asus ROG bervariasi, tetapi saat ini banyak laptop ROG dan (lini premium lainnya) memperoleh Garansi Internasional 3 Tahun plus perlindungan tambahan seperti ASUS VIP Perfect Warranty untuk tahun pertama (kerusakan akibat pengguna) pada model tertentu (misal ROG Flow Z13 2025), sementara untuk komponen lain seperti Motherboard, VGA dan Monitor ROG biasanya 3 tahun bahkan ada garansi panel khusus.


5. MERAIH BERBAGAI PENGHARGAAN

Atas semua inovasi yang dilakukan oleh Laptop ASUS ROG membuat brand ini meraih berbagai penghargaan bergengsi seperti CES Innovation Awards dan Best Choice Awards termasuk untuk inovasi seperti Zephyrus Duo (desain layar ganda) dan teknologi pendinginan canggih, serta dinobatkan sebagai laptop gaming terbaik dalam kategori tertentu di acar seperti Indonesia Gadget Award 2023 (IGA 2023) untuk Zephyrus Duo 16 GX650, menunjukkan pengakuan atas performa, fitur inovatif dan berkualitas.


Menghadiri kegiatan ASUS kemarin, sungguh pengalaman terbaik. Terima kasih untuk ASUS Indonesia, semoga semakin berjaya.

Minggu, 10 November 2024

Sang Pahlawan

Teruntuk seseorang..

Sejak pertama kali kenal, memang saya tidak pernah salah. Yakin betul bahwa seorang ini begitu bersahaja dan punya aura yang positif setiap berjumpa. Saya masih ingat betul, bagaimana perjalanan menemukan dan akhirnya bisa sampai pada titik sedekat ini dengannya. Mungkin dia juga tau, bagaimana usahaku untuk membuat semuanya lebih mudah dilewati.

Ada beberapa hal yang membuat saya jatuh hati dengan sikapnya. Beberapa diantaranya sudah kulihat jelas secara langsung didepan mata, dan beberapa yang lainnya tersampaikan melalui lisan orang-orang sekitarku yang tidak kuragukan lagi kebenarannya.

Terima kasih. Banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil darinya. Tentang keikhlasan, bagaimana keluar dari suasana kelam setelah kepergian sang ibunda, kehilangan yang tidak akan pernah bisa tergantikan dengan apapun. 

Belajar darinya tentang kerja keras dan ketekunan, saya teryakinkan dengan berbagai pencapaian yang selama ini diraih (studi, karier, prestasi) bahwa memang dia ini seorang yang seniat itu menggapai mimpi. 

Belajar darinya, tentang bagaimana belajar konsisten terhadap prinsip yang dipegang. Laki-laki dengan prinsip yang teguh tidak pernah kutemukan pada laki-laki lain yang berusaha mendekat. 

Belajar darinya tentang bagaimana berhablumminallah dan berhablumminannas yang baik. 

Terima kasih. Selalu berusaha menghargai karya-karya ku yang tidak seberapa. Terima kasih, bisa menenangkan disaat saya lagi merasa tidak bisa diandalkan. Terima kasih, karena selalu berusaha untuk meluangkan waktu atas segala ajakanku yang kadang menyusahkan. Terima kasih, karena bisa mencipta senyumku bahkan tanpa harus berbuat apa-apa. 

Terima kasih sudah merendahkan suaranya ketika berbincang. Maaf, kalau saya tidak pernah berani menatap mata ketika berbicara. Sungguh, bukan karena sama sekali tidak menghargai lawan bicara, tapi begitulah salah tingkah, tidak bisa diredam meski sudah berkali-kali diusahakan.

Terima kasih, karena tanpa berusaha menjadi orang lain, kamu kembali berhasil memenangkan hatiku, lagi dan lagi.

Bersama atau tidak nantinya, Saya beruntung sekali bisa kenal dengannya. Terima kasih sudah bersedia menerima saya masuk dihidupnya. Semoga dia tidak pernah menyesal mengenal saya.

Senin, 30 September 2024

September: Ceria atau Tumpah Air Mata?

Bulan ini menjadi terasa sedikit berbeda. Banyak hal yang membuat saya kembali menempa diri untuk bisa memaknai setiap kejadian. Pada awalnya, saya merasa bahwa bulan September kali ini betul-betul tidak berpihak pada saya. Akan tetapi, lagi-lagi kembali tersadarkan bahwa, setiap kejadian pasti ada makna yang baru nampak setelahnya.

AWAL BULAN.

Memulai September, saya mencoba memberanikan diri untuk memasuki babak baru dalam hobi yang sudah lama saya tekuni, ya Badminton. Saya akhirnya berhasil meyakinkan diri untuk mendaftar dalam turnamen badminton. Setelah pertimbangan yang cukup panjang serta segala resiko yang mungkin akan kudapatkan. Berbekal dengan dukungan dan dorongan dari saudara serta rekan seperhobian, maka kumantapkan untuk ikut serta dalam turnamen kali ini.

Campur aduk perasaanku kala itu. Saya tau betul, demam panggung begitu menghantuiku ketika sedang tampil di depan banyak orang. Apalagi dengan beban yang saya emban ketika masuk di lapangan. 

"Pokoknya, lakukan yang terbaik saja dulu. Menang kalah urusan belakang. Toh juga ini baru pertama kalinya, jadi tak mengapa jika tidak juara". batinku.

Kalimat itu yang selalu kusugestikan, agar ekspektasiku tidak begitu menjadi beban.

Tibalah hari H. Dengan segala keyakinan, meski latihan tidak seberapa, saya memantapkan diri untuk bertempur habis-habisan. Membuang semua segala ketakutan, yang mungkin akan mengganggu segala penampilan saat di lapangan. Saya sangat senang, ketika berkesempatan lagi untuk merasakan euforia turnamen yang begitu diluar dugaan. 

Saya senang, akhirnya saya berhasil untuk tidak membawa ketakutan, demam panggung dan segala beban yang kukira akan menghantuiku di lapangan. Saya betul-betul hanya membawa raket, botol minum, dan segala doa-doa yang telah dibekalkan Mama ku dari rumah.

Saya dan partnerku selalu menang, kami tidak pernah kalah dalam pertandingan. Sayangnya, ada satu hal yang akhirnya menghentikan langkah kami untuk berada dipodium juara, kami terdiskualifikasi dengan alasan yang cukup membingungkan. Meski sangat-sangat kecewa, keputusan harus kami terima.

Pada awalnya, cukup berat. Bisa kubilang mungkin ini menjadi trauma. Beberapa hari setelah kejadian, seperti tak bersemangat rasanya memulai aktivitas lainnya. Bawaannya ingin saja terus menggerutu dan mengutuk keadaan.

Tapi, seiring berjalannya waktu, semua akhirnya bisa ku atasi. Saya perlahan mulai berdamai dengan semua ini. Saya memilih untuk mengambil hikmah setelahnya. Tidak lagi memberi fokus dan perhatian berlebih terhadap apa-apa yang membuatku patah hati. 

Satu hal terpenting, bahwa pertarungan kemarin bukan tentang mengalahkan lawan. Tetapi tentang bagaimana mengalahkan egoku sendiri. Dan saya dengan percaya diri menyatakan bahwa saya telah menang atas egoku. Saya betul sudah berdamai dengannya.

AKHIR BULAN.

Selain keuangan yang sudah menunjukkan tanda-tanda kelemahannya, perasaanku pun demikian. Beberapa orang tersayang disekitarku akhirnya tidak berhasil lagi kutahan laju kepergiannya. Tentu tidak semudah itu membiasakan diri tanpa mereka (terutama adik bungsuku yang saat ini tengah studi di Taiwan). Mari membiarkan waktu menolong sebisanya. Semoga kali ini dan setelah-setelahnya, saya mampu berdamai juga. Semoga semua cepat berkumpul dan bercerita lagi seperti semula.

REVIEW SEPTEMBER

"Semoga setelah ini, banyak kabar bahagia menghampiri. Terima kasih September, yang kupikir bisa mendatangkan bahagia, rupanya membuat tumpah air mata. Namun, terima kasih juga, berkat air mata yang tumpah, saya bisa semakin menghargai kehadiran untuk segala hal yang tidak berhasil ku genggam sempurna"


*Terima kasih orang baik yang sudah mampir dan bersedia meluangkan waktunya untuk membaca sampai akhir. Kalau berkenan, jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar yaa..

