Minggu, 26 Februari 2017

Once I was 20 y'old

25 Februari 2017
Makassar, 03.15 WITA

Hari ini, tepat 2 dekade perjalananku. Menjelma menjadi gadis yang tumbuh dengan gaya hidup yang kuyakini tak semudah yang kukira. Sebagian kisah klasik hidup telah menerpaku. Mulai dari kisah keluarga yang mengharukan. Bagaimana ketika kami dipisahkan karena tuntutan dunia. Tentang pencarianku terhadap seorang sahabat yang sampai saat ini belum kutemukan dan tentang beberapa orang yang berhasil menciptakan hal yang menakjubkan, entah membuat suka maupun luka yang berkesan.

Diusia ini, aku sudah mulai beradaptasi tentang kejamnya dunia. Dan tak kala juga aku mudah terlena dengan hingar bingar di kehidupan fana. Sebenarnya aku masih terlalu belia untuk bermain didalamnya. Namun, menyerah bukan satu-satunya jawaban. Hari ini, masih banyak mimpi yang belum berani kukejar. Bukan, bukan karena aku pengecut. Ini karena aku masih ragu melangkah sendiri. Aku masih bingung mengambil keputusan saat ada dua pilihan yang berat. Aku memang belum berani. Hari ini, masih ada banyak harap yang berlabuh tinggi. Masih ada niat yang mesti diperbaiki. Namun langkah kaki masih terlalu kecil, belum mampu mengambil jarak yang penuh resiko. Dan masih, hari ini, aku belum berani.

Hari ini perlahan ku renungkan lagi, setelah 20 tahun sudah aku berdiri. Bilakah saya masih lemah, aku akan tumbuh jadi manusia yang tak berdaya. Dan jika hari ini masih aku berfikir seperti itu. Tak akan ku jumpai besok hari yang lebih menantang. Tak akan pernah ada petualangan baru yang mau berkawan denganku. Hari ini, diumur yang baru. Doa kupanjatkan kepada Rabbku. Agar kelak dia datangkan kebahagiaan untuk dunia dan akhiratku. Agar kelak Dia pertemukan ku dengan orang yang menyayangiku. Teruntuk Ayah dan Ibu, anak gadismu satu-satunya telah dewasa, kiranya jangan berhenti mendoakan. Karena segala suksesku berasal dari doamu yang tak pernah henti. Teruntuk saudara laki-lakiku. Jangan pernah berhenti berjuang. Seseorang akan bernilai jika dalam hidup mereka seimbang antara usaha dan doa. Jangan pernah berhenti. Sama-sama kita berjalan. Dan semoga kelak dihadirkan kepadaku, sesosok pemuda yang mampu menemaniku melangkah, sehingga tak ada lagi takut yang ku simpan sejak lama. Sehingga lebih berani aku mengambil keputusan karena sarannya. Sehingga dialah satu-satunya alasan aku selalu bersyukur karena kelembutan hatinya. Dan tak ada lagi alasan untukku mengeluh, karena dialah satu-satunya tempat pulang yang setia menanti.

Semoga aku menjumpaimu diwaktu yang indah.
Dan terima kasih untuk kalian yang berkontribusi dihidupku selama ini :)

Sabtu, 28 Januari 2017

Dibalik kisah mu

Aku mengenal seorang pria. Dia kini tepat berada dipulau yang berbeda dari rumahnya. Diawal keberangkatan tak ada sedikitpun ragu diwajahnya. Bahkan dia sangat senang ingin beranjak. Salam perpisahan pun mulai dilemparkannya. Ada sedikit haru yang hampirku tampakkan. Namun kusimpan bersama doaku saat itu juga "semoga sukses, Allah menjagamu :')"

Pesawat itu mulai menjauh dari kami. Membawa salah satu pemuda yang kami cintai. Melepasnya adalah sebuah keputusan bodoh yang harus kami jalani, Entah sampai kapan sampai dia benar-benar kembali.

Setelah lama merantau pemuda ini mulai sibuk dengan dunia barunya. Pemuda ini sudah mulai berpaling perhatiannya dari kami. Kami pun sedikit lega. setidaknya dia sudah nyaman dengan suasana baru dengan siapapun yang dia panggil teman disana. Pemandangan ini mulai tak kusuka. dia mulai lepas dari jangkauan. Meskipun begitu kubiarkan dahulu. mungkin saja memang ini sudah saatnya menghancurkan ego.

