Rabu, 21 September 2016

Hujan

Bersama derasnya hujan
Menari-nari dibawah sinaran lampu jalan
Mulai jatuh bulir-bulir kenangan
Yang hinggap lalu meninggalkan keresahan

Berjalanlah insan itu diantaranya
Seorang diri bagai kehilangan asa
Ada luka di alun-alun kota
Ada air murni dari pelupuk matanya

Terhentinya dia setelah lelah melangkah
Berusaha menahan pilu yang mendesah
Adakah mereka yang tersentuh
Memberikan pelukan yang sempurna dan utuh



#Alifah Nurkhairina.

Senin, 19 September 2016

Rumahku, Bumi Pertiwiku

Makassar, 11 Agustus 2015


Pancaran sinar fajar dibalik sela-sela kayu itu mulai nampak
Seakan membangunkan ku dari indahnya kehidupan mimpi
Seakan memaksaku untuk bersyukur kembali atas bumi yang ku pijak
Di rumah sederhana, bersama mereka yang aku cintai

Rumahku, rumah kami, rumah kita
Yang begitu menakjubkan dan kan selalu ku banggakan
Rumah yang terbagi atas berbagai pulau yang luar biasa
Yang terbentuk atas pondasi perbedaan

Atas dasar keyakinan dia lahir
Atas berbagai upaya dia tercipta
Atas kekuatan doa dia bersinar
Dan atas restu Sang Kuasa dia tetap ada

Rumahku, Bumi Pertiwiku
Tempatku menghabiskan hari-hariku
Berteduh dari kerasnya kehidupan dunia
Berharap akan terus disana, sampai menghadap Sang Pencipta

Masih adakah asa agar rumah ini tetap berjaya?
Adakah secercah harapan untuk rumah ini agar tetap kokoh dan gagah?
Akankah rumah ini berdiri megah diantara istana-istana disana?
Bumi Pertiwiku, bangunlah, kau masih yang terindah.


# Alifah Nurkhairina.

Minggu, 18 September 2016

Hai anak Rantau

Inilah kami berada dilangkah awal kesuksesan
Berusaha menahan tangis yang berlapis senyuman
Adakah kami akan dirindukan
Agar kelak kembali kami yang didambakan

Seperti menjadi terlahir kembali
Berbekal doa dan keyakinan hati
Berjalan menapaki kehidupan yang begitu kejam ini
Yang memisahkan raga dengan orang terkasih

Kabar kami bak senja di waktu mendung
Dinanti tapi terkadang mesti meraung
Kiriman doa yang tak bisa lagi terbendung
Dari kalian yang kusayang dan tak sempat berkunjung

Makassar, 07 Maret 2016
#Alifah Nurkhairina.

Jumat, 26 Agustus 2016

Bisik Rindu

Kamis, 25 Agt 2016
# Gowa, 22.36 WITA


Malam ini, kuambil sang pena dan kertas putih. Kusatukan semua rasa yang perlahan hinggap. Yang tak hentinya mengusik. Kutuangkan semua perihal tentangmu. Karena yang kutangkap ada cinta dimatamu.
Malam ini, tepat disaat rindu telah menggebu-gebu. Kusandarkan raga ini di sudut ruang tak terlihat. Kuadukan bagaimana kau telah indah dihadapku. Tentang bagaimana kau telah mencuri perhatianku lebih dan tentang hebatmu menciptakan kenangan sempurna.
Malam ini, dikota yang berbeda. Rindu melayang terlalu jauh. Alun kotamu yang begitu romantis, menjadi penjagamu disepinya malam. Kau larut dalam sibuk yang luar biasa. Bahkan kau tak pernah sadar ada harap yang bergejolak, ada hati yang tulus menanti, sampai kau benar-benar terpukul, ada raga yang pecah bahagianya saat kau memberi kabar, dan ada senyum yang sudah dipendamnya sampai kau hadir kembali.
Kenapa waktu? kenapa kau baru menciptakan pertemuan singkat ini? sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk menambah kenangan yang ada. Kenapa jarak? Kenapa kau begitu sempurna menghancurkan temu? Sehingga rindu itu meluas setiap detiknya.
Malam ini, di kota tempatku menunggu, ada bisik yang kugemakan, "Selamat malam, Mas. Kuharap Jogja tak sedingin hatimu."

- Alifah Nurkhairina.

Jumat, 29 April 2016

Kado Spesial

Selamat Milad, Mama. Hari ini tiada yang pantas kupersembahkan selain doa dan tulisan ini. Untuk seorang malaikat yang rendah hati. Untuk seorang bidadari yang bersahaja namun cantik hatinya.

Disaat hatimu resah, kembali kau teringat kepada kami. Anak - anakmu yang tengah berjuang menjemput sukses. Kembali lagi kami disapa oleh lambaian rindu dan bisikan doa. Sesuatu yang kami rindukan saat beranjak. Kembali lagi kami merasakan seruan semangat. Dari suara telepon di seberang sana. Selalu ada cerita yang terlontarkan. Bahkan tak jarang pula terdengar tangis yang tertahan.