~ Alifah Nurkhairina ~

Jumat, 20 Oktober 2023

OPINI: Konflik Timur Tengah, Literasi Bisa Apa?

Tribun Timur edisi 18 Oktober 2023


Belakangan ini, gejolak antara Palestina dan Israel kembali memanas. Bukan hanya pasukan bersenjata yang terlibat dalam perang, tetapi juga para warga sipil seperti wanita dan anak-anak yang ikut menjadi korban. Tidak sedikit kerugian materi dan jatuhnya korban jiwa yang menimpa keduanya akibat konflik yang telah berlangsung sejak tahun 1940an. 

Berita-berita nasional maupun luar negeri berlomba-lomba untuk mengangkat konflik yang sedang hangat ini. Masing-masing lebih cenderung kepada salah satunya atau bahkan mengambil jalan tengah untuk cari aman. Berita yang kita saksikan setiap harinya dalam layar kaca menyuguhkan data-data terkait berapa jumlah korban, berapa kerugian yang dialami, serta apasaja persiapan kekuatan yang dimiliki oleh masing - masing wilayah. Kelirunya, kita terlalu cepat percaya dengan statement yang diberitakan melalui siaran tanpa meninjau sudut pandang lainnya.

Perlu diketahui bahwa data-data yang ditampilkan dalam layar kaca kadang kala tidak sesuai dengan fakta dilapangan. Selain karena sumber informasi yang berbeda, hal ini mungkin saja bertujuan untuk menggiring opini masyarakat agar lebih memihak kepada Palestina, Israel atau tidak keduanya.  

Ketidaksesuaian fakta yang ada dilayar kaca dengan fakta di lapangan membuat kita penasaran dan mulai berupaya untuk menggali lebih jauh informasi lengkapnya sebagai penyeimbang atau pembanding. Kebanyakan kita cenderung mencari informasi dimedia sosial, karena saat ini media sosial menjadi sumber informasi tercepat dan mudah diakses oleh siapapun. Terlebih dizaman yang kecanggihan teknologinya sudah tidak diragukan lagi, memperoleh informasi dari berbagai sumber dapat dilakukan hanya dengan klik klik sana sini.

Menanggapi ini, salah satu yang bisa dimanfaatkan adalah literasi dan pengendalian media sosial. Perlu diketahui bahwa keduanya bisa saling terkait dan menciptakan kekuatan untuk bisa mempengaruhi. Kita pasti akan mulai mencari tau tentang mengapa konflik ini bisa terjadi, siapa yang berpeluang akan memenangkan peperangan nanti, atau apa yang terjadi ketika perang telah usai? 

Kita bisa memulainya dengan membaca sejarah dan meriset sendiri bagaimana kaitannya dengan kondisi saat ini. Belajar dari sejarah, pun termasuk literasi. Mempelajari sejarah bukan hanya menghapalkan nama, tempat, waktu, dan kondisi pada saat kejadian, tetapi tentang bagaimana belajar dari pengalaman yang lalu agar sejarah kelam tidak terulang lagi. 

Literasi bisa membuat orang berubah. Kita bisa mempengaruhi cara berpikir seseorang bahkan hanya dengan tulisan. Meskipun demikian, tentu kita harus pandai memilah, mana tulisan yang bisa mendatangkan kebaikan atau malah justru akan membunuh karakter penulisnya secara perlahan.

Pernyataan tersebut membuat kita sadar bahwa perang tidak hanya terjadi secara langsung atau secara fisik saja, melainkan sudah merambah ke dunia maya. Adu argument sana sini, membangun opini, fakta yang dibolakbalik, sudah tidak tabu lagi dalam media sosial yang hampir tidak lepas dari pantauan. 

Tidak kalah sengit, perang dunia maya atau perang literasi ini juga memiliki dampak yang perlu diperhitungkan ketika memiliki massa yang banyak. Hal ini membuktikan bahwa literasi juga ikut mengambil peran dalam konflik yang menyita seluruh perhatian dunia. Tidak sedikit pula yang menjadi korban dalam perang literasi ini, tentu saja mereka adalah netizen - netizen yang kurang informasi dan mudah terpancing oleh argument yang tidak sesuai data dan fakta.

Hal inilah yang kemudian bisa dijadikan sebagai senjata untuk ikut serta terlibat dalam peperangan Palestina-Israel. Kita tidak perlu lagi bersusah payah untuk melangkahkan kaki ke daerah konflik, menghadirkan raga kita dengan niat membela kebenaran dan kemanusiaan. Sekarang kita bisa memaksimalkannya melalui media sosial, membuat postingan yang bermanfaat, membuat tulisan-tulisan yang bisa menggugah hati seseorang untuk mempengaruhi arah pandangannya. 

Serangan seperti ini tidak boleh dianggap remeh, sebab kita ketahui bahwa masih banyak orang yang tidak mampu membedakan mana berita fakta dan mana berita hoaks. Situasi seperti ini bisa dimanfaatkan dan dinilai mampu menghimpun pemikiran seseorang bahkan bisa mengendalikan keberpihakannya.



Pada intinya, literasi saat ini punya kekuatan tersendiri, terlebih diera teknologi yang kecanggihannya sudah tidak bisa dianggap payah lagi. Tinggal bagaimana cara kita membijaksanai, akankah sesuai dengan target kebaikan yang ini dicapai, atau malah mendatangkan hal-hal buruk yang tidak pernah terpikir sama sekali. Meski begitu harus tetap optimis, dan tetaplah menulis.

Tinggal kita lihat saja, pendukung mana yang lebih jitu strateginya dalam berliterasi dan mengendalikan berita-berita yang ada dimedia sosial. Pendukung siapa yang lebih hebat ‘menggoda’ netizen untuk percaya pada statementnya. Semoga kedamaian yang dirindukan oleh anak manusia segera nyata adanya.


Jumat, 18 Agustus 2023

Merdeka dalam Bekerja, Sudahkah kita?

OPINI, Terbit di Tribun Timur, Edisi Rabu, 9 Agustus 2023


Bulan Agustus bagi rakyat Indonesia menjadi momentum untuk belajar memaknai defenisi kemerdekaan yang sesungguhnya. Selain untuk mengenang para pahlawan dan segala jatuh bangunnya dalam memperjuangkan kemerdekaan Ibu Pertiwi, Hari Kemerdekaan RI yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus ini juga dijadikan sebagai refleksi diri untuk masing-masing individu terhadap segala perjuangan yang telah dilewati.

Ada banyak hal yang bisa dijadikan sebagai bahan refleksi diri. Beberapa diantaranya adalah prestasi dalam belajar, ketepatan dalam memilih pasangan hidup, hubungan antar keluarga, circle pertemanan yang positif dan tidak toxic bahkan yang paling terpenting dan cukup meresahkan adalah dalam hal memilih pekerjaan.

Selain memilih pasangan hidup, hal lain yang menjadi keputusan terbesar dalam hidup dan harus dipastikan tidak boleh salah adalah memilih pekerjaan. Meskipun tidak sedikit juga diantara kita yang kurang beruntung dalam pilihannya, tetapi itu sudah cukup untuk dijadikan modal dan pembelajaran kedepannya agar tidak terjatuh dalam kesalahan yang sama ketika harus kembali memilih.

Sebelum memilih pekerjaan, ada dua hal lagi yang harus diperhatikan. Pertama, apakah kita siap menjadi seseorang yang memiliki atasan atau yang kedua, apakah kita sudah siap menjadi atasan dengan segala tanggungjawabnya?

Ketika memilih untuk menjadi pegawai, tentu kita sudah setuju dengan segala arahan dari atasan. Siap bekerja dibawah tekanan, bertemu dengan orang-orang yang itu-itu saja setiap harinya dan kadang dengan rutinitas yang sama dan terus berulang. Membosankan memang, tapi ketika kita telah siap diri dan mental, tentu hal ini bukan suatu masalah. Disinilah kesempatan untuk lebih mengenal dan mengupgrade kemampuan diri, entah itu kemampuan menjalin komunikasi terhadap atasan dan rekan kerja, kemampuan mengelola deadline yang menghantui serta segala tekanan-tekanan yang berhasil dilewati. 