Berlama-lama disana, aku sudah mulai lelah dengan rindu. Entah bagaimana lagi caraku mengusirnya. Era modern membantuku walau hanya sedikit. Postingan foto yang kau pamerkan membuatku sedikit hilang resah. Kulihat kau begitu aktif bersosialisasi. Kau juga sering berjalan-jalan. Aku juga mendengar dari rekan-rekanmu kau adalah pemimpin yang bijak. Senang aku mendengarnya. Wah sungguh enak hidupmu disana. Seandainya kau bisa mengajakku kesana, aku juga ingin mengenal duniamu, hingga aku tau kenapa kau begitu asik disana. Tapi aku takut. Ternyata pulau jawa menawarkanmu berbagai keindahannya. Aku takut, kau mulai lupa Sulawesi. Aku takut kau mulai lupa pulang :( dan aku takut kau mulai lupa tujuan mu untuk hijrah kesana :(

Aku tidak mau kau lepas dari pantauanku. Kulakukan berbagai cara agar tak hilang jejakmu selama disana. Sampai suatu saat benar-benar saya mendapati sebuah tulisan yang engkau tayangkan. dan mulailah kubaca semua dengan perlahan.

Ternyata, Kak. Selama ini kau menangis. Selama ini duniamu menekanmu. Selama ini batinmu sendiri. Dari tulisanmu yang kubaca kau begitu rindu dengan kami keluargamu. Kau begitu berharap agar pulanglah menjadi satu-satunya jawaban atas lelahmu. Kau sangat pandai dalam menyembunyikan perasaanmu selama ini. Satu hal yang baru aku tau, ternyata rindu mu lebih besar. Tapi kau ahli dalam mengatasinya atau bahkan menyembunyikannya. Seperti yang kau bilang, tidak ada kata terlambat untuk belajar. Belajarlah kak agar kau jadi manusia yang mulia. Belum terlambat kak, Belajarlah demi masa depanmu :)

Terima kasih kak, atas tulisanmu.
Mama selalu bilang kepada kita semua "menulislah, agar engkau dikenal"
Terima kasih atas petuah yang luar biasa.
Kau menjalankan peran mu dengan baik, Kak.
Terima kasih sudah menjadi inspirasi yang terbaik selama ini

Teruntuk kakakku tercinta.
Selamat berjuang Kak.
Salam hangat dari keluargamu disini. Sayang kami kepadamu menembus lapisan langit paling tinggi.

Untuk Kak Tomy Rahmatwijaya.

Jumat, 16 Desember 2016

Jiwa Mudaku

Mengharap bebas namun selalu terbatas merupakan salah satu hal tersulit yang sering kujumpai. Dari balik jendela itu ku terfokus melihat sebuah kebebasan. Jiwa-jiwa muda yang berhamburan tengah mencicipi masa remajanya.  Seharusnya aku disana. Seharusnya aku melepas tawa di sudut yang kuinginkan. Kali ini aku merasa hilang akal.

Ini zamanku, dimana remaja sebayaku bebas melakukan hal apa saja yang mereka suka. Tak terkekang dan bebas melayang. Kemanapun dan kapanpun. Menghabiskan panjang hari bersama rekan sahabat. Menghancurkan deras malam di titik manapun mereka suka. Bersenang-senang dengan cara mereka. Cara unik bahkan cara yang paling tidak rasional sekalipun.

Ini masaku, dimana pemudi-pemudi lain bebas mengekspresikan segala hal. Bebas membagi kesehariannya lewat sebuah telpon genggam. Menceritakan segala hal bahkan sesuatu yang bersifat pribadipun menjadi santapan orang banyak, apapun yang penting dunia harus tau!