Maaf atas segala khilaf yang pernah tercipta. Maaf atas segala kekurangan yang pernah ada. Maaf atas perlakuan kasar yang sempat hadir. Maaf atas ketidaknyamanan saat kami memberontak. Maaf atas segala hal yang membuat mu susah.

Terima kasih atas doa di sepertiga malammu. Terima kasih sudah menopang saat kami tumbang. Terima kasih atas masakan yang selalu nikmat di setiap saat. Terima kasih sudah menjadi rumah untuk kami berlindung. Terima kasih sudah setia menunggu sampai kaki kami menginjak teras rumah. Terima kasih atas kasih sayang yang tak henti. Terima kasih atas ilmu dan bimbingan untuk menjadi manusia yang beretika. Kepada Allah dan kepada sesama. Terima kasih sudah menjadi istri yang sempurna bagi ayah kami. Terima kasih sudah memperkenalkan kami dengan Allah. Terima kasih sudah menyimpan sepotong surga untuk kami.

Mama, tersenyumlah. Saat kami pulang nanti, pastikan senyum itu tetap indah dan tetap terukir setia untuk kami, para jagoanmu. Terima kasih untuk mu mama, sang pemilik pelukan sempurna.😌

Selasa, 15 Desember 2015

Manis wajahmu, semanis Imanmu.




Awalnya biasa saja. Rasa yang sama yang terasa. Suasana yg tidak istimewa ketika bersama. Tidak ada apa-apa. Sedikitpun. Tapi tunggu.. ada yang menarikku. Ada satu hal yang membuatku berhenti sejenak dan berbalik arah. Rasa nya mulai beda. Orang ini beda. Kecintaannya kepada pencipta-Nya menakjubkan. Ah tapi ku fikir tak berapa lama dia akan berbeda kembali.

Lalu ku berjalan lagi. Namun kali ini rasa acuhku terkalah kan oleh rasa penasaranku. Ku berbalik arah lagi melihat sosok itu kembali. Masya Allah. Dia berdiri tegak mendirikan shalat. Bersemangat dalam berdakwah dan wajah yang basah akibat air wudhu selepas shalat yang mengingatkanku akan ayat Al-Qur'an "Maka Nikmat Tuhan Mana Lagi yang Kau Dustakan" :")

Lantas saat ini aku tak lagi beranjak pergi. Kini ku perhatikan dia agar aku bisa lebih tau akan apa yang dikerjakannya. Diam-diam ku belajar banyak dari dia. Lamunanku mulai kosong. Membayangkan segala hal yang memungkinkan timbul hayalan-hayalan aneh. Lalu ku mengambil air wudhu dan mulai mendirikan shalat. Selepas shalat, ku adukan semua perasaan ini kepada Allah. Mengadu tentang siapa sosok ini sebenarnya. Meminta petunjuk agar diri ini bisa terupgrade menjadi muslimah seutuhnya. Meminta petunjuk sekaligus meminta dipertemukan dengan pria yang Imannya menjamin. Sosok yang tengah memperbaiki dirinya untuk bertemu denganku. Sosok yang telah dituliskan takdirnya untuk tua bersamaku, untuk jadi pemimpinku didunia dan di surga nanti. Ya Allah maafkan aku jika memang ini zina. Tapi setelah mengenalnya. Aku lebih rajin dalam ibadah. Namun seiring berjalannya waktu. Aku mengubah niatku. Dan Inshaa Allah aku beribadah karena bentuk ketaatanku kepadamu, Ya Allah.

Benar-benar ku berharap bisa belajar darinya, agar bertambah kecintaanku kepadamu, ya Rabb. Sesungguhnya aku tau ini adalah dosa. Tapi inilah yang kurasakan saat ini. Mengagumi sosok yang memprioritaskan Tuhannya diatas segalanya. Seseorang yang mengingatkan ku akan tugasku sebagai hamba. Aku jatuh cinta akan ketaatannya kepadamu. Ya Rabb, jagakan dia untukku. Jika diizinkan, simpankan dia untukku :)

Rabu, 30 September 2015

Adakah?


Pertanyaan ini sering sekali mengganggu fikiranku dikala hati dan raga ini meronta ingin selalu berada disampingmu. Saat doa yang slalu kupanjatkan untuk menyentuhmu terkalahkan oleh keberanian jiwa untuk bertindak. Saat dimana kita berada di titik nyaman namun menyakitkan. Bolehkah aku slalu di dekatmu? Meski yg lain berkata tak mungkin? Bolehkah aku berbahagia bersamamu? Bolehkah aku berusaha membuatmu tersnyum krnaku? bolehkah aku nyata dalam hidupmu?

Lamunan lamaku tak pernah berubah. Hanya menjadi impian yg habis dimakan gengsi. sayang skali kau sudah terikat dengan seseorang. Dia bukan seseorang yg berarti di hidupmu, tapi kamu berarti di hidupnya. Disini lah kekuatan hati di uji. Gadis mana yg kokoh melihat org yg di sanjungnya brsama cewek lain tengah bersama. Yg sakit tak tahan tanpa harus di beritahukan. Gadis yg tangisnya meledak-ledak kendati tak tau harus berbuat apa. Gadis yg hanya mengandalkan kekuatan doa dari sang Cipta. Bolehkah aku berjuang?
Bolehkah aku jatuh cinta, Tuhan?