Hal-hal lain yang menjanjikan ketika memilih menjadi seorang pegawai adalah jaminan kesehatan dan hari tua serta jenjang karir yang menunjang. Lebih spesifik lagi bagi pegawai yang bekerja untuk negara, tentu saja punya nilai “lebih” dibeberapa golongan masyarakat bahkan bisa dijadikan salah satu alasan untuk menerima lamaran pemuda ketika meminang seorang gadis.



Ketika lebih minat menjadi seorang pengusaha, tentu juga sudah memikirkan baik buruknya pilihan yang diambil. Bukan tanpa alasan, ketika kita mendapati saat ini banyak tempat umum seperti tempat jogging, perpustakaan, taman kota, cafe hits terlihat cukup ramai dikunjungi orang bahkan pada hari kerja. Hal ini membuat kita berasumsi bahwa fenomena tersebut terjadi karena pekerjaan yang dipilih tidak lagi bergantung pada jam kerja yang padat dan telah diatur sedemikian rupa. Keadaan seperti ini biasanya dimiliki oleh seorang pengusaha, bisa bekerja dimana saja dan jam kerja yang lebih fleksibel.

Meskipun terdengar lebih fleksibel dalam bekerja, menjadi seorang pengusaha itu tidaklah mudah. Bagaimana harus merasakan lika liku merintis usaha dari bawah, mencari karyawan atau pegawai yang sesuai dengan posisi yang diinginkan, mengatur keuangan sedetail mungkin agar tidak mengalami kerugian yang berlebih dan segala macam problematikanya. Terlebih lagi di zaman yang katanya sangat sulit melamar pekerjaan diperusahaan-perusahaan, menjadi seorang pengusaha membuat kita bisa menawarkan solusi untuk menekan angka pengangguran di Indonesia yang cukup memprihatinkan. 

Menjadi pengusaha, bisa membentuk kita menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana. Ditambah lagi sanjungan yang datang dari keluarga serta kerabat yang mengetahui kita mampu mendirikan dan mengelola usaha sendiri dengan baik. Selain itu, masih banyak skill-skill individu dan kelompok yang kadang tidak kita temukan di bangku sekolah formal yang bisa langsung dipraktekan dalam berusaha. Semua bebas atas kehendak, tidak ada yang bisa mengatur dan semaunya bertindak.

Terlepas dari itu semua, adalah bagaimana kita mencintai dan bersyukur terhadap pilihan yang diambil. Menjadi seorang pegawaikah atau seorang pengusaha kita harus berdamai dengan segala risikonya dan menjadikan segala pencapaian sebagai momentum untuk lebih berkarya.

 Pekerjaan apapun yang dijalani saat ini, pegawai atau pengusahakah, keduanya atau bahkan tidak keduanya sama sekali, pastikan bahwa itu sesuai dengan kehendak dan isi hati. Hindari memilih pekerjaan yang tidak disenangi hanya karena mengikuti omongan-omongan orang lain yang menghantui. Mantapkan pilihan dan merdekalah dalam bekerja, agar semuanya terasa mudah dijalani dan bisa terus produktif baik sebagai pegawai, pengusaha atau pekerjaan halal apapun itu yang ada di muka bumi.

Jika masih saja terjebak dalam dua pilihan ini, mengapa tidak mencoba keduanya saja?

Jumat, 15 Juli 2022

Lantunan Subuh

Di sebuah desa yang belum lama ini kutinggali, aku menemukan diriku dengan banyak perubahannya. Aku mendapati diriku menjadi lebih baik dari hari kehari. Aku bingung mengapa demikian? Setelah kurang lebih setahun menetap disini, aku menemukan jawabannya, yaitu sholat subuh berjamaah di Mesjid.

Sejak dulu, aku memang sangat menyukai sholat subuh berjamaah di Mesjid. Tetapi, kadangkala terkendala dengan izin orangtua yang seringkali beranggapan bahwa diluar masih sepi untuk seorang anak gadis yang hendak ke Mesjid di subuh hari, meskipun jarak antar rumahku ke Mesjid terdekat hanya beberapa meter.

Menurutku, tidak ada suara setenang dan seindah langkah kaki pejuang subuh menuju Mesjid. Subuh, dengan ketenangan dan udaranya yang bersih dari nafas orang munafik “katanya”, mampu membuatku bersemangat untuk menerobos dinginnya udara dan gelapnya semesta.

Para pejuang subuh rela bangkit dari nyamannya lelap. Mengambil air wudhu yang tidak jarang membuat tubuh menjadi kaku. Memakai pakaian terbaik dengan uang yang diselipkan disakunya untuk ditabung di celengan akhirat. Berharap semoga langkahnya ke Mesjid menjadi penghapus dosa.

Kemudian Allah izinkan, untuk benar-benar menghadirkan diri dan jiwa kita di rumah-Nya. Setelah berhasil melepas 3 tali ikatan syaiton yang begitu dahsyatnya. Hening subuh, semoga jadi saksi bahwa kita termasuk orang yang beruntung bisa menikmatinya. Betapa betul ini salah satu sholat yang sangat sulit untuk dikerjakan tepat waktu. 

Subuh ini agak berbeda nampaknya dari subuh yang lain. Entah mengapa, tidak bisa lagi kubendung air mataku sendiri. Meski terus kucoba, berkali-kali.

Dia tumpah bertepatan ketika ayat pertama surah As-Sajdah dibacakan oleh Imam sholat yang merdu suaranya tidak perlu lagi diragukan. Fokusku hilang, air mata tak tertahan, gemetar luar biasa. 

Tidak bisa lagi kusembunyikan. Betul-betul diluar kendali. Kupikir mungkin aku saja yang cengeng, tapi lagi-lagi. Selalu saja melemah dengan lantunan ayat Al-Qur’an yang dibacakan dengan merdu. Mungkin ini jawaban atas segala doaku kepada-Nya, “luluhkan hatiku dengan ayat-ayat indah-Mu, Ya Allah”

Barakallahu fiyk, Ustadz.

Note: hampir semua tulisanku tercipta begitu saja setelah ada moment yang kulalui. Bahkan pada tulisan ini, sebelum benar-benar lupa dan tidak terabadikan. Segera kuambil media untuk membuatnya menjadi sebuah catatan kecil untuk mengingat kejadian yang tidak biasa ini. Bahkan saat menulis ini, air mata masih saja tidak terbendung. Ah kubiarkan saja, berharap setelah ini lebih lega.

Ptlsng, 15 Juli 2022

Sepulang dari sholat subuh.

Selasa, 11 Agustus 2020

Tragedi 11 Agustus 2019

Bismillah..

Minggu, 11 Agustus 2019. Tepat dimana seharusnya kita bersuka cita merayakan Hari Raya Idul Adha, rupanya Allah memilih keluarga kami untuk menerima ujiannya. Kejadian luar biasa, begitu cepat dan sangat menyakitkan. Kami mengalami kecelakaan di sekitar Kota Bantaeng pada pukul 16.00 WITA.


Postingan dari akun instagram @makassar_iinfo

Tradisi Kami saat hari Raya tiba adalah mudik ke Bulukumba. Idul Adha kami tahun inipun sama. Selepas menyembeli hewan qurban, kami memutuskan untuk pulang ke makassar, karena kebetulan orangtua kami besok sudah masuk kantor kembali setelah dapat libur hari raya. Kami mengendarai dua mobil, karena beberapa keluarga juga ikut membersamai menuju Makassar. 

Perjalanan dari Bulukumba ke Makassar memang mengarah ke barat. Sehingga pada saat perjalanan sore hari, sangat menyilaukan dan waktu itu matahari sangat terik. Pengendara mobil harus lebih fokus dijalan. Karena mungkin kelelahan, kami para penumpang pun tertidur. Didalam mobil, kami berjumlah 6 orang. Kebetulan yang bawa mobil adik bungsuku.

Singkat cerita, kemudian terjadilah kecelakaan.....

"Kenapako nak?" Teriakan dari Ayah masih sempat kudengar saat kecelakaan itu didepan mata.