Ini suatu batasan yang cukup mengganggu. Terkadang saya ingin menjadi mereka. Menjadi seseorang yang tumbuh di dunia luar yang kuharapkan. Menjadi kartini muda yang gaul yang dikenal banyak orang karena foto yang dipostnya menjadi viral, atau mengabarkan keseharianku lewat video singkat yang ku bagikan secara gratis kepada mereka yang tak ku kenal. Terkadang saya ingin bebas lepas. Pergi ke tempat yang hitz dan menghabiskan uang yang kupunya demi suasana kedai yang nyaman dan segelas kopi yang nikmatnya sesaat. Membeli aneka macam baju yang brandnya oke punya. Terkadang saya iri melihat sebayaku bebas bergaul dengan siapa saja tanpa batas tak ada larangan dari sudut pandang manapun. Menjalin hubungan dengan pria yang dicintainya. Membiarkan orang lain melihat rambut indahnya, dan bebas berpakaian sesuka hati. terkadang ingin itu mengusikku selalu.

Lalu apa selanjutnya? kenapa aku tidak membuka pintu lalu menghampiri mereka? Itu sangat mudah. Lalu pergilah kutemui kebahagiaan yang selama ini ku dambakan?
Namun, kurasa tidak. Aku masih punya keluarga. Masih ada orang tua yang membutuhkan ku. Masih ada kepercayaan dari mereka yang masih ku genggam. Selama ini aku salah, kebahagiaan dengan menghabiskan waktu dan biaya yang banyak bukan suatu bentuk membunuh lelah dan berjumpa bebas. Aku tau betul bagaimana mereka banting tulang demi rupiah-rupiah yang dicarinya. Aku tau betul jam berapa mereka harus keluar untuk menjemput rezeki. Aku tau betul bagaimana pengorbanannya sampai saya ini bisa menulis seperti ini. Aku tau betul baju dan bagaimana mereka sampai di tempat kerjanya. Aku tau betul di lingkungan mana mereka habiskan hari kerja. Namun, ada sesuatu yang tak pernah aku tau. Bagaimana mereka mengeluh dengan lelah yang selama ini mereka sembunyikan, sungguh aku tak pernah tau itu.

Ketahuilah sampai ku temukan jawaban dari semua pengharapan, inilah masaku. Menghabiskan waktu muda ku bersama keluarga. Hal yang tidak dapat terbayarkan oleh apapun. Menghabiskan malam dengan candaan hangat mengingat sesuatu yang telah lalu. Inilah masaku, dengan tidak menambah beban mereka atas pergerakan kecilku yang akan mengganggu batinnya. Aku masih tanggungannya. Aurat yang kubiarkan terbuka menjadi tanggungan dosa Ayahku. Sifat dan sikapku mencerminkan bagaimana mereka mendidikku. Dan inilah masaku menjaga mereka sampai habis sanggupku..



Tampak gerimis telah datang. Hal itu ku ketahui dari basahnya tepi jalan yang terus kuperhatikan dengan tatapan kosong. Teringat lagi kepada mereka. Dimana mereka? Apa mereka kehujanan? Bagaimana mereka melawan dingin? :(
Jangan pernah lepaskan ku tanpa bekal doa dan restumu Ayah, Mama.... Sang pemilik senyum peneduh resah dimana pun ku berada.

Wahai kawulah muda, mari berpikir lagi. Mari mengingat untuk tidak menghabiskan masa muda kita dengan hal yang sia-sia. Saya lebih memilih menjadi terasing daripada harus meninggalkan mereka di rumah. Mari mengembangkan potensi diri. Jangan takut menolak untuk hal yang tidak penting. Masa muda jauh lebih indah saat kau mampu berbakti kepadanya. Mari bahagiakan mereka sesuai harapnya. Menjadi sosok yang membanggakan dan bermanfaat jauh lebih mulia :)


#Alifah Nurkhairina
Bulukumba, 11 Desember 2016 12.12 WITA

Rabu, 02 November 2016

Malam, dia saksinya.

Rabu, 02 November 2016
Gowa, 17.08 WITA




Aku bertemu dengan satu minggu yang hebat. Singkat cerita menggores banyak kenangan. Terlalu banyak hal yang baru mulai membekas. Terima kasih karena telah menciptakannya.
Aku bertemu dengan satu minggu yang istimewa. Menelusuri malam mencari ketenangan. Di sudut kota sampai tak terlihat. Terima kasih karena selalu ada dan mengawali pertemuan dengan rasa yang beda. Aku menikmatinya.
Aku larut dalam satu minggu yang berkesan, dengan kau, orang yang tak sengaja ku kenal. Berjelajah meninggalkan rutinitas membosankan dengan bermodalkan motor tua. Menghantam jahatnya angin malam yang menggila. Demi menjajaki beberapa tempat dan mengukir cerita untuk bernostalgia nantinya. Lelah? Ah tidak! Aku menikmatinya bahkan aku bahagia, karena malamku, malammu habis dimakan tawa.