Goncang satu mobil dengan suara letusan yang cukup besar. Saya yang kebetulan memangku adik sepupu Saya, kemudian memeluknya erat sembari menjaga kepalanya agak tak terkena benturan. 



Mobil yang sudah terparkir di kantorpolisi

Setelah mobil stabil, kamipun turun untuk menyelamatkan diri. Beberapa detik kemudian, lokasi kecelakaan kami ramai dikemuruni warga setempat.

Rupanya, kecelakaannya cukup parah. Bagian depan mobil sangat hancur. Kami menabrak pertamini yang alhamdulillah tidak meledak, Allah masih mengizinkan kami untuk hidup

Sayapun menangis, adik sepupuku juga ikut menangis. Kami berdua disuruh untuk menepi dan meminum air untuk menenangkan diri. 

Saya mencari Ayah dan adik bungsuku, yang kuyakini pasti terluka sebab mereka duduk paling depan dan kecelakaan ini menimpa bagian depan sangat keras. 

Setelah berhasil kudapati Ayahku, betul saja. Wajahnya lebam, banyak luka ringan dan sedikit darah yang menghiasi wajahnya. Beliau panik, belum pernah saya melihat orang yang kukenal tegar ini menampakkan wajah kepanikan begitu hebat. Beliau, dengan wajah yang berdarah-darah, mencoba mencari anak-anaknya yang kebetulan sudah tersebar, ditenangkan oleh warga. Mondar-mandir kesana kemari, memastikan kami semua aman dan sudah tertangani. Saat beliau menghampiriku, beliau sempat duduk sejenak dan juga menenangkan diri. Terlihat jelas luka diwajahnya, dan kuminta agar diobati terlebih dahulu tapi beliau tidak mau. Kuperhatikan lebih jelas lagi, matanya sangat berbinar. Seperti orang yang menahan tangisnya. Yah, bisa kurasakan perasaanya jika Saya menjadi dia. 

Sementara itu..

Ternyata, dibawah mobil kami ada satu orang pria yang tak sadarkan diri. Kamipun semakin panik, takut terjadi apa-apa dengan pria ini. Perut dan kepalanya penuh darah. Alhamdulillah kami melihat masih ada nafas disana, Allah masih berikan kesempatan beliau hidup setelah ambulance datang menyelamatkan menuju kerumah sakit.


Setelah polisi datang, kami semua naik kemobil polisi dan dibawah ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya naik mobil polisi diliputi rasa risau, panik. Mungkin kalian bisa mencoba membayangkan jika ada diposisi kami. Ayahku mencoba menenangkan kami.

Tiba dikantor polisi, kudapati Mama dan kakaku yang sudah lebih dulu berada dikantor polisi (Mama dan kakaku berada dimobil kedua). Saya sangat takut melihat Mamaku karena beliau mempunyai riwayat penyakit jantung, mungkin beliau sangat guncang mendengar kabar ini. Tapi, luar biasa. Kudapati beliau sangat tenang, Saya tak tau bagaimana perasaannya bergejolak didalam, tapi dia betul-betul bersikap tenang dan berusaha merangkul kita satu persatu. Memastikan semua stabil dan merasa nyaman. Itulah hebatnya seorang Mama.

Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Mamaku langsung panik saat mendapati adik bungsuku (yang kebetulan jadi sopir dimobil yang kecelakaan tadi) belum ditemukan. Adikku hilang, entah kemana. Polisi  dan kami semua mencarinya. Tak bisa dihubungi, karena hpnya tertinggal dimobil, kamipun kembali panik. Takut jika adikku diambil orang karena ketahuan sudah menabrak orang. Kami kembali panik.

Setelah menunggu kurang lebih 40 menit. Tiba-tiba ponsel Mamaku berdering, tertera nomor baru yang menghubungi. Alhamdulillah, itu adik bungsuku yang sempat menghilang tadi, segeralah dijemput dan di bawa ke kantor polisi.

--

Adikku bukan sengaja menghilang dan tidak mau bertanggungjawab. Ini pesan Ayahku, pas saat turun dari mobil, Ayahku langsung menarik adikku untuk menjauh dari keramaian. Ayahku sudah tau, bagaimana resikonya jika menabrak orang, mungkin supirnya akan dimassa oleh warga, jadi Ayahku mengamankannya. Setelah jauh dari keramaian, Ayahku berpesan:

"janganko kemana-mana dulu nah nak, sebentar pi baru kujemputko lagi, kuselamatkan dulu yang lain dengan korbannya", pesan Ayah kepada adik bungsuku.

Rupanya, adikku mungkin butuh air minum untuk menenangkan hati dan pikirannya. Kemudian dia berjalan menjauhi keramaian sejauh kurang lebih 1 km. Lalu mendapati toko swalayan dan memutuskan untuk membeli air minum. Kebetulan disaku celananya ada beberapa uang yang masih cukup untuk membeli air minum. Allah memang betul-betul menolong kami. Didalam swalayan itu, adik bungsuku bertemu dengan seniornya di kampus. Lalu adikku menceritakan semua kejadian, dan seniornya meminjamkan handphone untuk menghubungi keluarga yang sudah ada di kantor polisi.

---

Lewat tulisan ini, Saya mencoba membuat teman-teman bisa merasakan kejadian ini. Pernah tidak, terbayang di hidupmu, salah satu anggota keluargamu yang kau kenal tegap, tegar, tiba-tiba tertunduk lesu tak berdaya? didepan matamu kau lihat dia berjalan menuju masuk kantor polisi untuk dimintai pertanggungjawaban? terlebih lagi jika dia masih sangat muda dan sepertinya belum bisa menghadapi ini semua? Pemandangan itu kulihat tepat didepan mataku, adikbungsuku tertunduk lesu menuju ke kantor polisi. Saya tau dia tidak sengaja, tapi tetap dia harus bertanggungjawab, air matakupun tumpah.

Sembari menunggu hasil keterangan, pihak keluargapun mulai berdatangan. Keluarga dari Ara (Bulukumba), Jeneponto dan beberapa mahasiswa dari Mamaku yang kebetulan pernah diajar di Bantaeng. Mereka semua datang memberi dukungan dan doa. Betul-betul terlihat orang-orang baik yang berhasil menambah kekuatan kami untuk lebih tegar menghadapinya. Singkat cerita, adikku harus bermalam di kantor polisi (tapi tidak didalam sel) karena untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kamipun disuruh untuk pulang dan beristirahat.

Semenjak kejadian itu, Jika melewati lokasi kecelakaan di Bantaeng, Ayah selalu menyempatkan singgah dan seperti memutar kembali ingatan saat kami dulu kecelakaan. Bagaimana suasana ketegangan pada saat itu dan alur ceritanya, kembali kami kenang. 

Terima kasih kepada seluruh keluarga, sahabat, kerabat, tetangga dan teman2 yang telah membantu baik bantuan materi, dukungan serta doa yang tdk hentinya. Kami sekeluarga mohon maaf jika ada salah selama ini. Semoga semua kembali membaik dan segala trauma bisa cepat pulih. Semoga smua urusan diberikan kemudahan. Aamiin ya Allah.

Senin, 10 Agustus 2020

Jariah Publishing, terbitkan bukumu tanpa pusing.

 Di tahun 2018 yang lalu, Saya sangat tertarik untuk mengabadikan tulisan-tulisan perjalananku selama mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Namun, seperti dokumentasi perjalanan sebelumnya, Saya hanya mengabadikan diblog pribadiku dan tidak terpikir untuk dibukukan. Singkat cerita, lepaslah Saya dalam pengabdian masa KKN di Desa Mamampang, Tombolo Pao, Gowa.

Sebelum meninggalkan posko, Saya pernah mendengar harapan salah satu tokoh masyarakat disana. Kami berkunjung ke rumahnya, di selimuti dingin dan angin malamnya Tombolopao. Katanya beliau ingin sekali agar desanya ini bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas. Jelas saja, Sayapun baru tau bahwa ada sebuah desa diujung perbatasan Gowa-Sinjai yang tidak kalah indahnya. Padahal tempat tinggal kami berada di Kabupaten yang sama.

Salah satu cara yang beliau tawarkan kepada kami agar kampungnya ini bisa dikenal luas oleh masyarakat adalah melalui mahasiswa-mahasiswa KKN yang telah mengabdi di desanya. Beliau ingin agar kami semua para alumni mahasiswa KKN disana mengabadikan perjalanan menjadi sebuah buku. Buku yang dituliskan oleh kami semua, semacam kesan-pesan yang kami dapatkan selama menempuh masa pengabdian. Dan, harapan beliau kemudian mulai mengacaukan pikiranku, yang sedari tadi mencoba untuk fokus mendengarkan semua kesan-pesan beliau terhadap Kami yang sebentar lagi melepas diri. 

Setelah beberapa hari, kembali teringat pesan beliau. Maka Saya mulai mencoba memulai tulisanku tapi sejatinya belum berniat membukukan. Tak sangka, tulisan itu semakin banyak, dan kurasa sudah tidak layak untuk dimasukkan ke dalam blog pribadi. Ingin mempersingkat, tapi Saya tak mampu memilah cerita yang harus kuhapus, karena menurutku semuanya berkesan. 

Kemudian..

Saya tidak sengaja menemukan sebuah informasi di FB bahwa ada sebuah penerbit baru yang menyediakan jasa penerbitan buku. Jariah Publishing namanya. Beralamat di Jl. Dahlia No.17 Batangkaluku, Sombaopu, Gowa. 



Awalnya Saya berpikir, mungkin harus diseleksi dulu karyanya agar bisa diterbitkan. Tapi, setelah mencari tau apa-apa syaratnya ternyata cukup mudah. Hanya menyiapkan desain sampul dan naskah tentunya. Namun, jika tidak mampu membuat atau mendesain sampul sendiripun tak masalah. Owner telah menyediakan jasa desain sampul dengan beberapa paket yang ditawarkan sesuai keinginan kamu loh. 

dan Sayapun tertarik untuk membukukan tulisan Saya, namun.. hanya untuk konsumsi pribadi dan beberapa orang yang memang berniat untuk membeli buku pertamaku ini.

Alhamdulillah, beberapa orang juga mendukung dan membeli buku Saya, yang menurutku masih banyak yang perlu dikoreksi kedepannya. Dengan bantuan dari Penerbit Jariah Publishing, menerbitkan buku jauh lebih mudah. Ownerpun sangat ramah. Dengan senang hati akan membantu mewujudkan mimpimu untuk menerbitkan buku. Pokoknya recommended lah hehe

Jika kamu masih ragu, mungkin beberapa alasan ini harus Kamu pertimbangkan kenapa Jariah Publishing merupakan solusi yang tepat, diantaranya adalah:

1. Prosesnya cepat

Untuk menerbitkan buku dengan Self Publishing mulai sejak naskah diterima hingga buku tiba ditangan Anda, waktunya maksimal 30 hari kerja.

2. Kualitas Terjamin

Spesifikasi cetakannya: Kertas Isi Bookpaper Imperial 72g, Cover Ivory 260g, Perfect Thermal Binding, Wrapping Shrink & Free Bookmark

3. Harga Terjangkau

Cetak buku murah? Jariah Publishing solusinya. Di Jariah Publishing, Anda dapat menyesuaikan budget dengan jumlah cetakan buku Anda. Layaklah dicap sebagai Penerbit buku murah.

4. Memiliki ISBN

Penerbit Jariah Publishing telah terdaftar di situs isbn.perpusnas.go.id dengan nama Jariah Publishing Intermedia. Anda bisa mengecek buku-buku yang telah mereka terbitkan.


Bagaimana? Menarik bukan? Ayoo, jangan simpan karyamu sendiri. Beri kesempatan untuk orang lain juga menikmatinya. Segera bukukan karyamu di Penerbit Jariah Publishing!

Rabu, 25 Maret 2020

10 kegiatan yang bisa dilakukan saat #dirumahaja

Bismillah..

Beberapa bulan terakhir ini, Kita digegerkan dengan berita tentang virus baru yang merajalela yang kita kenal sebagai virus corona (Covid-19). Virus yang diketahui cukup cepat penyebarannya dan mematikan ini, mampu membuat hampir 2/3 dunia berupaya keras untuk meminimalkan jumlah korban yang terjangkit. Di Indonesia, bahkan telah tercatat ratusan warganya telah terjangkit virus ini. Sehingga pemerintah pun mengambil tindakan untuk mengantisipasi penyebaran virus agar tidak meluas. Beberapa usaha telah dilakukan, salah satunya adalah dengan penyemprotan cairan desinfektan di titik keramaian dan tempat-tempat yang memiliki potensi penularan virus yang tinggi. 

Selain itu, untuk pencegahan secara mandiri, pemerintah dan beberapa kalangan telah mengedarkan anjuran untuk tidak berkegiatan diluar rumah selama pandemi corona atau yang lebih viral dengan hashtag #dirumahaja. Sebagai makhluk sosial, terutama di Indonesia, kita tentunya belum terbiasa dengan menghabiskan waktu dirumah ajah. Nah, untuk memudahkan teman-teman yang belum terbiasa dirumah, ini ada beberapa kegiatan yang bisa dikerjakan selama menjalankan program #dirumahaja 



1. Memaksimalkan Ibadah
Sebagai makhluk yang beragama, sudah pasti kita diwajibkan untuk beribadah kepada Sang Pencipta. Namun, untuk kalian yang rajin datang ke tempat ibadah (Mesjid, Gereja dsb) pastilah kalian sangat sedih karena untuk saat ini kalian belum bisa beribadah disana. Tapi jangan sedih, karena beribadah juga bisa kalian maksimalkan #dirumahaja Insyaa Allah, Sang Pencipta akan memakluminya, tapi ingat juga untuk memperbaiki niat kembali. Bagi umat Islam, kalian masih tetap bisa beribadah dirumah seperti, sholat, membaca Al-Qur'an, puasa dan sebagainya.

2. Bekerja dan belajar secara online
Belakangan ini, kantor, sekolah dan tempat-tempat umum yang bukan bagian dari pelayanan umum langsung dianjurkan untuk libur. Eits, tapi bukan sekedar libur, lebih tepatnya dialihkan #dirumahaja. Jadi kegiatan belajar mengajar melalui media online. Begitu pula dengan absensi pekerja kantoran. Jadi, selama #dirumahaja kalian bisa mengerjakan tugas dari guru atau bos kalian.

3. Fokus mengerjakan skripsi 
Untuk kalian yang masih berjuang menuntaskan skripsi, mungkin ini waktu yang tepat untuk bermesraan kembali dengan skripsi kalian. Seperti yang kita ketahui, skripsi terkadang kita abaikan karena banyaknya aktivitas diluar rumah yang sering kali memaksa kita untuk lebih tertarik dan menghabiskan waktu disana. Namun, dengan adanya anjuran #dirumahaja kurasa inilah saatnya berjumpa kembali dengan skripsi, fokus dan menuntaskannya. Selamat berjuang para pejuang sarjana, saya tau bagaimana suka dukanya sebab saya pernah ada diposisi kalian hehe

4. Istirahat cukup
Karena banyaknya aktivitas tambahan seperti kerja tugas dari sekolah ataupun kantor, memaksa kita untuk tetap terjaga diwaktu-waktu tertentu. Ini juga harus menjadi perhatian penting, karena kurang istirahat dapat menyebabkan imun tidak stabil, sehingga mudah terserang penyakit. Maka jika lelah, istirahatlah. Karena meski #dirumahaja kita juga bisa lelah loh.

5. Quality time dengan keluarga
Untuk kalian yang terbiasa dengan kegiatan diluar rumah, dan sangat jarang berkumpul lagi bersama keluarga, mungkin ini juga salah satu kesempatan untuk memaksimalkan kegiatan bersama keluarga. Ada banyak kegiatan yang bisa kalian lakukan bareng keluarga seperti makan bersama, nonton bersama, cerita-cerita, kerja tugas bareng membersihkan rumah bahkan juga berdiskusi tentang masa depan. Hal ini juga akan meningkatkan hubungan emosional antar keluarga.

6. Menulis
Buat kalian yang gemar menulis, manfaatkanlah waktu ini. Meskipun mungkin akan sedikit terbatasi oleh ruang dan pengalaman baru, tapi kita bisa mengantinya dengan berkhayal yang lebih lepas. Tulislah apapun itu, mungkin topik tentang virus corona ini juga bisa kalian angkat, tapi ingat. Jangan sekali-kali kalian menulis berita hoax yah.