Kesenangan ini tiba-tiba diporak-porandakan oleh SIBUK. Yah, musuh abadiku. Memaksa untuk dirangkul, meronta kepadamu untuk ditemani kembali, mengalihkan perhatianmu sesukanya. Apa daya kita hanya anak kecil yang diperbudak kehidupan fana, Terpisah dulu..

Sekarang pergilah, temui dan hancurkan sibuk itu sama-sama kita kejar sukses. Lalu kembali lagi mengukir hal yang lebih hebat, dengan senyum yang sama. Karena aku masih berharap akan ada satu minggu selanjutnya yang lebih indah atau bahkan lebih. Lalu kembalilah, aku masih butuh teman cerita untuk kuadukan semua isi hariku yang melelahkan. Dan kembalilah, aku masih ingin melihat senyum itu nyata dan pandangan sempurna matamu sebagai penyemangat. Kubiarkan waktu memainkan perannya, kubiarkan jarak memainkan situasi dan kupercaya doa akan membuktikan dahsyatnya.

#Alifah Nurkhairina.

"Dan kau berhasil mengubah persepsiku tentang pertemuan singkat. Kau mengindahkannya. Sekarang dia punya ruang tersendiri di hati. Berdiam, bertahta dan tenang. Terima kasih telah menciptakan senyum diujung malamku.."
-InalifahN

Rabu, 21 September 2016

Hujan

Bersama derasnya hujan
Menari-nari dibawah sinaran lampu jalan
Mulai jatuh bulir-bulir kenangan
Yang hinggap lalu meninggalkan keresahan

Berjalanlah insan itu diantaranya
Seorang diri bagai kehilangan asa
Ada luka di alun-alun kota
Ada air murni dari pelupuk matanya

Terhentinya dia setelah lelah melangkah
Berusaha menahan pilu yang mendesah
Adakah mereka yang tersentuh
Memberikan pelukan yang sempurna dan utuh



#Alifah Nurkhairina.

Senin, 19 September 2016

Rumahku, Bumi Pertiwiku

Makassar, 11 Agustus 2015


Pancaran sinar fajar dibalik sela-sela kayu itu mulai nampak
Seakan membangunkan ku dari indahnya kehidupan mimpi
Seakan memaksaku untuk bersyukur kembali atas bumi yang ku pijak
Di rumah sederhana, bersama mereka yang aku cintai

Rumahku, rumah kami, rumah kita
Yang begitu menakjubkan dan kan selalu ku banggakan
Rumah yang terbagi atas berbagai pulau yang luar biasa
Yang terbentuk atas pondasi perbedaan

Atas dasar keyakinan dia lahir
Atas berbagai upaya dia tercipta
Atas kekuatan doa dia bersinar
Dan atas restu Sang Kuasa dia tetap ada

Rumahku, Bumi Pertiwiku
Tempatku menghabiskan hari-hariku
Berteduh dari kerasnya kehidupan dunia
Berharap akan terus disana, sampai menghadap Sang Pencipta

Masih adakah asa agar rumah ini tetap berjaya?
Adakah secercah harapan untuk rumah ini agar tetap kokoh dan gagah?
Akankah rumah ini berdiri megah diantara istana-istana disana?
Bumi Pertiwiku, bangunlah, kau masih yang terindah.


# Alifah Nurkhairina.

Minggu, 18 September 2016

Hai anak Rantau

Inilah kami berada dilangkah awal kesuksesan
Berusaha menahan tangis yang berlapis senyuman
Adakah kami akan dirindukan
Agar kelak kembali kami yang didambakan

Seperti menjadi terlahir kembali
Berbekal doa dan keyakinan hati
Berjalan menapaki kehidupan yang begitu kejam ini
Yang memisahkan raga dengan orang terkasih

Kabar kami bak senja di waktu mendung
Dinanti tapi terkadang mesti meraung
Kiriman doa yang tak bisa lagi terbendung
Dari kalian yang kusayang dan tak sempat berkunjung

Makassar, 07 Maret 2016
#Alifah Nurkhairina.