7. Membaca lebih banyak buku
Sangat banyak orang yang rajin membeli buku, tapi belum punya waktu untuk membacanya karena sibuk berkegiatan. Dengan adanya anjuran #dirumahaja, bisa dong buku-buku yang sudah lama tersimpan rapi dirak, kalian coba buka lalu menuntaskannya, mumpung kalian #dirumahaja kan hehe

8. Membuat karya
Punya banyak waktu luang dan kegiatan yang lain telah dilaksanakan, kalian bisa beralih untuk memaksimalkan potensi diri. Contohnya dengan membuat karya, apapun itu. Misalnya, kalian pintar melukis, membuat lagu, membuat video-video atau konten lainnya. Disaat inilah meski #dirumahaja kita harus tetap produktif. Terutama, kita masih bisa menyalurkan hobi kita melalui media sosial, minimal teman-teman kita tau bahwa selama #dirumahaja kita punya kegiatan yang positif.

9. Olahraga/berjemur
Meski #dirumahaja, kita juga tetap harus waspada terhadap virus corona ini. Yah selain mengkonsumsi makanan sehat kita juga harus mengatur pola hidup sehat, contohnya dengan olahraga. Salah satu hal yang bisa kalian lakukan #dirumahaja adalah dengan menjemur diri dibawah sinar matahari pagi. Olahraga itu penting, jangan hanya rebahan yah.

10. Bermain game
Yah, tidak dapat dipungkiri, sebagian besar orang Indonesia sangat gemar bermain game. Entah melalui gadget masing-masing atau juga melalui permainan tradisional. Tapi bermain game juga harus dibatasi. Jangan sampai waktunya habis karena bermain game saja. Opsi ini hanya dijadikan selingan kalau lagi bosan, tapi bukan prioritas yah.

Itulah 10 kegiatan yang bisa dilakukan #dirumahaja. Tetap jaga kesehatan dengan mengkonsumsi vitamin C dan E yang cukup, berjemur di matahari pagi, minum air hangat dan istirahat yang cukup. Tetap waspada tapi jangan panik. Pikirkan hal-hal positif tentang virus ini agar psikis kalian tetap baik. Insyaa Allah, virus bisa kita lawan dengan imun tubuh yang maksimal. Ingat yah untuk saat ini kalian #dirumahaja jika tidak ada kegiatan yang terlalu penting. Oke?

Jika kalian punya rekomendasi kegiatan yang belum tertulis diatas, silahkan tulis dikolom komentar untuk menambah referensi pembaca artikel ini, Terima kasih, semoga bermanfaat...

#Alifah Nurkhairina
Menulis #dirumahaja

Selasa, 25 Februari 2020

Berdamai dengan diri sendiri


Pernahkah kau merasa bahwa selama ini kau hanya berpura-pura menjadi orang lain untuk mewujudkan beberapa impian yang telah lama kau harapkan? atau pernahkah kau berada di lingkungan yang memaksamu untuk tampil tapi bukan dengan gayamu sendiri?

Kalau saya, yap. Pernah..

Saya mendapati diriku benar-benar bukan diriku. Saya berusaha mencari perhatian beberapa orang dengan tampilan yang sayapun tak menyangka darimana asalnya. Saya pernah berusaha menjadi orang lain, demi menggapai mimpi. Dihadapkan oleh beberapa jenis karakter dan berdrama dengannya. Seringkali, Saya berkata dalam hati, kenapa saya ini? Benar-benar melampaui dari wujud asli.

Saya sering mencoba terus untuk menjadi orang lain, karena belum percaya diri. Masih sangat sulit untuk menerima kenyataan, tentang kepribadianku ini. Takut, jika lingkungan sekitar tidak memberikan kesempatan untuk diriku berekspresi, dengan versiku sendiri. Saya tidak tau apakah hal ini juga sering mengganggu tidur malammu. Takut mengecewakan hati orang lain, tapi sejujujurnya sedang menimbun luka dibatin. Yap, Saya sering menjelma menjadi pribadi yang tak kusenangi, demi untuk mengharap respect dari orang lain, tapi..

Sampai suatu ketika, kecewa itu tiba. Saat saya dipermalukan oleh ekspektasi yang berlebihan, dan dihancurkan oleh realita yang jauh dari harapan.

Sehingga, Pada akhirnya Saya telah memilih, untuk kembali mempercayai diriku sendiri.
Saya belajar menerima diri sendiri, untuk lebih yakin tentang potensi diri. Saya memeluknya kembali.

Saya belajar memahami, bahwa tidak semua yang kusenangi harus kumiliki
Yakinlah bahwa semua yang pergi, pasti akan terganti.
Entah akan hadir yang lebih baik lagi.
Atau yang dulu pergi akan digenggam kembali.

Saya harus menerima dia, yaitu diriku sendiri
Tentang kelebihan dan kekurangannya, Saya harus refleksi diri.
Kini, Saya harus menerima kenyataan kembali.
Bahwa tidak ada yang lebih baik, selain kembali percaya pada diri sendiri.

Entah orang yang kau sayangi akan menepi, atau bahkan semakin mencintai.
Semua itu adalah hadiah dari konsekuensi
Bahwa Saya harus menanggungnya seorang diri.
Suka, duka, bahagia, sedih, itu semua tak bisa terwakili.

Ikuti, atau tidak sama sekali. Kau hebat dengan jalurmu sendiri, bukan dengan wujud yang belum kau yakini. Perihal respon orang tentang diriku saat ini, saya sudah tidak peduli. Saya bangga dengan langkahku sekarang ini.. Inilah, saya yang terkini, dengan banyak mimpi yang masih berusaha kugapai disetiap hari. Terima kasih, untuk diri.

Tulisan ini bukan hanya sekedar curahan hati, tapi lebih kearah refleksi diri. Baik untuk Saya pribadi, atau untuk orang-orang baik yang sedang membaca ini. Kuharap segala yang terbaik akan selalu menghampiri. Aamiin..

#Alifah Nurkhairina
Bulukumba, 25 Februari 2020
ditulis Pukul 02.25 WITA

Kamis, 02 Januari 2020

Desa Ara, dan segala kejutannya.

Bismillah..

Seperti dua tahun lalu, Bulukumba kupilih kembali untuk menutup akhir tahunku dan memulai tahun yang baru. Namun, ada beberapa pengalaman baru yang tentunya lebih berkesan pada kali ini.

Lokasi perjalanan. 
Desa Ara, Bulukumba. 


Perjalanan dimulai saat waktu itu, saya sedang memainkan gadgetku. Seperti remaja pada umumnya, saya melihat-lihat story dari teman-teman di akun media sosialnya. Mereka membagikan beberapa cuplikan liburan melalui unggahan video ataupun melalui beberapa foto. Seketika itu muncul ide untuk pergi juga melepaskan lelah. Lalu kuhubungi sepupuku untuk bersedia menjadi pemandu wisataku. (Kak Hesty, Okky dan Nurul serta satu orang temanku)

Dari kiri ke kanan
(kak Hesty, Nurul, Okky, Asrul, Ina) 


Seperti yang kita tahu, Bulukumba adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang memiliki daya tarik tersendiri melalui panorama alamnya yang indah. Dikenal dengan suguhan pantai-pantai pasir putih yang khas, yang mulai bermunculan menjadi objek wisata dan mulai dikunjungi oleh masyarakat bahkan sampai turis mancanegara. Membuat Bulukumba semakin ramai oleh wisatawan dan bisa dijadikan sebagai sumber matapencaharian oleh warga sekitar.

dan kebetulan, saya memiliki keluarga yang bermukim di Desa Ara, Kecamatan Bontobahari (lokasi bisa dicek di googlemaps). Saya lalu berfikir untuk bersilaturahmi sekalian liburan.

Singkat cerita, sampailah saya ditanah kelahiran Ayahku (Desa Ara). Selesai sholat ashar, saya lalu memulai perjalanan dengan mengunjungi rumah sanak saudara. Beberapa dari mereka masih ada yang mengenal baik, beberapa pula masih mengingat meski harus dengan penjelasan (misalnya, saya ini anaknya daeng ... cucunya daeng.... dan sebagainya)

dan respon mereka yang paling Saya ingat adalah

"ih lomponamo ke' Ina heh, dulu kecil-kecil inji wattuna datang kesini" (artinya ih kamu sudah besar, Ina. dulu waktu datang kesini masih kecil-kecil). kurang lebih seperti itu.

Saya hanya membalasnya dengan senyuman dan sedikit tertawa. Dalam hati saya berkata wajar saja, sudah 6 tahun saya tidak berkunjung lagi kesini.

Satu hal yang saya senangi dari kunjungan adalah perlakuan tuan rumah yang begitu baik terhadap tamunya. Suguhan teh dan kue-kue khas sulawesi selatan, dilengkapi cerita-cerita masa lalu dari keluarga besar menambah hangat kunjungan, dan saya cukup antusias. Beberapa keluarga yang baru saya kenal, kemenakan, omtante, sepupu dan bahkan cucu hehe..

Hari kedua, saya memilih untuk berenang di Permandian Limbua di Desa Hila-hila, Kecamatan Bontotiro. Yang membedakan permandian Limbua ini dibanding objek wisata yang lain adalah lokasinya yang berada disekitar hutan dan berhadapan langsung dengan pantai Samboang. Saya bersama ketiga sepupuku, memilih datang lebih pagi untuk menghindari keramaian pengunjung. dan betul saja, dugaan kami benar.

Permandian Limbua, Desa Hila-hila, Kecamatan Bontotiro. 


Selepas itu, kami bersiap untuk menelusuri objek wisata selanjutnya. Namun, rupanya mendung tiba-tiba terganti oleh rintik hujan yang semakin lama semakin deras. Sehingga perjalanan selanjutnya harus ditunda. Memanfaatkan situasi dirumah, sayapun diperlihatkan foto-foto lawas melalui sebuah album foto. Banyak wajah-wajah yang agak sulit kukenali dan beberapa juga bisa kutebak. Foto kakeknenek, ayahmama, kakaadik, omtante, sepupu dan masih banyak lagi. Beberapa diantaranya kuabadikan kembali melalui kamera ponsel untuk kuperlihatkan ke mereka yang wajahnya ada dipotret foto lawas.

Hujan pun reda. Allah mengizinkan saya melanjutkan perjalanan di Butta Panrita Lopi (artinya tanah para ahli pembuat perahu phinisi). Destinasi selanjutnya ke pantai Mandala Ria. Keunikan dari pantai ini adalah di pesisir pantai terlihat barisan kapal phinisi yang sedang dalam tahap pengerjaan. Sehingga, selain berlibur dipantai kita juga bisa menambah wawasan tentang kapal phinisi atau semacamnya. Boleh dengan melihat-lihat langsung proses pengerjaannya ataupun melalui wawancara kepada para pembuat kapalnya. Saya juga sempat bercerita dengan pemuda lokal yang juga ternyata sebagai mahasiswa di Universitas di Makassar tapi masih menjunjung tinggi kearifan lokal. Hal ini kutandai dengan masih adanya keinginan untuk kembali kekampung halaman sendiri dan memikirkan hal-hal baik untuk masa depan desanya. Selain itu, mereka juga masih sangat fasih dengan bahasa Konjonya (Bahasa khas warga sekitar). Kami berdiskusi disalah satu kapal phinisi yang masih setengah jadi, dengan latar belakang pantai Mandala Ria.

Tempat diskusi, Salah satu kapal phinisi yang masih setengah jadi. 

Kondisi jalan terkini, menuju Pantai Mandala Ria. 


Hari ketiga. Sebenarnya saya harusnya sudah kembali ke Bulukumba kota. Tapi apalah daya, saya masih penasaran dan masih ingin berjelajah. Hari ketiga ini kumulai menuju Apparalang di Desa Ara, Kecamatan Bontobahari. Tempat wisata bahari ini memiliki hamparan tebing yang menjulang tinggi dan memiliki batu karang yang alami. Tetapi apparalang ini tidak memiliki pesisi (pasir  pantai).
Tak lupa pula, setelah menikmati keindahan alamnya, saya mengabadikan perjalanan dengan berfoto, yahh supaya bisa diupload ke media sosial dan juga disimpan sebagai bukti bahwa saya pernah menginjakan kaki disini.

Dan kalau beruntung, setelah di share ke akun medsos biasanya ada yang berkomentar "orang bulukumba? Satu kampungki pale itu ternyata" Hehe..




Lanjut, ke Goa Passea (Goa penderitaan) di Desa Lembanna, Kecamatan Bontobahari. Masih awam kedengarannya, tapi saya yakin beberapa tahun kedepan pasti akan ramai dengan pengunjung. Dibuktikan dengan jalan yang mulai teraspal karena memang sebelumnya infrastruktur jalan yang kurang mendukung untuk mengakses objek wisata di Bulukumba. Perjalanan menelusuri Goa Passea ini dipandu oleh Kak Adit (senior dikampus, sekaligus keluarga ternyata). Hanya beberapa menit disana. Sekedar mengambil gambar dan menelusuri didaerah yang masih terang oleh bantuan cahaya matahari. Didalam goa tersebut, kita menemukan berbagai macam keindahan jaman peninggalan prasejarah, seperti sisa kendi, guci peninggalan negara luar serta peti mati dan tulang belulang milik manusia purba yang masih asli dan terjaga kelestariannya. Karena keterbatasan waktu dan tenaga, dan kebetulan juga adzan dzuhur sudah berkumandang, akhirnya kamipun bergegas pulang. Untuk lebih jelasnya tentang Goa ini silahkan kunjungi website ini  (http://www.kampungide.com/2016/12/jalan-jalan-ke-gua-passea-gua-passea.html

Di pintu Goa Passea, diabadikan oleh Kak Adit

Perjalanan kemudian terhenti, saat orang dirumah tiba-tiba menghubungi. Lewat panggilan ponsel, terdengar suara tanteku. "kapan pulang? nacari teruski mama aji ini" (artinya kapan pulang? Mama aji mencari keberadaanmu). Mama aji itu adalah sapaan untuk nenek saya.

Saya jawab, iya ini sudah mau pulang, untuk menenangkan perasaan nenekku. Meski sebenarnya masih mau lebih lama disini.

Jarak antara Desa Ara dengan rumah tanteku di kota adalah sekitar 25 km. Saya meninggalkan Desa Ara sekitar pukul 16.15. Setibanya dikota, saya langsung menemui nenekku agar dia tau bahwa cucunya sudah pulang. Sayapun sebenarnya sangat rindu beliau.

Seperti biasa, saya sangat suka bercerita dan beliau pun juga siap mendengar ceritaku selama disana. Dengan bantuan hasil jepretan di ponselku, saya menceritakan kisah-kisah sebelum dan sesudah pengambilan gambar itu. Terkadang beliau merespon dengan senyuman, sedikit tertawa dan satu kali kuliat matanya berkaca-kaca. Iya, saat kuceritakan tentang orang-orang terdekat yang sudah berpulang ke Rahmatullah. Terutama suami dan anak bungsunya yaitu tanteku atau lebih akrab kusapa "Ummi" (http://alifahnurkhairinaa.blogspot.com/2015/01/dedikasi-buat-ummi.html)

Perjalanan ini cukup beda. Setelah ini, saya lebih tertantang untuk mengenal lebih jauh sanak keluarga (Keluarga dari Ayah) setelah beberapa tahun ini sudah jarang terkunjungi. Semoga saja bisa terwujud, dikemudian hari..

Terima kasih atas orang-orang baik yang sudah terlibat dan membantu mempermudah langkahku kali ini. Sampai jumpa lagi, dilain hari..

Jika terdapat kesalahan dalam informasi terutama informasi destinasi wisata, mohon dimaafkan dan dikoreksi. Segala kekurangan dan ketidaksempurnaan dalam penulisan bisa dibantu dengan meninggalkan komentar dan share dipostingan ini. Komentar apapun sangat membantu kecuali komentar yang berbau SARA.

Terima kasih telah bersedia membaca ini, orang-orang baik.


#Alifah Nurkhairina
#Bulukumba, 02-01-2020
Ditulis pukul 21.05-22.46 WITA

Senin, 11 November 2019

Serba-serbi Seminar Nasional Agrisociopreneur

Waktu itu, saya dapat pesan singkat dari teman lamaku. Katanya ada Seminar Nasional Agrisociopreneur di kampusnya. Diapun mengajakku agar ikut menjadi peserta dan langsung saja kuiyakan. Setelah berhasil terdaftar, Sayapun menanti hari itu tiba.

Kamis, 7 November 2019. Pukul 09.00 WITA saya sudah tiba di Aula Syeikh Yusuf Polbangtan Gowa meski dijadwal acaranya mulai pukul 08.00. Disambut langsung oleh panitia dan tentunya juga teman lamaku yang juga sedang menjabat sebagai Ketua BEM Polbangtan dengan senyum khasnya.

Sempat tidak percaya sebelumnya, karena kostum yang sangat berbeda dari peserta lainnya. Meskipun demikian Saya tetap masuk dan kamipun diarahkan duduk paling depan, bersama para delegasi-delegasi kampus yang sempat hadir juga.

Seperti biasa, acara dibuka dengan Aru' dan tarian. Menyambut kedatangan Direktur Polbangtan, Dr. Ir. Syaifuddin MP. Meskipun, Menteri Pertanian, Bapak Dr. Syahrul Yasin Limpo, S.H, M.H tidak sempat menghadiri acara karena ada agenda yang sama pentingnya, Maka kemudian Direktur Polbangtan menyampaikan sambutan dan membuka acara secara resmi.

Setelah itu, acara yang sebelumnya dipandu oleh MC Dirga Rinaldi kemudian diambil alih oleh Moderator yaitu Sabri Palutturi Tanatoa untuk memulai bincang-bincang bersama narasumber narasumber hebat dibidangnya masing-masing yang telah diagendakan mengisi acara yang sesuai dengan Tema Menumbuhkan Jiwa Agripreneur sebagai Penggerak Ekonomi Bangsa di Era 4.0



PEMATERI I (DANU SOFWAN)

Kak Danu Sofwan, akrab disapa dengan panggilan Kak Danu atau lebih terkenalnya lagi dengan sapaan Raja Cendol. Jelas saja, berkat hasil usahanya dalam merintis bisnis "Randol" (Raja Cendol) mampu mengubah hidupnya.

Dahulu, dia adalah seorang yang kaya raya. Ingin belanja ini itu tinggal minta. Tidak ada kata resah, apapun bisa dimilikinya.

Rupanya betul roda kehidupan itu berputar. Singkat cerita, orangtuanya bangkrut. Hidup yang mewah tiba-tiba hilang menjadi sengsara. Setelah bangkrut, dua tahun kemudian sang Ayah meninggal dunia. Disinilah kak Danu, berada dititik terlemahnya. Melihat hal ini, Kak Danu tersentuh. Harta yang semakin hari semakin habis, memaksanya untuk harus bangkit kembali.

Beliau mencari cara untuk mendapatkan rupiah. Mulai dari ngamen sampai jadi kuli bangunan. Merasa tidak ada perubahan, beliau mencari cara agar mendapatkan rupiah lebih cepat. Tibalah dia pada ide membuat Cendol dengan berbagai rasa. Kenapa cendol? Karena dia ingin menjual produk asli Indonesia, katanya. Cendol itupun dikreasikan dengan berbagai rasa dan dikemas cantik untuk menarik perhatian. Singkat cerita, banyak yang suka. Outlet pun mulai tersebar di seluruh Indonesia. Puluhan bahkan ratusan. Kini kejayaan itu mulai kembali terasa. Selain sukses menjadi "Raja Cendol", Kak Danu juga menjadi penulis buku dengan judul "Madesu" yang pada saat itu tidak sempat menjelaskan lebih detail terkait isi bukunya.

Membawakan materi dengan sangat santai, namun tetap berisi. Membuat para peserta merasa senang dengan kisah hidupnya. Tak jarang juga kak Danu mengeluarkan lelucon untuk mencairkan suasana. Setelah itu, kami diberi kesempatan untuk bertanya.

PEMATERI II (MELODY NURRAMDANY LAKSANI)

Kak Melody Laksani atau yang lebih kita kenal sebagai Melody JKT48 ini ternyata adalah seorang Duta Kerjasama Bidang Pertanian dan Pangan ASEAN-Jepang. Berangkat dari latarbelakang Mahasiswi Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran, membuatnya semakin mantap untuk mengabdikan diri dibidang Pertanian.

Setelah terpilih menjadi Duta Kerjasama bidang Pertanian dan Pangan ASEAN-Jepang, beliau berkesempatan untuk mengunjungi beberapa Negara ASEAN untuk menjalankan misinya dengan membawa pulang berbagai macam pengalaman dan ilmu tentunya. Hal inilah yang kemudian disampaikan pada Seminar Nasional Agrisociopreneur.

Sebelumnya, Kak Melody ini juga memutuskan untuk berhenti menjadi anggota dari JKT48. Lalu memilih untuk menjadi GM dari JKT48 sebagai bukti cintanya terhadap JKT48 yang telah membesarkan namanya.

Terlepas dari semua itu, Saya pribadi menangkap ada satu point penting yang paling berkesan dari kak Melody saat menjadi narasumber di Seminar Nasional tersebut. Yaitu, saat hendak closing statement, para peserta seminar kemudian meriuhkan permintaan agar Kak Melody memberikan sedikit penampilannya menyanyikan lagu JKT48. Maksudnya mungkin untuk sekedar melepas rindu dari fans terhadap JKT48 yang akhir-akhir ini sudah jarang muncul didunia hiburan tanah air.

Namun, berbeda dengan mantan penyanyi lainnya, Kak Melody menolak. Sempat kecewa karena hal tersebut, tapi terobati saat beliau menjelaskan alasannya. Kira-kira seperti ini pernyataannya

"Saya sudah menikah, untuk menampilkan diri dengan bernyanyi disini, rasa-rasanya Saya tidak berani, karena Saya menjaga nama baik suami"

Kurang lebih seperti itu intinya (dengan kata-kata yang telah kuubah kedalam versiku)

Tiba-tiba Saya kaget dengan alasan yang begitu luar biasa. Memiliki peluang untuk kembali berjelajah kemasa lalu dengan mencoba menyanyikan lagu kenangan, tidak menggoyahkan citranya sebagai (mantan) penyanyi dan sebagai istri yang tetap mengabdi pada suami. Dan Saya takjub.

Semoga kak Melody diberkahi segala kebaikan terhadap diri dan keluarga kecil. Semoga rezki yang datang dengan berkah dan dari arah yang tak terduga. Semangat kak untuk tugas mulia yang saat ini diemban. Dengan niat tulusmu, kuyakin Indonesia mampu unggul dalam Pertanian, Semangat mengabdi kepada Suami dan kepada Negeri.

Terima kasih kak sudah diberi kesempatan untuk berdialog langsung dengan Kak Melody melalui sebuah pertanyaan. Semoga segala inspirasi tertular juga kepada kami pada umumnya dan Saya pada khususnya.

Teruntuk, BEM Polbangtan. Terima kasih atas pengadaan Seminar Nasionalnya. Tak hanya sertifikat, seminar kit, lunch dan snack yang dibawa pulang, Ilmu dan pengalaman juga ikut serta. Semoga akan ada lagi seminar-seminar yang lebih keren tentunya.

Perjalanan hari itu ditutup dengan jalan jalan sore menyusuri Kampus Polbangtan Gowa. Perjalanan yang diluar agenda, tapi sudah lama di niatkan. Akhirnya bisa terwujud juga. Berkesempatan berjelajah melihat apa-apa saja fasilitas yang ada. Tibalah senja, mengharuskan kita menyudahi semuanya. Padahal belum lelah, tapi apalah daya. Meski belum puas, tapi kita harus kembali ke masing-masing aktivitas.

Terima kasih atas semuanya.....

(Dokumentasi pribadi belum terupload, karena dokumentasi hanya bersumber dari panitia pelaksana)


"Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca"
#Alifah Nurkhairina
ditulis Senin, 11/11/2019 pukul 21.19 WITA